frontpage hit counter
Opini

Anies-Sandi, Najwa, dan Upaya Pembusukan

Anies-Sandi, Najwa, dan Upaya Pembusukan
Youtube
Gubernur DKI Anies Baswedan di acara Mata Najwa

Oleh: Ady Amar

 

SEMALAM (24 Januari 2018) pemirsa televisi swasta nasional disuguhi “rapor” Anies-Sandi dalam 100 Hari kepemimpinannya di DKI Jaya. Apa saja yang telah dibuatnya dari 23 janji kampanye yang sudah dilaksanakannya?

Seratus hari memimpin pemerintahan di level apa pun itu bukanlah untuk mengukur kepemimpinan seseorang, berhasil atau tidak. Tapi seratus hari itu bolehlah jika untuk mengukur pemerintahan berjalan di jalur yang tepat atau tidak.

Media mainstream di republik ini melakukan penilaian seratus hari kepemimpinan Anies-Sandi sebagai pemimpin DKI Jaya dengan beragam tapi sealur. Bagaimana membuat opini bahwa Anies-Sandi gagal dalam menepati janji-janji kampanye.

Semalam kita disuguhi acara Mata Najwa, yang mewawancarai Anies dalam seratus hari kepemimpinannya. Anies berusaha menjawab pertanyaan yang diajukan Najwa Shihab dengan jawaban sebaik mungkin. Ada hal yang tidak biasa yang dipertontonkan Najwa, memotong-motong saat memberikan jawaban atas pertanyaannya. Sehingga pemirsa dibuat tidak dapat menerima jawaban narasumber (narsum) secara utuh. Bahkan Najwa terkesan membuat opini sendiri yang berujung pada kesimpulan bahwa seratus hari memimpin DKI, Anies-Sandi kurang berhasil bahkan gagal.

Baca: Adu Tegas Anies, Jokowi dan Ahok

Karenanya, banyak pemirsa kecewa dan bertanya-tanya, ada apa dengan Najwa. Apakah sinyalemen bahwa yang bersangkutan belum move on dengan kemenangan Anies-Sandi benar adanya? Sehingga yang tampak adalah semacam “pengadilan” buat Anies-Sandi. Tapi semalam kita dipertontonkan kematangan Anies yang tampil dengan tenang, tidak terjebak dalam suasana yang dibangun oleh Najwa. Ketenangan Anies itu layaknya seorang Ayah yang menghadapi anaknya yang kebetulan cerewet.

Ada empat tema besar pertanyaan yang menjadi andalan Najwa pada Anies, PKL Tanah Abang, Reklamasi, DP 0 persen, dan Pengoperasian Ijin Becak di DKI. Anies mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dengan begitu baiknya, tapi lagi-lagi Najwa tidak bersikap selayaknya. Memotong pembicaraan narsum dengan semaunya. Kita disuguhi tontonan dimana pembawa acara sekaligus merangkap sebagai narsum. Menggelikan …

Wawancara jadi asyik jika pertanyaan lalu dijawab oleh narsum, dan jika dirasa jawaban kurang responsif maka pertanyaan oleh si penanya dipertajam dengan pertanyaan yang lebih menukik. Tapi sayang, semalam itu tidak kita jumpai. Gaya Najwa dengan mata yang melotot-lotot, seolah ingin menampakkan kecerdasannya. Tapi yang tampak justru sikap arogan yang sebenarnya bukan kapasitasnya.

Baca: Anies: Tidak Ada Kompromi untuk Prostitusi

Dan, maaf, suara Najwa yang parau, suara khas Najwa itu, semalam terdengar bagaikan kumpulan burung gereja yang berkicau tak menentu, sehingga nada yang keluar cuma suara berisik yang tidak nyaman di telinga. Bukan nada indah menyejukkan hati, tapi nada tak beraturan yang membuat hati malah menjadi suntuk.

Pemirsa tidak tahu, apakah gaya yang dipakai Najwa memotong-motong pembicaraan itu bagian dari framing media. Tapi yang jelas framing media saat ini berkembang bermetamorfosa tidak hanya pada hal-hal membesar dan mengecilkan sebuah berita, tapi lebih jauh dari itu, yaitu membuat opini, dan itu bisa dengan segala cara dimainkan.

Dominasi media memelintir fakta atau bahkan membuat opini, akan terus kita jumpai jika seorang pemimpin berada di area zona tidak nyaman. Anies-Sandi adalah pemimpin yang memilih berada di zona tidak nyaman itu. Tidak nyaman bagi konglomerasi yang memaksakan kehendak agar bisnis mereka tidak terganjal pada aturan-aturan baku. Merekalah konglomerasi yang menguasai jaringan bisnis dari hulu hingga hilir, termasuk penguasaan atas media.

Maka media yang ada, yang memang milik jaringan konglomerasi, itu bekerja untuk “membabat” siapa saja yang coba menghalangi “jalan” mereka. Reklamasi yang “diganjal” Anies-Sandi, karena dianggap menyalahi berbagai aturan teknis prosedural, membuat mereka meradang, melakukan upaya sistemik untuk menggoyang Anies-Sandi terus-menerus.

Karenanya, media hari-hari ini menampilkan pemberitaan minor terhadap kerja-kerja Anies-Sandi. Mengkritisi sampai pada hal-hal yang absurd. DP 0 persen, belum-belum sudah distigma tidak akan berhasil. Anies-Sandi “membalas” stigma itu dengan melakukan peletakan batu pertama untuk pembangunan proyek itu.

Uang yang sudah ditanam oleh konglomerasi pada proyek reklamasi itu, oleh Anies-Sandi dibatalkan. Adagium “semua bisa diatur” menghadapi pejabat-pejabat negeri yang doyan sogokan, mati kutu menghadapi Anies-Sandi. Adagium itu menjadi tumpul, tidak bisa bekerja dengan baik.  Maka, adagium “pembusukan” pada Anies-Sandi dilakukan. Dan media adalah cara efektif untuk membuat opini di tengah-tengah masyarakat dengan pemberitaan yang sebaliknya.

Pertarungan ini akan terus berlangsung, dan sejarah akan mencatat siapa yang unggul dalam pertarungan itu. Warga DKI Jaya khususnya, mestilah cermat melihat itu semua, jika tidak ingin semuanya berhenti dengan kekalahan absolut.*

Pemerhati Sosial dan Keagamaan

Rep: Admin Hidcom

Editor: Cholis Akbar

Update aplikasi Hidcom untuk Android Sekarang juga !

Sebarkan :

Baca Juga

Umroh Akbar Arifin Ilham

Gedung PPH