frontpage hit counter
Oase Iman

Begini Sikap Shahabat Pasca Ramadhan

Begini Sikap Shahabat Pasca Ramadhan
Ilustrasi.

BAGI para salafusshalih, kepergian Ramadhan menyisakan kesedihan mendalam. Bahkan belum saja Ramadhan benar-benar berakhir, kesedihan itu sudah terasa. Salah satu sebabnya adalah soal paradigma dalam menyikapi akhir Ramadhan dan berakhirnya bulan penuh keutamaan tersebut.

Para shahabat dan dua generasi setelahnya, sedih bercampur khawatir akan amalan-amalan mereka selama Ramadhan. Apakah amalan mereka diterima oleh Allah, dan apakah amalan-amalan tersebut bisa menjadi asbab terampuninya dosa-dosa mereka.

Bukankah Nabi shallallahu alayhi wasallam sudah mengingatkan bahwa, “Betapa banyak orang yang berpuasa tapi tidak mendapatkan apa-apa, selain lapar (dan haus ) saja.” Dan para shahabat adalah orang yang paling mengerti maksud dari hadits ini setelah Nabi.

Di lain waktu, Nabi shallallahu alayhi wasallam juga memberi warning. “Celakalah orang yang memasuki bulan Ramadhan,” kata Nabi, sebagaimana diriwayatkan Hakim dan at-Thabrani, “Namun dia tidak diampuni.”

Maka wajarlah para salaf mengkhawatirkan amalan mereka dan keadaan diri mereka di akhir dan sepeninggal Ramadhan. Sebab memang, tidak ada jaminan Allah menerima amalan dan mengampuni dosa setiap orang yang berpuasa. Dan jika tidak mendapat ampunan, maka celaka yang didapatkan berdasarkan warning Nabi di atas.

Menyadari hal itu, tentu saja para shahabat merasa sedih dan khawatir. Semakin hari-hari Ramadhan berlalu, semakin tinggi kekhawatiran mereka. Dan pilihannya adalah tunduk menangis menumpahkan kekhawatiran tersebut kepada Allah sambil berdoa agar diberi pemaafan dan amal-amal diterima.

Munajat mereka, “Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf, suka memberi maaf dan pengampunan, maka maafkan dan ampuni dosa-dosaku.” Dan, “Ya Allah, Rabb kami, terimalah amalan-amalan kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.”

Setelah Ramadhan benar-benar pergi, bukan berarti mereka berhenti berdoa. Bersebab kekhawatiran itu terlalu mendalam, mereka terus berdoa agar amal-amal diterima hingga enam bulan berikutnya.

Disebutkan dalam Lathaaiful Ma’arif halaman 232 bahwa para salaf, yaitu para shahabat dan dua generasi berikutnya, berdoa kepada Allah selama enam bulan agar diberi kesempatan menjumpai Ramadhan. “Kemudian,” tulis Ibnu Rajab dalam kitabnya tersebut, “Mereka juga berdoa selama enam bulan agar amalan mereka diterima oleh Allah.”

Demikianlah para salafusshalih. Mereka lebih memfokuskan diri bagaimana agar amal-amal diterima. Sebagaimana pesan Ali bin Abi Thalib, “Hendaklah kalian lebih perhatian terhadap amalan kalian bagaimana bisa diterima dari pada hanya sekadar (memperbanyak) amalan. Tidakkah kalian mendengar Firman Allah, ‘Sesungguhnya Allah hanya menerima amalan orang-orang bertakwa saja’.”

Sayangnya, paradigma dalam menyikapi akhir dan berakhirnya Ramadhan ini hanya dimiliki oleh para shahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in beserta orang-orang shalih. Di zaman sekarang, paradigma jarang ditemui lagi. Kebanyakan orang terlalu percaya bahwa Allah menerima amalannya selama Ramadhan. Padahal kualitas iman para shahabat siapa yang bisa menandingi?*/Ibnu Basyier, guru ngaji tinggal di Karungan-Tarakan.

Rep: Admin Hidcom

Editor: Syaiful Irwan

Update aplikasi Hidcom untuk Android Sekarang juga !

Sebarkan :

Baca Juga