frontpage hit counter
Mimbar

Islam dan Singa yang Tertidur

Islam dan Singa yang Tertidur
abdus syakur/hidayatullah.com
Jutaan massa Reuni Alumni 212 memadati Lapangan Medan Merdeka Monas, Jakarta, Sabtu (02/12/2017). Sejak sebelum subuh massa sudah hadir. Tampak jamaah usai shalat subuh.

Oleh: Helmiyatul Hidayati

 

Muhammad Al Fatih (Mehmed II), hanyalah seorang anak kecil ketika ia diangkat menjadi Sultan. Usianya kala itu masih 12-13 tahun. Ayahnya, Sultan Murad II memutuskan untuk hidup tenang di usianya yang tak lagi belia di barat daya Anatolia, turun dari posisinya sebagai sultan dan mengangkat Mehmed II sebagai pengganti.

Seorang anak kecil menjadi sultan? Apa yang bisa dilakukan? Ketika anak seusianya di jaman sekarang sibuk dengan gadget, Mehmed II telah sibuk memikirkan urusan negara.

Ketika anak seusianya di jaman sekarang sibuk main kucing-kucingan dengan orang tuanya demi bisa bermain dengan teman-temannya. Mehmed II dikelilingi oleh orang-orang dewasa, berpengalaman dan memandangnya remeh.

Para penjilat, kelompok kafir dan kelompok munafik sibuk berebut kekuasaan dan membuat propaganda. Melengserkan sultan kecil yang masih ingusan. Usaha mereka berhasil. Mehmed II kembali ke Amasya sebagai seorang murid yang kembali kepada gurunya, Syeikh Syamsuddin dan Syeikh Al Qurani.

Mehmed II meninggalkan Edirne yang mencatatnya sebagai “sultan gagal”.

Baca: 564 Tahun Jatuhnya Konstantinopel [1]

Kembali ke Amasya, ia tak ingin gagal sebagai murid. Menebus kegagalannya sebagai Sultan, Mehmed II mempelajari (lagi) ilmu-ilmu agama seperti Al-Qur’an, Hadits, Fiqih, Bahasa, Matematika, Sejarah, Ilmu Peperangan dsb.

Hingga hari itu tiba, hari dimana ayahnya mangkat dan ia harus kembali ke Edirne. Untuk kembali menjadi Sultan, Khalifah bagi ummatnya.

Ia berangkat dari Amasya dengan barisan pasukan yang tak seberapa. Tiba di Edirne, para penjilat, para munafik, para nyinyiers yang telah melengserkannya dahulu menjadi terbelalak, ternganga. Pemuda yang telah mereka lengserkan ketika berusia 13 tahun datang kembali seperti Singa yang telah terjaga dari tidurnya.

Membawa pasukan yang tidak sedikit!! Pasukan yang tak seberapa itu ternyata bertambah di setiap perjalanan yang ia lewati. Konon kelak, pasukan itu adalah bagian kecil dari pasukan andalan yang menaklukkan Konstatinopel.

Pada akhirnya, sejarah mencatat Mehmed II sebagai Sang Penakluk, sebagai pemimpin terbaik yang disebut-sebut dalam bisyarah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam, “Kalian pasti akan membebaskan Konstatinopel, sebaik-baiknya pemimpin, adalah pemimpin pada saat itu. dan sebaik-baiknya pasukan adalah pasukannya.”

Ya, sultan kecil ingusan yang pernah dilengserkan oleh orang-orang di sekitarnya, yang pernah diremehkan dan direndahkan dan suaranya tak dianggap sekalipun pangkatnya Sultan. Di tangannya, pada usia 21 tahun, Konstatinopel ditaklukkan.

Baca: 564 Tahun Jatuhnya Konstantinopel [2]

Menjadi mayoritas di sebuah negeri, harusnya membuatnya menjadi berjaya dan berdaya. Namun tidak bagi muslim di Indonesia. Bersabda Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam “Hampir tiba masanya kalian diperebutkan seperti sekumpulan pemangsa yang memperebutkan makanannya.” Maka seseorang bertanya: ”Apakah karena sedikitnya jumlah kita?” ”Bahkan kalian banyak, namun kalian seperti buih mengapung. Dan Allah telah mencabut rasa gentar dari dada musuh kalian terhadap kalian. Dan Allah telah menanamkan dalam hati kalian penyakit Al-Wahan.” Seseorang bertanya: ”Ya Rasulullah, apakah Al-Wahan itu?” Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: ”Cinta dunia dan takut akan kematian.” (HR Abu Dawud 3745)

Penduduk yang 200 juta itu terkadang tak berdaya hanya sekedar menjalankan perintah agamanya sendiri. Ketika menolak pemimpin kafir sebagai bagian dari mengamalkan Surat Al-Maidah:31, harus menerima cap sebagai radikal dan intoleran.

