frontpage hit counter
Tazkiyatun Nafs

Meneladani Perbuatan Rasulullah

Meneladani Perbuatan Rasulullah
Ilustrasi/Melakukan shalat berjamaah merupakan teladan yang dilakukan Rasulullah bersama para sahabat.

PERBUATAN-perbuatan yang dilakukan Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam dibagi menjadi dua macam. Ada yang termasuk perbuatan-perbuatan jibiliyah, yaitu perbuatan yang biasa dilakukan manusia, dan ada pula perbuatan-perbuatan selain jibiliyah.

Yang tergolong perbuatan jibiliyah, seperti berdiri, duduk, makan, minum, dan lain sebagainya. Tidak ada perselisihan bahwa status perbuatan tersebut adalah mubah, baik bagi Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam maupun bagi umatnya. Karena itu, perbuatan-perbuatan tersebut tidak termasuk dalam kategori mandub.

Sedangkan selain perbuatan-perbuatan jibiliyah, bisa jadi tergolong khusus bagi Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam, yang tidak seorang pun diperkenankan mengikutinya. Bisa juga tidak termasuk dalam perbuatan yang khusus bagi beliau.

Perbuatan khusus yang ditetapkan bagi Rasulullah, seperti beliau boleh melanjutkan shaum pada malam hari tanpa berbuka, atau boleh menikah dengan lebih dari empat wanita, dan lain sebagainya. Dalam hal ini kita tidak diperkenalkan mengikutinya. Perbuatan-perbuatan tersebut diperuntukkan khusus bagi Rasulullah berdasarkan ijma’ Sahabat. Karena itu, tidak dibolehkan meneladani beliau dalam perbuatan-perbuatan semacam ini.

Akan halnya perbuatan-perbuatan yang kita kenal sebagai penjelasan bagi kita, maka tidak ada perselisihan bahwa hal itu merupakan dalil. Penjelasan tersebut bisa berupa perkataan, seperti sabda beliau:

“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.”

Hadits ini menunjukkan bahwa perbuatan beliau merupakan penjelas agar kita mengikutinya. Penjelasan beliau bisa juga berupa qaraain al-ahwal (indikasi yang menerangkan bentuk perbuatan), seperti memotong pergelangan tangan pencuri, sebagai penjelas firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

Maka potonglah tangan keduanya.” (QS. Al-Maidah: 38).

Status penjelas yang terdapat dalam perbuatan Nabi Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam, baik berupa ucapan maupun indikasi yang menerangkan bentuk perbuatan, dapat mengikuti hukum-hukum yang telah dijelaskan, apakah itu wajib, mandub, atau mubah, sesuai dengan arah penunjukkan dalil.

Sedangkan perbuatan-perbuatan beliau yang di dalamnya tidak terdapat indikasi yang menunjukkan bahwa hal itu merupakan penjelas, bukan penolakan, dan bukan pula ketetapan, maka dalam hal ini perlu diperhatikan apakah di dalamnya terdapat maksud untuk ber-taqarrub (mendekatkan diri kepada Allah) atau tidak.

Jika di dalamnya terdapat keinginan untuk ber-taqarrub kepada Allah, maka perbuatan itu termasuk mandub. Seseorang akan mendapatkan sanksi jika meninggalkannya. Dan jika di dalamnya tidak terdapat keinginan untuk ber-taqarrub, maka perbuatan tersebut mubah.*/Sudirman STAIL

Sumber buku: Peraturan Hidup Dalam Islam. Penulis: Taqiyuddin an-Nabhani.

Rep: Admin Hidcom

Editor: Syaiful Irwan

Update aplikasi Hidcom untuk Android Sekarang juga !

Sebarkan :

Baca Juga