Nasional

Sebelum Terseret Ombak di Garut, Santri SMP Diakui Tidak Sedang Berenang

Sebelum Terseret Ombak di Garut, Santri SMP Diakui Tidak Sedang Berenang
ISTIMEWA.
Sebagian santri SMP Hidayatullah Depok sedang bermain di tepian Pantai Rancabuaya, Kabupaten Garut, yang tengah surut, Selasa (16/05/2017).

Hidayatullah.com– Hingga hari ketiga, Kamis (18/05/2017) pagi ini, proses pencarian sejumlah santri SMP di Depok yang terseret ombak di sela-sela rihlah di Pantai Rancabuaya, Kabupaten Garut, Selasa (16/05/2017), terus berlangsung.

Pagi selepas waktu subuh tadi, Tim Search And Rescue (SAR) Gabungan kembali berhasil menemukan salah seorang korban terseret ombak tersebut. Yaitu Wisnu Dwi Airlangga, 14 tahun.

“Alhamdulillah Tim SAR Hid kembali menemukan korban sekitar jam 04.50 pagi ini,” lapor Ketua Tim SAR Nasional Hidayatullah Irwan Haruen dari lokasi langsung.

Sebelumnya, Rabu (17/05/2017) sore jelang maghrib kemarin, korban ketiga ditemukan Tim SAR Gabungan, setelah 2 korban ditemukan Rabu siang. Keempat -dari lima- korban tersebut ditemukan dalam kondisi tidak terselamatkan nyawanya.

Sementara itu, terkait situasi sebelum kejadian tersebut, Selasa (16/05/2017) sore, 13 siswa SMP Integral Hidayatullah Depok itu diakui tidak sedang berenang.

Thoriq, 16 tahun, salah seorang korban terseret ombak yang berhasil selamat dari kejadian tersebut, mengaku, sebelum kejadian, ia bersama 12 temannya di kelas 3 SMP atau kelas IX itu ke pantai untuk berjalan-jalan, sekaligus bermain sepakbola.

“Waktu itu (air laut) lagi surut, airnya cuma semata kaki,” ujar murid asal Medan, Sumatera Utara yang tinggal di Beji, Depok ini, saat ditemui hidayatullah.com di kompleks sekolahnya, Cilodong, Depok, Jawa Barat, semalam, Rabu.

Saat mereka ke pantai tersebut pun, jelasnya, tidak ada pihak yang melarang. Waktu itu di dekat mereka ada orang lain sedang memancing di laut, yang mengingatkan para pelajar agar tidak mengarah lebih jauh dari bibir pantai.

Baca: Kisah Tim SAR Hidayatullah Mencari Santri Terseret Ombak di Pantai Garut

Mereka pun, menurut Thoriq, menuruti pesan dari nelayan tersebut.

Tidak ada pula setahu mereka, katanya, garis khusus sebagai batasan boleh melintas. Hanya mereka dilarang ke sebuah titik dataran melengkung yang posisinya berbeda dari mereka.

“Jarak dari (bibir) pantai 15 meter,” ujar Thoriq.

Saat sedang bermain-main di pantai berpasir itulah, akunya, tiba-tiba dari arah laut datang ombak bergulung-gulung ke arah mereka. Awalnya kecil saja, tapi tiba-tiba datang ombak besar. “Dua meteran,” ungkapnya.

Melihat ombak besar itu, ke-13 murid pria tersebut langsung berinisiatif membentuk pertahanan dengan saling berpegangan tangan layaknya pagar betis kepolisian saat menjaga demonstrasi.

Apa daya, hantaman ombak terlalu besar. Begitu dihantam, pertahanan itu kalah dan mereka langsung terpisah berhamburan. Lalu terjadilah kejadian itu.

Sementara warga yang mancing tadi, kata Thoriq, awal melihat kejadian itu tenang-tenang saja. Tapi begitu ada yang tenggelam dan terseret ombak, warga itu memanggil-manggil warga lainnya untuk meminta bantuan.

Sempat pula dilemparkan sejumlah pelampung ke arah para pelajar itu namun tidak sampai, kata Thoriq.

“Diketahui rombongan tidak melakukan aktivitas berenang, melainkan hanya berjalan-berjalan di pinggir pantai. Informasi terakhir dari ananda Muhammad Izzuddin Assulthan yang sempat terseret arus, ia bersama 13 temannya asyik berdiri di pinggir pantai. Tidak disadari air pasang, ternyata kaki mereka sudah tidak menapak lagi di pasir dan langsung terseret arus,” ujar Iwan Ruswanda, Sekretaris Yayasan yang membawahi sekolah itu.

Baca: Terkait Santri Terseret Ombak di Garut, Hidayatullah Depok Lakukan Upaya Maksimal

Informasi dari korban selamat ini, jelasnya, selaras dengan informasi dari orangtua salah satu korban, Rijal Amarullah. Bahwa, sesaat sebelum kejadian, Rijal Amrullah menelepon untuk meminta pulsa, setelah ditelepon balik ternyata sudah tidak ada jawaban.

“Jadi rombongan tetap mengindahkan adanya larangan untuk tidak berenang, namun datangnya ombak besar yang tiba-tiba membuat segalanya berubah sangat cepat,” ungkapnya.

Sementara itu, Kamis (18/05/2017) pagi tadi, salah seorang korban meninggal, Muhammad Faisal Ramadhana (16 tahun), dimakamkan di TPU Kalimulya, Depok.

Jenazah Faisal diantar ratusan santri Pondok Pesantren Hidayatullah Depok beserta keluarga korban, para ustadz, termasuk pengurus DPP Hidayatullah. Pihak pesantren mengurus proses pengantaran, pemandian, penyalatan, hingga pemakaman Faisal.

“Kami mengucapkan terima kasih banyak sekali kepada keluarga besar Hidayatullah,” ujar Abdurakhman, ayah Faisal, seraya mewakili pihak keluarga mengaku ikhlas menerima ujian tersebut.*

Rep: SKR

Editor: Muhammad Abdus Syakur

Update aplikasi Hidcom untuk Android Sekarang juga !

Sebarkan :

Baca Juga

BMH

TURKI