frontpage hit counter
Keluarga Sakinah

Memilih Guru dan Sekolah yang Baik Bagi Anak (2)

Memilih Guru dan Sekolah yang Baik Bagi Anak (2)
Ilustrasi/Para pelajar putri di sekolah Islam.

DI ZAMAN sekarang ini musuh-musuh Islam telah menyalakan kampanye dan propaganda salibisme yang penuh dengan kedengkian. Mereka mengangkat panji ateisme terkutuk untuk menghancurkan anak muslim. Mereka sengaja memilihkan guru yang kafir dan fasik buat generasi muslim dan juga mendirikan sekolah modern yang menjauhkannya dari manhaj Allah dan syariat-Nya.

Ini terjadi tidak lain karena kebodohan kaum muslimin dan juga merupakan bukti kuat dari kelengahan mereka. Apa yang kami katakan ini bukanlah asal-asalan, akan tetapi merupakan kenyataan yang kita alami sekarang ini. Apa yang ditegaskan sendiri oleh kaum orientalis kafir dan para misionaris Kristen merupakan bukti paling nyata mengenai hal itu.

Pendeta Samuel Zwemer dalam bukunya menyebarkan penipuan dan kebohongan di kalangan anak-anak kaum muslimin. Ia mengatakan, “Pengajaran di sekolah dan pendidikan moral Barat telah berhasil membuahkan nilai-nilai yang sangat berarti dan telah menghasilkan berbagai buah yang sangat berguna bagi anak-anak maupun remaja. Aku telah berhasil mengumpulkan anak-anak muslim sekali waktu, lalu aku tampilkan di hadapan mereka semacam bola bumi atau globe, kemudian aku sinari dengan cahaya yang sangat terang. Sesudah itu aku yakinkan kepada mereka dengan teori seperti itu bahwa perintah berpuasa di bulan Ramadhan itu bukan berasal dari Allah, karena di beberapa bagian bumi ini hal itu tidak mungkin bisa dilakukan.”

Zwemer bahkan mengadakan sebuah kongres kaum orientalis yang tersebar di berbagai penjuru dunia Islam di kota Quds pada tahun 1935, tepatnya di Jabal Zaitun. Setelah Zwemer memperhatikan berbagai problematika dan kesulitan yang dihadapi oleh para orientalis di berbagai negeri Islam itu, maka ia kemudian menjelaskan kepada para anggota kongres tentang tujuan mereka di dalam menyesatkan akal dan pikiran anak-anak muslim.

Zwemer menjelaskan, “Sesungguhnya kalian ini bertugas menyiapkan generasi di negeri-negeri muslim yang tidak mengenal hubungan dengan Allah dan memang tidak ingin mengenal-Nya. Kalian bertugas mengeluarkan orang muslim dari agama Islam tanpa harus memasukkan mereka ke dalam agama Nasrani. Selanjutnya akan lahir generasi Islam yang sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh imperialis. Suatu generasi yang sama sekali tidak mampu memperhatikan hal-hal yang penting dan inginnya hanya santai-santai dan malas-malasan. Ia hanya menuruti hawa nafsu belaka dalam kehidupan dunianya ini. Jika ia belajar, maka itu demi hawa nafsu; jika menghimpun harta, maka tujuannya adalah demi nafsu; jika menempati kedudukan yang tinggi, maka itu adalah juga demi memenuhi nafsu. Ia melakukan segala sesuatu dengan sebaik mungkin hanya demi memenuhi keinginan nafsu.”

Jika sang pendeta itu mengatakan hal tersebut pada tahun 1935, lalu bagaimana keadaannya sekarang?

