frontpage hit counter
Nasional

Ormas Islam Didorong Bersatu, Besarkan Hati dan Bangkitkan Kepercayaan Diri Umat

Ormas Islam Didorong Bersatu, Besarkan Hati dan Bangkitkan Kepercayaan Diri Umat
Ainuddin Chalik/hidayatullah.com
[Dari kiri ke kanan] Natsir Zubaidi, Prof Din Syamsuddin, dan Ustadz Bachtiar Nasir, dalam Rapat Pleno ke-20 Dewan Pertimbangan MUI di Jakarta, Rabu (28/09/2017).

Hidayatullah.com– Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (Wantim MUI), Prof Din Syamsuddin, mendorong ormas Islam membesarkan hati umat agar terhindar dari gejala negatif yang disebutnya sebagai sindrom inferiority complex.

Hal itu disampaikan Din saat memimpin Rapat Pleno ke-20 Dewan Pertimbangan MUI yang mengusung tema “Resolusi Umat Islam untuk 1439 H” di Kantor MUI Pusat, Jl Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (27/09/2017).

Baca: Ulama dan Kebangkitan Umat

“Di tengah kondisi yang centang perenang, kita perlu membangun kepercayaan diri dan terus membesarkan hati umat. Ada aktualisasi bahwa kita masih ada. Jangan sampai umat terjangkit sindrom inferiroty complex,” kata Din.

Inferiority complex yang melanda umat yakni merasa lemah dan tak berdaya sehingga membuatnya semakin terpuruk dan sulit bersatu. Karenanya, menurut Din, kepercayaan diri umat Islam harus ditumbuhkan.

Din mengatakan, di antara problem serius yang dihadapi bangsa adalah ketidakadilan. Karenanya, dalam banyak kesempatan ia selalu mendorong agar ada upaya pemerintah untuk mengatasi ketidakadilan.

Baca: Semangat Kebangkitan Umat Bela Islam Perlu Diarahkan dengan Al-Qur’an

“Sebanyak 74 persen tanah di Indonesia dikuasai oleh 0,2 persen penduduk yang disebut asing dan aseng, karena kebijakan politik yang tidak berpihak,” katanya.

Din menyebutkan, selain komitmen persatuan, umat juga perlu memperkuat diri dalam bidang pendidikan, ekonomi, dan merevitalisasi ketahanan keluarga.

Setengah berkelakar, Din menganalogikan kondisi ketidakberdayaan (inferiority complex) yang melanda umat dengan term “rubuhnya surau”. Namun, jelas Din, ada dampak lanjutan setelah “rubuhnya” surau, yakni rubuhnya lapau (warung) umat.

“Robohnya lapau kita karena ekonomi di Indonesia yang sebagian besar asetnya dikuasai asing,” tukasnya.

Baca: Bangkitkan Ekonomi Umat, Biasakan Bertransaksi dengan Sesama Muslim

Yang tak kalah penting, menurut Din, adalah melakukan revitaliasi ketahanan keluarga. Sebab, pelan-pelan keluarga tidak lagi berperan sebagai al-madrasatul ulaa (madrasah pertama) untuk terwujudnya sebuah bangsa yang kokoh.

Selain perwakilan ormas Islam yang sekaligus anggota Wantim MUI, Rapat Pleno ke-20 tersebut turut dihadiri oleh pimpinan Wantim MUI lainnya yaitu Prof Dr Nazaruddin Umar dan Sekjen MUI Dr Anwar Abbas. Hadir pula Ustadz Bachtiar Nasir.*

Rep: Ainuddin Chalik

Editor: Muhammad Abdus Syakur

Update aplikasi Hidcom untuk Android Sekarang juga !

Sebarkan :

Baca Juga