frontpage hit counter
Opini

Spekulasi “Memburu” Habib Rizieq: Red Notice Ditolak, Blue Notice Diajukan

Spekulasi “Memburu” Habib Rizieq: Red Notice Ditolak, Blue Notice Diajukan
ISTIMEWA
Habib Rizieq Shihab di Masjid Istiqlal, Sabtu (11/02/2017)

Oleh: Rangga Lukita Desnata

 

PIHAK Kepolisian baru-baru ini menjelaskan,  karena Red Notice untuk Habib Rizieq Shihab (HRS) yang diajukan ditolak Interpol,  maka polisi akan mengajukan blue notice. Agar mudah ‘memburu’ Habib Rizieq.

Ada beberapa hal yang layak dikaji.  Dalam Pasal 2 ayat (2) Constitution Of The International Criminal Police Organization-Interpol (Konstitusi Interpol) menyatakan Interpol dibentuk dan dikembangkan guna memberikan kontribusi secara efektif untuk mencegah dan memberantas kejahatan yang menurut hukum sebagai kejahatan luar biasa (ordinary-law crime).

Dibawah ini saya cuplikkan beberapa poin-poin Konstitusi Interpol;

“To establish and develop all institutions likely to  contribute  effectively  to  the  prevention  and suppression of ordinary law crimes.” Arti dari ordinary-law crimes sendiri menurut Pasal 1 ayat (1) Interpol’s Rules On The Processing of Data (RPD) adalah segala kejahatan dengan pengecualian yang termasuk ruang lingkup Pasal 3 Konstisusi Interpol, dan kejahatan-kejahatan tersebut telah ditetapkan oleh Majelis Umum “Ordinary-law  crime  means  any  criminal offences,  with  the  exception  of  those  that  fall within the  scope of application of  Article 3 of the  Constitution  and  those  for  which  specific rules  have  been  defined  by  the  General Assembly.”

Adapun pengecualian yang menjadi ruang lingkup Pasal 3 Konstitusi Interpol tersebut adala larangan turut campur pada kegiatan yang berhubungan dengan politik, militer, agama dan rasial.  “It  is  strictly  forbidden  for  the  Organization  to undertake  any  intervention  or  activities  of  a political, military, religious or racial character.”

Berkaitan dengan permintaan notice kepada Interpol, Pasal 34 RPD menegaskan syarat utamanya adalah tidak bertentangan dengan Pasal 2 dan Pasal 3 Konstitusi Interpol, yaitu: 1) Hanya untuk kepentingan kerjasama polisi internasional yang saling menguntungkan; 2) Hanya untuk Ordinary-law crime; dan 3) Bukan sebagai campur tangan permasalahan politik, militer, agama dan rasial. Ketiga syarat tersebut merupakan syarat mutlak untuk menjamin spirit penghormatan terhadap Hak Azasi Manusia sebagaimana ketentuan Pasal 2 ayat (1) Konstitusi Interpol, dan menjamin agar Interpol bekerja semata-mata untuk kepentingan bersama dari anggotanya dalam mencegah dan memberantas kejahatan luar biasa (ordinary-law crime) tanpa tendensi terlibat dalam campur tangan persoalan politik, militer, agama dan rasial di negara anggotanya.

Dalam hal wacana permintaan penerbitan Blue Notice Habib Rizieq Shihab (HRS), yang menurut Pasal 88 ayat (1) RPD bertujuan untuk memperolah informasi dan mengetahui lokasi subjek yang dimintakan, maka kepolisian mesti dapat meyakinkan Interpol ketiga syarat utama tersebut terpenuhi. Satu saja tidak terpenuhi, dapat dipastikan permintaan Blue Notice akan ditolak.

Tentunya Interpol tidak ingin dimanfaatkan untuk kepentingan subjektifitas salah satu anggotanya, serta menangani kejahatan-kejahatan berkarakteristik “lokal”.

Baca: Israel Klaim Berhasil Jegal Upaya Palestina Gabung Interpol

Syarat pertama yaitu menyangkut adanya kepentingan bersama yang saling menguntungkan dari anggota Interpol (Dunia international) bahwa kejahatan pornografi “chat WA” yang disangkakan kepada HRS sama sekali tidak terdapat dimensi Internasionalnya.

