frontpage hit counter
Feature

Romanus Batseran, Sayangnya…

Romanus Batseran, Sayangnya…
muh. abdus syakur
Romanus Batseran, napi asal Maluku, di LP Kembangkuning Nusakambangan, Cilacap Jawa Tengah, Kamis (03/05/2018).

PUCUK dicinta ulam pun tiba. Keinginan lama Romanus Batseran akhirnya tercapai juga. Siang itu selepas sembahyang di sebuah gereja, pria 35 tahun ini pergi ke sebuah ruangan di kompleks penjara.

Di kamar “klinik darurat” itu, sejumlah pria lain tengah beraktivitas. Sebagian mengenakan atribut Islamic Medical Service (IMS), lembaga layanan kesehatan milik sebuah ormas Islam berpusat di Jakarta.

Romanus duduk manis saat seorang relawan IMS mengoleskan obat bius lokal, menutupi sebuah tato di punggung kanannya.

Pria yang mengenakan gelang merah bertuliskan “Catholic” dan “…Jesus” itu akan menghapus satu -dari dua- tato yang sudah bertahun-tahun bersemayam di punggungnya. Ia punya alasan kuat melakukannya.

“Saya mau berubah. Saya mau jadi orang baik,” akunya saat ditemui hidayatullah.com dan tim IMS dalam program hapus tato gratis di Lembaga Pemasyarakatan Kembangkuning Nusakambangan, Cilacap Jawa Tengah, Kamis, 3 Mei 2018.

Keinginan menjadi manusia lebih baik sepertinya bukan omong kosong Romanus. Selain menghapus tato, ia mengaku sudah cukup lama meninggalkan kebiasaan merokok dan menenggak minuman keras (miras).

Sejak lima tahun belakangan ini, kedua kebiasaan tak sehat itu ia tinggalkan, meskipun di tengah lingkungan narapidana yang akrab dengan rokok dan miras. Apa kiatnya?

“Intinya (keinginan) dari hati. Kalau dari hati enggak mau (berubah), enggak bisa berubah,” ungkap pria asal Saumlaki, Kabupaten Maluku Tenggara Barat (MTB) ini.

Ia mengibaratkan, jika seseorang alergi dengan ikan, maka orang tersebut pasti berhenti makan ikan.

“Sama seperti rokok dan minum (miras). Dia merusak tubuh kita,” ungkapnya mantap sembari menunggu giliran dipanggil untuk dihapus tatonya dengan sinar laser.

Romanus Batseran saat dihapus tatonya oleh relawan IMS di LP Kembangkuning Nusakambangan, Cilacap Jawa Tengah, Kamis (03/05/2018). [Foto: Muh. Abdus Syakur/hidayatullah.com]

Tentu bukan tanpa ujian bagi Romanus mentalak rokok dan miras. Penghuni lapas lainnya bukan tak luput mencibirnya.

“(Saya) pernah diejek: ‘banci aja bisa merokok, kamu manusia utuh enggak bisa merokok’. Saya bilang ‘tidak peduli’ karena ini dari hati,” ungkap pria yang belum menikah dan divonis penjara 17 tahun ini.

Romanus punya prinsip. Hidup ini pilihan, mau baik atau buruk. Ia pun mengaku kini lebih memikirkan masa depan dan orangtuanya.

Itulah salah satu dorongannya memilih menghapus tato. Sebab sudah lama ia ingin menghilangkan rajah-rajah di badannya. Baginya, kehadiran tim IMS dalam program hapus tato yang bekerja sama dengan Majelis Ta’lim Telkomsel (MTT) dan Pertamina UP IV Cilacap itu kesempatan emas.

“Syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa karena Tuhan sudah memakai saudara dari IMS, MTT, Pertamina (dalam program ini),” ungkapnya.

Diketahui, Romanus dijebloskan ke penjara di zaman Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) karena pengibaran bendera Rakyat Maluku Selatan (RMS) ketika menampilkan tarian Cakalele di depan SBY. Kejadian itu berlangsung di lapangan Merdeka Ambon, 29 Juni 2007. Bendera “Benang Raja” merupakan simbol pro-kemerdekaan RMS yang dilarang.

Sayangnya, meski sudah dipenjara berat, ia masih belum merasa bersalah dan belum insyaf sebagai pelaku subversi.*

Rep: Muh. Abdus Syakur

Editor:

Update aplikasi Hidcom untuk Android Sekarang juga !

Sebarkan :

Baca Juga

Umroh Akbar Arifin Ilham

Gedung PPH