Setahun yang lalu, pada 2 Desember 2016, jutaan orang turun ke jalan menggelar Aksi Bela Islam (ABI 212). Menuntut keadilan kepada penguasa agar penista agama yang notabene seorang guberner DKI Jakarta pada waktu itu diproses sesuai hukum.

Suatu ketika Muhammad Al Fatih pernah dipukul oleh Syeikh Syamsuddin tanpa alasan. Namun karena rasa hormatnya yang begitu besar pada sang guru, saat itu ia tidak berani untuk bertanya atau protes. Ketika ia telah resmi menjadi sultan, maka diungkapkanlah ‘kegundahan’ itu pada sang guru tentang kedzaliman yang telah ia terima sewaktu ia masih kecil.

Bukannya marah atau berkelit dengan mengatakan bahwa telah lupa pada kejadian yang telah lama berselang, Syeikh Syamsuddin malah tersenyum dan berkata, “Aku sudah lama menunggu datangnya hari ini. Di mana kamu bertanya tentang pukulan itu. Sekarang kamu tahu nak, bahwa pukulan kedzaliman itu membuatmu tak bisa melupakannya begitu saja. Ia terus mengganggumu. Maka ini pelajaran untukmu di hari ketika kamu menjadi pemimpin seperti sekarang. Jangan pernah sekalipun mendzalimi masyarakatmu. Karena mereka tak pernah bisa tidur dan tak pernah lupa pahitnya kedzaliman”

 Setahun yang lalu ABI 212 memang digelar dengan tujuan menuntut penista agama. Sekalipun tujuan itu telah tercapai. Kedzaliman setelah itu masih banyak terjadi. Tak heran jika geliat semangat 212 tetap bergulir seiring dengan banyaknya ‘kontroversi’ keputusan politik yang dibuat oleh penguasa.

Baca: Aksi 212 dan 5 Fenomena Lahirnya Generasi Baru Islam Indoensia

Pemerintah membubarkan  Hizbut Tahrir Indonesia (HTI)  tanpa peradilan, selain menyalahi asas demokrasi yang pemerintah yakini sendiri juga memberi kenangan pahit layaknya sebuah pukulan kedzaliman. Rakyat tak bisa tidur dan tak pernah lupa pahitnya kedzaliman itu.

Seorang Kapolres bahkan pernah  menyebut takbir sebagai salah satu ciri ‘teroris’ yang ujungnya menimbulkan kemarahan dan luka yang mendalam bagi ummat.  Entah berapa banyak lagi orang penting yang melakukan penghinaan pada agama Islam.

Meskipun begitu, seperti tahun lalu, #ReuniAkbar212 pun mendapat banyak tudingan miring : berbau politis, menunggangi elite politik tertentu; menghambur-hamburkan waktu, uang dan tenaga; kegiatan orang-orang tak punya kerjaan dsb.

Umat Islam memang banyak, namun tak kuat secara politis, pukulan kedzaliman pun diumbar dengan manis. Hanya dengan mempererat persatuan kita akan punya kekuatan untuk menentukan kebijakan. Mencegah negeri ini dari sekuler, liberal dan komunis.

Jika umat ini diibaratkan singa, ABI212 dan #ReuniAkbar212 hanyalah geliat kecil dari auman singa Islam yang tertidur. Mungkin ini salah satu awal dari persatuan umat Islam dari berbagai aspek. Suatu saat nanti singa itu akan benar-benar terjaga dan mengaum.*

Seorang Blogger dan Anggota Komunitas Menulis Revowriter

 

Rep: Admin Hidcom

Editor: Cholis Akbar

Update aplikasi Hidcom untuk Android Sekarang juga !

Sebarkan :

Baca Juga