Mereka Memilih Berani

Shalat Jumat Borongan

Shalat Jumat Borongan
Bambang Subagyo
Sofyan bersama istri dan anaknya

KERIKIL-kerikil dalam perjalanan dakwah selalu ada. Demikian pula yang dialami Sofyan. Pada masa awal berdakwah di Ranupane, Lumajang, Jawa Timur, ia nyaris pulang kampung. “Saya tak tahan hawa dinginnya,” katanya.

Rapunane berada di lereng Gunung Semeru. Tepatnya bercokol di ketinggian 2.200 meter di atas permukaan air laut. Tak heran bila udara terasa seperti menembus tulang. Bahkan, kata Ahmad Sofyan Hadi (34), nama lengkap Sofyan, pada Juli dan Agustus, suhu udara mencapai di bawah nol derajad.

Tak mudah mencapai Ranupane. Hanya ojek kendaraan umum yang tersedia. Itupan harus melalui hutan berkilo-kilo dengan kondisi jalan yang sempit dan rusak berat.

Sebelumnya Sofyan tinggal di Senduro, juga Lumajang, sekitar 30 kilometer di bawah Ranupane. Datang ke daerah yang indah alamnya itu, lima tahun lalu, Sofyan membawa sebongkah idealisme. Ia ingin mengembangkan benih Islam yang sudah ditanam di desa yang dulu hampir semua pendudukanya beragama Hindu itu.

Ketika ia datang, penduduk Ranupane sudah mayoritas Muslim. Cuma keadaannya memprihatinkan. “Ada masjid satu, namun keadaannya mati suri,” kata Sofyan.

Karena itu, langkah pertama yang dilakukan ayah satu anak itu adalah menghidupkan masjid. Azan shalat ia kumandangkan lagi, sehari lima kali. Ia juga menggelar shalat Jumat. “Sebelumnya tak ada,” ujar Sofyan.

Sungguh memprihatinkan saat pertama Sofyan mengadakan Shalat Jumat. Jamaahnya cuma satu. Itupun sales yang kebetulan lewat. Jadinya Sofyan borongan. “Saya azan, khatib sekaligus merangkap imam,” katanya.

Sofyan tetap sabar dan terus bergerak. Untuk lebih menghidupkan masjid, ia membuka  pengajian sore dan malam untuk anak-anak. Mulanya hanya beberapa anak, lalu terus bertambah. “Alhamdulillah, sekarang kalau masuk semua, ada 80 anak,” katanya.

Waktu terus berjalan. Benih Islam yang ditanam mulai menyembul. Artinya, kesadaran berislam masyarakat mulai tumbuh. Tiba-tiba saja Sofyan diminta menjadi guru agama di Taman Kanak Kanak (TK). Karena memang di antara guru yang ada tidak ada yang paham agama, Sofyan pun mengiyakan permintaan itu. “Saya satu-satunya guru TK laki-laki,” ujar Sofyan sambil tersenyum.

Ada kejadian yang menghentak hati. Suatu hari Sofyan menjumpai anak kecil tak sekolah. Sebagai guru, hatinya tersentuh. Ia datangi orangtua anak itu, lalu ia ajak masuk TK di mana ia mengajar. Tapi rupanya, niat baik tak selalu berbalas kebaikan pula. Beberapa hari kemudian ia didatangi seseorang.

“Jangan mengajak anak yang sudah sekolah,” kata Sofyan menirukan tamunya. Belakangan ia baru tahu, anak tadi sudah sekolah di TK Kristen, padahal orangtua anak itu Muslim. Dan ia juga baru tahu, tamunya itu menjadi salah satu pengelola TK Nasaro tadi.

Memang, di Ranupane juga berdiri TK Kristen. Itu agak aneh. Sebab, dari seluruh penduduk Ranupane yang berjumlah 500 KK, yang Kristen cuma 7 KK.

Agaknya, masyarakat Ranupane yang terbelakang menjadi incaran empuk Kristenisasi. Rata-rata tingkat pendidikan penduduknya hanya SD. Hanya beberapa gelintir lulusan sekolah menengah. Tentu tantangan dakwah Sofyan semakin berat.*

Rubrik ini atas kerjasama dengan Persaudaraan Dai Nusantara (Pos Dai). Dukung dakwah para dai nusantara melalui rekening donasi  Bank Syariah Mandiri  7333-0333-07 a/n:Pos Dai Hidayatullah, BNI, no rek: 0254-5369-72 a/n: Yayasan Dakwah Hidayatullah Pusat Jakarta, Bank Muamalat no rek: 0002-5176-07 a/n: Yayasan Dakwah Hidayatullah Pusat Jakarta.  Ikuti juga program dan kiprah dakwah dai lainnya serta laporan di portal www.posdai.com

 

 

 

 

Rep: Bambang S

Editor: Cholis Akbar

Share This

Baca Juga