Ghazwul Fikr

“Habisi” Bahasa Arab untuk Musnahkan Peradaban Islam

“Habisi” Bahasa Arab untuk Musnahkan Peradaban Islam

PASCA dihapusnya kekhalifahan Al Utsmani Turki,  Musthafa Kamal Ataturk pemimpin baru Turki saat itu mengambil beberapa langkah dalam melakukan proses “baratisasi” untuk menghapus secara total peninggalan kekhalifahan Al Utsmani. Salah satu langkah yang ditempuh adalah dengan pelarangan penggunaan bahasa Arab, bahkan untuk shalat. Bahasa Turki sebagai gantinya. Demikian juga melarang penulisan bahasa Turki dengan huruf Arab. Ketika ditanya poleh para ulama mengenai langkahnya itu, Musthafa Kamal menjawab,”Apakah Allah tidak paham bahasa Turki?”

Musthafa Kamal pada3 November tahun 1929 merumuskan  bahwa bahasa Turki ditulis dengan huruf latin, setelah sebelumnya dengan huruf Arab, lalu mengirim para utusannya hingga ke desa-desa dengan membawa papan tulis untuk mengajari tata cara penulisan baru itu. (lihat, Turkiya Min Ataturk ila Erbakan, hal. 74,75)

Penghapusan pengguanaan bahasa Arab cukup penting bagi Ataturk dalam melakukan “baratisasi” Turki. Apa yang dilakukan Ataturk adalah jawaban dari upaya negara-negara Eropa dalam melakukan penjajahan.

Memerangi bahasa Arab juga dilakukan pihak Inggris ketika ia menjajah Mesir. Tatkala Muhammad Ali Pasha berkuasa, ia menjadikan bahasa Arab sebagai resmi negara dan merupakan bahasa pengantar dalam pengajaran. Saat itu juga didirikan  sekolah pendidikan kedokteran yang menggunakan bahasa Arab, demikian juga pengajaran ilmu-ilmu modern, dengan menggunakan bahasa Arab.

Namun ketika Inggris melakukan penjajahn terhadap Mesir pada tahun 1883, mereka memaksa pengajaran di sekolah kedokteran dengan bahasa Inggris.

Dari awal penjajahan Inggris terhadap Mesir, terungkap bahwa salah satu tujuan penjajah adalah pemusnahan bahasa Arab. Dimana Lord Duffrin yang menerima mandat Inggris atas Mesir berkata,”Sesungguhnya harapan untuk memperoleh kemajuan di Mesir lemah, selama warganya berbicara bahasa Arab secara fasih.” (lihat, Madhal ila Fiqh Al Lughah Al Arabiyah, hal. 154,155)

Bukan hanya Mesir, pada waktu itu pengajaran di negeri-negeri Arab yang dijajah menggunakan bahasa asing. Untuk Mesir, Sudan dan Iraq menggunakan bahasa Inggris dan untuk Suriah, Aljazair, Tunis dan Maroko menggunakan bahasa Perancis.

Bahasa Arab Pilar Peradaban

Penjajah manejadikan bahasa Arab sebagai “target” karena mereka amat memahami, bahwa bahasa Arab memiliki peran kunci dalam tegak dan bangkitnya peradaban Islam. Karena peradaban Islam sendiri tegak di atas dua hal, bahasa Arab dan syariat Islam. Dimana ketika ajaran Islam menyebar luas, maka bahasa Arab segera mengganti posisi bahasa Latin, Koptik, Yunani, Suryani dan lainnya. (lihat, Muhadharah fi Tarikh Al Aslami wa Al Hadharah Al Islamiyah, hal. 7)

Bahasa Arab sendiri telah menjadi bahasa ilmu pengetahuan, lebih-lebih ketika Khalifah Al Ma’mun Baghadad mencetuskan gerakan penerjemahan buku-buku keilmuan dari Bizantium ke bahasa Arab, dan akhirnya para ilmuwan Muslim bermunculan hingga pusat keilmuwan pun berpindah ke kota-kota Muslim, seperti Baghdad, Damaskus, Kairo atau Qairawan dan lainya.

Selanjutnya para ilmuwan Eropa pun berbondong-bondong ke Andalusia untuk mempelajari bahasa Arab, dan melakukan gerakan penerjemahan ke bahasa Latin, hingga ilmu yang sekianl lama”dijaga” oleh bahasa Arab akhirnya mulai menerangi Eropa dari masa kegelapan.

Dengan demikian, umat Islam perlu waspada terhadap segala perendahan atau pelecehan terhadap pahasa Arab. Juga umat Islam sendiri perlu untuk mempelajari dan menghidupkannya.*

Rep: Sholah Salim

Editor: Thoriq

Update aplikasi Hidcom untuk Android Sekarang juga !

Sebarkan :

Baca Juga

Afrakids