frontpage hit counter
Tazkiyatun Nafs

Jawaban Anggota Badan Ketika Akan Dicabut Ruhnya

Jawaban Anggota Badan Ketika Akan Dicabut Ruhnya
Ilustrasi.

DALAM sebuah hadits telah diriwayatkan, ketika Allah Ta’ala menghendaki mencabut ruh seorang hamba, maka datanglah Malaikat Maut dari arah mulutnya. Lalu, keluarlah dzikir dari mulut hamba itu seraya berkata, “Tak ada jalan bagimu dari arah ini, telah lama lisan ini dipergunakan untuk berdzikir kepada Tuhanku.”

Malaikat Maut lalu kembali kepada Allah seraya berkata, “Demikian… dan demikian… (menyebutkan apa yang dia alami). Kemudian, Allah berfirman, “Cabutlah nyawanya dari arah yang lain.” Malaikat Maut mencoba mencabut ruh itu dari arah tangannya, lalu keluarlah sedekah seraya berkata, “Tidak ada jalan bagimu untuk mencabut nyawa, sesungguhnya hamba ini telah menggunakanku untuk bersedekah banyak, dan menggunakan aku untuk mengusap tangan dan kepala anak yatim, juga menggunakan aku untuk menulis dengan qalam (tentang ilmu), serta memukul (dengan pedang atau membunuh) orang kafir.”

Malaikat Maut mendatangi kakinya, maka kaki itu berkata, “Tidak ada jalan bagimu untuk mencabut nyawa dari arahku. Sesungguhnya hamba ini menggunakan aku untuk berjalan menuju shalat jamaah dan beberapa shalat hari raya. Juga, untuk mendatangi majelis ilmu dan majelis ta’lim.”

Malaikat Maut lalu beralih pada telinganya. Namun, telinga hamba mukmin itu juga membantahnya, “Engkau pun tak menemukan jalanmu untuk mencabut nyawa hamba ini dari arahku. Karena, sesungguhnya dia menggunakanku untuk mendengarkan bacaan al-Qur’an, adzan, dzikir, serta ilmu-ilmu Tuhanku yang disampaikan oleh para ulama.”

Kemudian, Malaikat Maut mendatangi mata hamba itu. Kedua mata hamba itu pun sama seperti anggota-anggota yang lainnya dengan berkata, “Tidak ada jalan untukmu dari arah kami, sesungguhnya hamba ini menggunakanku untuk melihat orang tuanya serta untuk melihat wajah orang-orang yang saleh.”

Malaikat Maut akhirnya pergi menghadap Allah seraya berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya hambaMu telah berkata demikian… dan demikian…” Allah lalu berfirman, “Hai Malaikat Maut, gantungkanlah nama-Ku di atas telapak tanganmu. Tampakkanlah nama-Ku itu kepada hamba-Ku hingga ruhnya bisa melihatnya dan ia mau keluar.”

Malaikat Maut pun menulis nama Allah di atas telapak tangan, lalu menampakkan nama itu kepada ruh tersebut. Ruh itu pun segera keluar memenuhi perintah Malaikat Maut (berkat asma Allah) dengan tanpa rasa sakit.

Seorang hamba tidak akan merasakan rasa pedihnya sakaratul maut yang sangat dahsyat ketika ditulis asma Allah. Dalam firman-Nya, Allah telah menyebutkan:

Maka, apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam, lalu ia mendapatkan cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka, kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” (QS. az-Zumar [39]: 22).

Sesungguhnya agama di sisi Allah hanyalah Islam…” (QS. Aji Imran [2]:19).

Apakah tidak akan hilang atas mereka adanya suatu siksa dan perkara yang sangat menakutkan kelak di hari kiamat? Diceritakan dalam sebuah hadits, ada lima perkara sebagai racun yang membunuh, juga ada lima perkara yang lain sebagai penawarnya: (1) dunia adalah racun yang membunuh, sedang zuhud (menjauhi dunia) adalah penawarnya; (2) harta adalah racun yang membunuh, dan zakat adalah penawarnya; (3) berbicara adalah racun yang membunuh, sementara berdzikir kepada Allah adalah penawarnya; (4) umur adalah racun seluruhnya, sedang taat kepada Allah adalah penawarnya; (5) seluruh tahun adalah racun pembunuh, dan bulan Ramadhan adalah penawarnya.

Dalam sebuah hadits juga diceritakan, ketika seorang hamba dalam keadaan naza’ (sakaratul maut atau sekarat), maka ada suara yang memanggil dari hadapan Allah, “Tinggalkan hamba itu, sehingga ia beristirahat sejenak.” Ketika ruh sampai di dadanya, maka Allah berfirman, “Tinggalkanlah hamba itu, sehingga ia beristirahat sejenak.” Demikian juga ketika ruh telah sampai di tenggorokannya, maka datang lagi pemanggil itu, “Tinggalkanlah hamba itu, sehingga anggota badannya memohon diri (pamit) kepada bagian yang lain.”

Mata yang satu memohon diri pada mata yang lain, mata itu berkata, “Semoga keselamatan tetap tercurahkan kepadamu sampai hari kiamat. Kita pernah bersama, dan kini saatnya berpisah untuk selamanya.” Demikian juga dengan telinga yang satu dengan yang lainnya, tangan dengan pasangannya, dan kaki dengan kaki yang lainnya, hingga ruh memohon diri pada jasadnya, dan iman memohon diri pada lisan.

Akhirnya, hanya tertinggal pada hamba itu tangan yang tanpa gerak, kedua kaki tanpa tenaga, kedua mata tanpa bisa melihat, kedua telinga tanpa mampu mendengar, dan badan tanpa ruh. Jika lisan yang tanpa iman dan hati tanpa makrifat, maka bagaimanakah keadaan seorang hamba itu di dalam kuburnya kelak?*/Imam Abdurrahim bin Ahmad al-Qadhi, dikutip dari bukunya Daqaiqul Akhbar.

Rep: Admin Hidcom

Editor: Syaiful Irwan

Update aplikasi Hidcom untuk Android Sekarang juga !

Sebarkan :

Baca Juga