Hal ini dikarenakan dilihat dari karekteristik kejahatannya dan dari kacamata viktimologi, kejahatan pornografi “chat WA” tersebut termasuk crime without victim, yang bersifat personil (private matters), dan sangat tidak rasional untuk menjadikannya sebagai persoalan internasional.

Berkenaan dengan syarat kedua, Blue Notice tidak dapat diterbitkan kepada HRS yang disangka melakukan kejahatan pornografi karena pornografi tidak termasuk sebagai ordinary-law crime berdasarkan rilis Interpol, yang tentunya merupakan keputusan dari General Assembly berdasarkan Pasal 1 ayat (1) RPD.

Baca: Advokat: Dihubungkan dengan Habib Rizieq, Kasus Firza Banyak Kejanggalan

Menurut rilis tersebut hanya 19 kejahatan yang menjadi area penangan Interpol yaitu: 1. Kejahatan terkait penggunaan bahan CBRNE (Chemical, Biological, Radiological, Nuclear and Explosive); 2. Korupsi (Corruption); 3. Kejahatan-kejahatan terhadap anak (Crimes against children); 4. Kejahatan-kejahatan dalam bidang olah raga (Crimes in sport); 5. Kejahatan siber/mayantara (Cybercrime); 6. Narkotika (Drugs); 7. Tindak pidana linkungan hidup (Enviromental crime); 8. Kejahatan keuangan (Financial Crime); 9. Kejahatan penggunaan senjata (Firearms crime); 10. Menyangkut pengusutan narapidana (Fugitive investigation); 11. Pembajakan di laut (Maritime Piracy); 12. Kejahatan Terorganisir (Organized crime); 13. Kejahatan dalam bidang farmasi (Pharmaceutical crime); 14. Terorisme (Terorism); 15. Perdagangan manusia (Trafficking human being); 16. Perdagangan gelap dan pemalsuan (Trafficking in illicit goods and counterfeiting); 17. Kejahatan menyangkut kendaraan (Vehicle crime); 18. Kejahatan Perang (War crime); 19. Kejahatan terhadap karya seni (Works art).

Menyangkut syarat ketiga yaitu penerbitan Blue Notice bukan sebagai campur tangan permasalahan politik, militer, agama dan rasial. Kepolisian akan kesulitan untuk meyakinkan Interpol mengenai hal ini, apabila dihadapkan kepada fakta bahwa perkara-perkara terhadap HRS termasuk penetapan tersangkanya pada kasus “chat WA” ini muncul setelah HRS aktif terlibat, dan menjadi faktor dominan dari “Aksi-aksi Besar” yang disinyalir sangat mengganggu penguasa politik.

Baca: Wacana Permintaan Red Notice terhadap Habib Rizieq Shihab

Jelaslah Interpol tidak mempunyai alasan yang cukup untuk menerbitkan Blue Notice terhadap HRS pada kasus “chat WA”, karena permintaan dari kepolisian tersebut tidak memenuhi syarat, terutama berkenaan dengan klasifikasi kejahatannya yang tidak termasuk ordinary-law crime.

Lebih tepat bagi kepolisian untuk tidak lagi berspekulasi membawanya ke Interpol. Apabila permintaan Blue Notice ini tetap diajukan dan kemudian ditolak sebagaimana permintaan Red Notice sebelumnya, pihak kepolisian akan menanggung malu untuk kedua kalinya, karena dianggap tidak mengerti mengenai tujuan dari pembentukan Interpol.

Belum lagi pihak kepolisian akan menghadapi “Bullying” Netizen yang menganggap permintaan Blue Notice tersebut terlampau mengada-ada, oleh sebab semua orang sudah tahu tentang kegiatan dan keberadaan HRS selama ini di Arab Saudi dan Yaman.*

Direktur Eksekutif Street Lawyer Legal Aid, dan Analis Hukum Pushami

Rep: Admin Hidcom

Editor: Cholis Akbar

Update aplikasi Hidcom untuk Android Sekarang juga !

Sebarkan :

Baca Juga

Kuliah Turki