frontpage hit counter
Nasional

GNPF: Kalau Artis Bisa Memimpin, Ulama Lebih Layak

GNPF: Kalau Artis Bisa Memimpin, Ulama Lebih Layak
ahmad/hidayatullah.com
Para peserta Ijtima Ulama dan Tokoh Nasional di Hotel Menara Peninsula, Jakarta, berlangsung pada Jumat-Ahad (27-29/07/2018).

Hidayatullah.com– Wakil Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama, Ustadz Zaitun Rasmin, mengatakan, arus kuat yang berlangsung di Indonesia saat ini menginginkan perpaduan pemimpin antara berlatar kebangsaan dan keumatan.

Karenanya, ia menyampaikan, bukan berarti ulama sebagai representasi keumatan ditarik-tarik ke wilayah politik. Bahkan sejak proklamasi Indonesia ulama sudah berperan penting.

“Kalau artis saja bisa jadi pemimpin, maka tentu ulama lebih pantas. Karena ulama yang selama ini berbicara tentang betapa pentingnya persatuan, masalah kebangsaan, sosial, dan sebagainya,” ujar Zaitun dalam talkshow di studio salah satu stasiun televisi swasta, baru-baru ini.

Baca: Eksponen DPP PBB Desak Majelis Syuro Terima Rekomendasi Ijtima Ulama

Zaitun menambahkan, kehadiran ulama di bursa pencalonan pada Pilpres 2019 kali ini selain faktor popularitas, juga masyarakat merasa aman kalau dipimpin oleh ulama. Sebab dipandang mengerti masalah sehingga menjamin kepemimpinan yang diharapkan.

“Mengerucutnya nama Habib Salim Segaf Al-Jufri dan Ustadz Abdul Somad (UAS) adalah lumrah. Terutama keduanya dinilai mempunyai kapasitas luar biasa, yang diharapkan bisa meramaikan Pilpres,” terangnya.

Kata dia, dua rekomendasi nama ulama tersebut juga lahir karena adanya ketakutan di peserta Ijtima Ulama dan Tokoh Nasional, bahwa terjadi deadlock di koalisi partai yang berada di luar pemerintahan saat ini, yang malah membuat Pilpres nantinya berlangsung dengan satu pasang calon.

Baca: Soal Capres, Majelis Syuro PKS Apresiasi Rekomendasi GNPF

Menurutnya, tentu tidak bagus jika penahana melawan kotak kosong.

Apa yang diupayakan ulama, kata dia, adalah sebuah ikhtiar. Tidak lantas kalau rekomendasinya tidak diterima, nanti ulama malu. Tetapi para ulama menyadari, bukan menjaga citra yang lebih penting, tapi bagaimana turut berjuang untuk satu kebaikan.

“Kalau hanya menjaga citra nanti malah ulama seolah tidak peduli dengan kehidupan sosial dan kebangsaan. Harapannya para partai bisa mempertimbangkan aspirasi Ijtima semaksimal mungkin,” tandasnya.*

Baca: Soal Capres, Intuisi Ulama-Hitungan Partai Dinilai Perpaduan Baik

Rep: Yahya G Nasrullah

Editor: Muhammad Abdus Syakur

Update aplikasi Hidcom untuk Android Sekarang juga !

Sebarkan :

Baca Juga

Umroh Akbar Arifin Ilham

Gedung PPH