Seorang orientalis lain yang sangat dengki terhadap Islam, Gibb, yang merupakan anggota Lembaga Bahasa Arab di Kairo, mengatakan dalam mukadimah bukunya, “Kegiatan pendidikan dan kebudayaan melalui sekolah-sekolah modern dan juga melalui media massa telah mampu meninggalkan pengaruh –sekalipun tanpa mereka sadari– yang menjadikan mereka berpenampilan secara umum sebagai kaum sekuler hingga batas yang cukup jauh. Tidak diragukan lagi bahwa hal itu merupakan benih yang membuahkan dalam setiap bentuk upaya Barat menggiring dunia Islam agar mengikuti peradaban Barat. Kenyataannya memang Islam tetap masih sebagai ideologi (akidah), sekalipun sudah tidak begitu berarti lagi. Namun Islam sebagai sebuah kekuatan yang menguasai kehidupan sosial sudah benar-benar kehilangan tempatnya.”

Syaikh Muhammad Khadhar Husain, mantan Rektor Al-Azhar, pernah memberikan peringatan dan nasihat kepada umat Islam seluruhnya dan juga menjelaskan kepada kaum ayah tentang bahayanya sekolah-sekolah ini dengan menulis sebuah pasal dalam bukunya: Anak-anak Kaum Muslimin di Sekolah-sekolah Orientalis. Di situ ia mengatakan, “Siapa yang bisa menyiapkan untuk anaknya kehidupan yang baik dan menumbuhkannya secara baik pula, sehingga anak bisa tumbuh dengan hati yang sehat, lidah yang bersih, dan jujur kepada keluarganya; akan tetapi ia enggan untuk menempatkan anaknya di tempat yang semestinya, sehingga ia memilih menaruh anak-anaknya di lingkungan yang dikuasai oleh orang-orang yang senantisasa menghembuskan penyimpangan dan keburukan. Padahal keburukan itu hanya akan melahirkan kebobrokan. Contohnya adalah seperti seorang muslim yang dianugerahi anak oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar menempuh jalan petunjuk dan agar kelak menjadi bagian dari anggota masyarakat yang bisa menjadi kebanggaan kaumnya, namun ternyata si ayah mengirimkannya ke sekolah yang memang sengaja didirikan untuk memerangi agama yang lurus ini, dan juga untuk mematikan sentimen Islam. Yaitu sekolah-sekolah yang di negeri-negeri kita ini didirikan oleh institusi-institusi yang disebut sebagai lembaga-lembaga misionaris.

Kesalahan dan dosa orang yang memasukkan anaknya ke sekolahan-sekolahan ini tidak jauh beda dengan orang-orang yang membunuh anak-anak mereka karena takut kelaparan. Bukankah sudah ada cukup bukti bahwa orang-orang yang menangani pendidikan di lembaga-lembaga tersebut jelas-jelas mendiktekan kepada para putera kaum muslimin berbagai keyakinan keagamaan non-Islam, menggiring mereka mengikuti tradisi mereka, serta mengajarkan kepada mereka agar mencela syariat Islam dengan berbagai cara. Ini sangat berpengaruh terhadap jiwa anak.

Orang tua yang memasukkan anaknya ke sekolah-sekolah misionaris ini bukan berarti mmbunuh satu jiwa saja, akan tetapi ia telah membunuh sekian banyak jiwa, dan sesudah itu di kemudian hari bahkan menghancurkan umat secara keseluruhan. Saya kira apa yang saya katakan ini tidak berlebihan. Anak yang disekolahkan ke lembaga seperti ini kelak akan menjadi seorang guru dan selanjutnya akan merusak putera-putera kaum muslimin berkenaan dengan urusan agama mereka maupun kebangsaan mereka, sebagaimana pengrusakan yang telah dilakukan oleh para pendeta terhadap agama mereka. Kenyataan telah kita saksikan bahwa para alumnus dari lembaga-lembaga seperti itu akhirnya ada yang menjadi pemimpin yang menguasai kaum muslimin sehingga mereka berbuat makar dan tidak menghormati syariat sama sekali.*Muhammadi Suwaid, dari bukunya Mendidik Anak Bersama Nabi Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam.

Rep: Admin Hidcom

Editor: Syaiful Irwan

Update aplikasi Hidcom untuk Android Sekarang juga !

Sebarkan :

Baca Juga