Analisa Dunia Islam

Saudi dan Ikhwanul Muslimin: Dulu Berteman, Mengapa Dimusuhi?

Saudi dan Ikhwanul Muslimin: Dulu Berteman, Mengapa Dimusuhi?
Reuters
Raja Saudi Abdullah bin Abdul Aziz Al Saud, (kanan) menerima Syeikh Yusuf al-Qaradhawi, di Riyadh pada tahun 2009

PADA awal bulan ini, Arab Saudi, serta Mesir, Uni Emirat Arab dan Bahrain, memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar, menuduhnya mendukung “ekstrimisme” dan merusak keseimbangan wilayah.

Menteri Luar Negeri Saudi Adel al-Jubeir mengatakan pada wartawan ketika mengunjungi Paris dua hari setelah itu, bahwa Qatar harus menghentikan dukungannya pada Ikhwanul Muslimin dan kelompok Palestina Hamas sebelum memperbaiki hubungan dengan negara Teluk Arab lainnya.

Tidak lama setelah itu, blok Saudi merilis sebuah daftar terduga “teroris” yang berhubungan dengan Qatar, termasuk ulama Mesir Yusuf al-Qaradhawi, anggota senior dari Ikhwanul Muslimin.

Tetapi Arab Saudi tidak selalu menganggap Ikhwanul Muslimin sebagai ancaman kawasan. Faktanya, hubungan antara keduanya naik-turun dipengaruhi keharmonisan dan ketegangan sejak pertemuan bersejarah antara Raja Abdulaziz Al Saud dan pendiri gerakan itu, Hassan al-Banna di tahun 1936.

Jaringan politik bebas yang diciptakan pada 1928 oleh seorang guru sekolah di kota pelabuhan Ismailia, Mesir, Ikhwanul Muslimin awalnya bertujuan untuk mempromosikan reformasi sosial menggunakan Islam pada intinya.

Hingga tahun 1940-an, kelompok ini diperkirakan telah memiliki setengah juta anggota aktif di Mesir dan gagasannya telah mencapai Negara-negara Arab tetangga. Cabang lokal dibangun di seluruh negeri, masing-masing menjalankan sekolah, masjid dan klub olahraga.

Al-Banna melihat Ikhwan sebagai sebuah gerakan yang meliputi semua, dia menggambarkannya sebagai “Memiliki pesan Salafi, cara Sunni, kebenaran Sufi, sebuah organisasi politik, kelompok atletik, persatuan pendidikan-budaya, perusahaan ekonomi dan gagasan sosial”.

Baca: Ikhwanul Muslimin Tolak Tuduhan Arab Saudi

Gerakan itu dengan cepat menjadi sebuah kekuatan politik rakyat yang menantang trio kekuatan yang memerintah Mesir hingga Revolusi 1952: kerajaan, kolonialisme Inggris dan Partai al-Wafd.

Ketika itu, Ikhwan mengembangkan sayap bersenjata, dan dituduh bertanggungjawab terhadap pembunuhan sejumlah pejabat negara penting, termasuk Perdana Menteri Mahmour Nuqrashi pada 1948.

Tidak lama setelah itu, Hassan al-Banna ditembak oleh agen dinas rahasia Mesir.

Pada 1952, kelompok Ikhwan mendukung kudeta militer oleh Gerakan Opsir Merdeka pimpinan Gamal Abdel Nasser. Tapi hubungan dengan militer memburuk akibat kecurigaan Gamal Abdel Nasser bahwa Ikhwan berada di balik peristiwa percobaan pembunuhan dirinya. Maka ribuan anggota Ikhwanul Muslimin ditangkapi serta dihukum mati rezim Nasser.

Dampaknya, gerakan terpaksa bergerak di bawah tanah, dikejar-kejar dan disiksa. Beberapa anggota Ikhwan akhirnya mendorong penggunaan senjata untuk melawan sikap rezim.

Baca: Mesir dan Ikhwanul Muslimin Perbaiki Hubungan Disponsori Saudi

Selain itu, Gerakan Opsir Merdeka , yang dipimpin oleh Gamal Abdel Nasser, tidak setuju dengan pandangan Ikhwanul Muslimin yang ingin menerapkan hukum Islam dan dia lebih menyukai contoh sosialis sekular.

Setelah gagalnya upaya pembunuhan Nasser di Alexandria pada 1954, yang lagi-lagi dituduhkan kepada oleh Ikhwanul Muslimin, ribuan anggotanya dieksekusi, ditahan, disiksa dan diasingkan.

Nasser kemudian menjadi presiden pada 1956, dan dengan itu, mendorong gerakan itu menjadi gerakan underground yang melawan pemerintahan.

Namun, tindakan keras pemerintah memicu sebuah pergeseran penting di dalam ideologi Ikhwan, terbukti dalam tulisan-tulisan Sayyid Qutb, seorang ideolog Ikhwan.

Tulisan-tulisan Sayyid Qutb di penjara menganjurkan perjuangan bersenjata melawan Barat dan rezim korup Arab untuk menyebarkan nilai-nilai Islam.

Ribuan anggota gerakan itu –yang khawatir menjadi korban balas dendam– mencari suaka di Arab Saudi dan segera mengakar di masyarakat. Muncul menjadi negara modern yang baru, kerajaan menemukan bahwa tamu-tamunya merupakan para pendidik, birokrat dan insinyur berkualitas yang dibutuhkan kerajaan itu.

Raja Faisal bin Abdulaziz, yang memimpin dari 1964 hingga 1975, juga menemukan di dalam mereka suara yang dia butuhkan untuk mengimbangi penyebaran Pan-Arabisme dan komunisme di wilayah itu yang mengancam posisi Arab Saudi sebagai pusatnya.

Pendek kata, Arab Saudi dan Ikhwanul Muslimin menemukan Gamal Nasser sebagai musuh bersama.

Hal itu berlangsung hingga masa pemerintahan Anwar Sadar, penerus Nasser, di mana Ikhwanul Muslimin diperkenalkan kembali ke arena politik, meskipun bukan sebagai sebuah partai resmi.* >>> (BERSAMBUNG)

Rep: Nashirul Haq AR

Editor: Cholis Akbar

Update aplikasi Hidcom untuk Android Sekarang juga !

Sebarkan :

Baca Juga

BMH