frontpage hit counter
Internasional

Bisnis Startup Bahasa Arab Bantu Pengungsi Suriah Mandiri

Bisnis Startup Bahasa Arab Bantu Pengungsi Suriah Mandiri
Al Arabiya
In this Thursday, Jan. 21, 2016 photo, a Syrian refugee boy holds up a placard in Arabic, during class at a remedial education center run by Relief International in the Zaatari Refugee Camp, near Mafraq, Jordan. UNICEF, the U.N. agency for children, estimates that more than half the refugee children in the region, or more than 700,000, are not in school. Some drop out to work and help struggling families, or because they missed too much school and can't catch up. Others are told there's no room in crowded local schools. Writing on sign in Arabic reads: Giraffe. (AP Photo/Raad Adayleh)

Hidayatullah.com– Sebuah bisnis startup baru di AS bernama ‘NaTakallam ’ yang berarti “kita bicara” dalam Bahasa Arab ini yang bertujuan untuk membantu kesulitan para  pengungsi Suriah menjadi mandiri dengan menjual kemampuan bahasa Arab mereka, kini semakin populer, ungkap founder NaTakallam  seperti dikutip oleh AlArabiya.net, Jumat (19/02/2016)

Situs NaTakallam  memungkinkan semua orang dari seluruh dunia untuk berlatih bahasa Arab dan terhubung dengan pengungsi Suriah – yang mana mereka berada di negara-negara yang memegang kebijakan tertentu sehingga mereka sulit bekerja secara legal.

“Anda tidak hanya belajar dialek Suriah, tapi juga mendengar cerita dari partner bicara Anda, dan Anda juga membangun persahabatan- Anda mendapatkan cerita langsung dari mana mereka berasal,” Aline Sara, pendiri NaTakallam , mengatakan kepada Al Arabiya English.

Tiga pendiri NaTakallam , yang lulus dari Columbia University di New York dan memiliki akar Timur Tengah, mengatakan bahwa sejauh ini mereka telah mendaftar sekitar 25 mitra percakapan asal Suriah, dan berharap mendapatkan dana untuk perkembangan ke depan.

Selain membantu pengungsi untuk bertahan hidup dengan menghasilkan uang –yang mana biaya setiap satu jam percakapan dikenai 15$ – platform ini juga memberikan partisipan rasa sosial untuk berbagi kepada sesama.

“Anda dapat memberi mereka [pengungsi] uang, makanan dan tempat tinggal tapi itu hanya akan habis begitu saja- padahal penting juga menyediakan mereka sesuatu yang bisa dikerjakan dan alasan untuk menjadi orang yang memberi manfaat,” tambahnya.

Rasha Jamal Ishak, yang sedang belajar sastra Inggris di Suriah sebelum melarikan diri ke kota Lebanon utara Tripoli ketika perang sipil pecah, sekarang bekerja sebagai salah satu dari ‘mitra percakapan’ di platform tersebut.

Ia mendaftar di NaTakallam  setelah mendengar dari temannya. Hal itu dia lakukan untuk mendapatkan keuntungan baginya baik secara finansial maupun mental.

“Mencari pekerjaan sebagai seorang pengunsi amat sulit, setiap kali kami melihat dan mencari pekerjaan, kami tidak menemukan apa-apa, dan mereka memandang rendah kepada kami sebagai orang yang tidak punya kualifikasi dan standar rendah.”

Sejak awal perang sipil Suriah pada 2011, sekitar 6,5 juta warga Suriah mengungsi dari negara tersebut, sementara 5 juta lainnya mencari suaka di negara-negara tetangga seperti Turki, Lebanon dan Yordania.

Sara juga menambahkan, para pengungsi tidak hanya melihat negara mereka hancur berkeping-keping, karena mungkin masih ada keluarga mereka yang terjebak di sana. Mereka terluka karena apa yang mereka lihat, alami, dan juga kehilangan orang yang mereka sayangi,

“Bahkan orang lain rata-rata, merasa terjebak karena tidak ada yag bisa dikerjakan dengan sejumlah kemampuan Anda itu saja rasanya sulit sekali, yag mana saya juga yakin siapapun yang pernah memburu pekerjaan juga bisa merasakannya,” timpalnya.

Dialog umum yang terjadi antara kedua belah pihak biasanya seputar seni, sastra hingga kehidupan sehari-hari.

“Ada komponen antarbudaya yang signifikan untuk ‘NaTakallam ‘ yang benar-benar membawa Anda kepada mereka secara langsung, tak terkekang oleh campur tangan luar yang merupakan masalah besar hari ini,” katanya kepada AlArabiya.

Menurut Sara, orang Suriah sangat antusias menunjukkan kepada dunia bahwa mereka bukan ‘Dais’ (ISIS) atau pengungsi tak berdaya, seperti yang sering ditampilkan oleh media mengenai gambaran para pengungsi.

Rasha, mengatakan bahwa platform ini “memberi saya arti penting sebagai seorang yang berpendidikan yang bekerja keras dan pada akhirnya saya bisa menggunakan pendidikan saya untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat.”

Ikatan antara tutor dan murid pada umumnya terjalin hangat, karena struktur platform longgar dan suasana yanng informal.

“Sekarang saya memiliki banyak teman dari seluruh dunia,” katanya.*

Rep: Karina Chaffinch

Editor: Cholis Akbar

Update aplikasi Hidcom untuk Android Sekarang juga !

Sebarkan :

Baca Juga

Bank Muamalat

Gedung PPH