Konsultasi Syariah

Keasyikan Main Game, Anak Bisa Malas Belajar

Keasyikan Main Game, Anak Bisa Malas Belajar
Ilustrasi.

SELAIN menonton siaran televisi, anak-anak biasanya sangat betah duduk berjam-jam di depan pesawat televisi jika pesawat televisi telah dilengkapi oleh playstation. Bila anak sudah main playstation, maka anak yang pada awalnya giat belajar, tak jarang menjadi anak yang pemalas.

Kita tahu bahwa perkembangan zaman akhir-akhir ini di bidang teknologi yang semakin canggih, membuat beberapa anak kehilangan minat dalam belajar. Mereka juga tidak bisa menghindari perkembangan iptek yang terus maju di Indonesia, meskipun beberapa faktor penyebab adalah budaya luar yang mulai masuk di Indonesia.

Beberapa contoh penyebab anak malas belajar, salah satunya yang paling banyak adalah game. Mungkin, bukan hal yang aneh lagi jika anak mulai malas belajar karena terlalu asyik bermain playstation atau lainnya. Di sinilah, para orang tua mulai mengantisipasi anak-anaknya agar tidak membebaskan anaknya dalam bermain.

Kecanduan playstation membuat anak menjadi kasar, suka mencaci, bahkan kehilangan pengendalian diri. Bagaimana cara mengatasinya? Bermain memang menjadi salah satu kebutuhan anak, bisa menjadi sebuah permainan yang mengasyikkan. Namun, tidak semua permainan memiliki dampak bagus bagi perkembangan mental dan membantu proses sosialisasi anak dengan lingkungan.

Di antara sekian banyak permainan yang ditawarkan di pasar, salah satu benda yang perlu diwaspadai, jika terlalu sering dimainkan anak, adalah playstation. Adrenalin yang memuncak, kemarahan yang disertai teriakan, bentakan, dan cacian, hampir selalu mewarnai permainan yang menggunakan stik dan layar televisi tersebut.

Agresivitas dan kebiasaan berbicara tanpa kendali, bahkan mencaci, tentu saja berdampak negatif bagi perkembangan mental anak. Anak jadi kehilangan kepedulian terhadap sesama, tidak mudah menerima kekalahan, bahkan menjadi lebih mudah menyakiti teman-teman seusia, ataupun si adik yang lebih kecil.

Bisa dikatakan tidak menguntungkan dengan membiarkan anak bermain playstation selama yang mereka inginkan. Salah satunya adalah kekurangan keinginan anak bersosialisasi dengan lingkungan. Bukan saja malas beradaptasi dengan lingkungan, playstation juga membuat anak malas melakukan rutinitas dan kewajiban sehari-hari, seperti belajar dan mengerjakan pekerjaan rumah. Pada tingkat kecanduan kronis terhadap permainan tersebut, anak bahkan bisa lupa waktu makan atau sekadar minum.

Itulah jeleknya permainan playstation, anak bisa menghabiskan waktu berjam-jam, duduk diam memainkannya. Kalau dilarang, anak bisa melawan orang tua. Jika itu terjadi, berarti tingkat ketergantungan anak pada playstation kronis.

Orang tua biasanya juga mengeluh bahwa mereka cukup kewalahan menghadapi anak-anaknya saat dilarang memainkan playstation. Kalau sedang bermain, rumah menjadi penuh teriakan, umpatan, cacian, ataupun tangisan. Yang menang berteriak senang, yang kalah mencaci maki.

Menghadapi anak-anak yang cukup sulit dikendalikan ketika dilarang bermain playstation, sebagian orang tua mengaku suka mengambil tindakan tegas. Terkadang, kalau anak-anak sudah tidak bisa dikendalikan, mereka akan menyimpan dan mengunci playstation mereka dalam lemari. Mereka membiarkan anak-anak mereka berteriak ataupun menangis meminta, daripada mereka kecanduan playstation yang tidak mendidik.

Selain efek yang terlihat, seperti anak jadi malas belajar dan malas bersosialisasi, playstation juga memiliki dampak yang melibatkan fungsi tubuh. Misalnya, anak jadi terbiasa duduk berjam-jam dengan posisi yang sama, padahal itu merusak tulang. Anak yang “keranjingan” playstation akan cenderung memiliki mata yang rusak. Selain itu, yang dipacu pada alat permainan elektronik ini adalah kemampuan anak untuk bereaksi cepat melalui latihan yang terus-menerus (drilling).

Pada permainan ini, umumnya anak tidak belajar karena kepraktisannya memencet tombol. Ia dihadapkan pada jawaban salah dan benar. Dalam permainan itu pula, umumnya tidak disajikan bagaimana cara untuk sampai pada jawaban benar. Jelas, ini bukan gambaran dari kondisi yang sebenarnya pada anak bahwa untuk mencapai keberhasilan perlu menyelesaikan masalah yang dihadapi.*/Sudirman STAIL (sumber buku: Mengapa Anakku Malas Belajar, penulis: Imam Musbikin)

Rep: Admin Hidcom

Editor: Syaiful Irwan

Update aplikasi Hidcom untuk Android Sekarang juga !

Sebarkan :

Baca Juga