Mimbar

‘Musibah Terbesar’ Bagi seorang Muslim

‘Musibah Terbesar’ Bagi seorang Muslim
sirajuddin muslim/hidayatullah.com
Aparat kepolisian dan warga di atas reruntuhan Masjid Jamiul Jamaah, Dusun Karang Pangsor, Pemenang, Lombok Utara, NTB, Selasa (07/08/2018), setelah dihantam gempa pada Ahad (05/08/2018).

MUSIBAH adalah sesuatu yang menimpa kita, yang tidak mengenakkan. Yang tidak menyulitkan diri kita. Misalkan, tertimpa rasa sakit, demam dan sakit kepala.

Musibah juga bertingkat, mulai dari yang kecil seperti tertusuk duri sampai pada tingkat paling besar, bencana alam. Semua adalah musibah yang menyakitkan dan menyulitkan diri apabila tertimpa.

Beberapa waktu belakangan ini misalkan, mulai dari gempa NTB, likuifaksi beserta tsunami Palu dan yang terakhir di Banten dan Lampung. Semua membawa luka mendalam bagi korban dan keluarga yang ditinggal.

Tapi bagi orang beriman, itu bukan masalah terbesar. Sebab ada jaminan dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, bahwa tidaklah menimpa seorang Muslim sebuah musibah, baik itu berupa rasa sakit, galau, demam, sampai duri yang tertusuk kecuali itu merupakan penggugur dosanya.

Baca: Resep ‘Obat Kuat’ Hadapi Musibah

Bagi seorang Muslim, yang namanya musibah itu bisa jadi sesuatu yang baik selama ia menerima dengan baik dan berprasangka baik kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dalam Hadits lain Rasulullah juga bersabda, bahwa jika Allah mencintai seorang hamba dia akan memberikan musibah atau ujian.

Lantas apa “musibah terbesar” bagi seorang Muslim?

‘Musibah’ terbesar adalah ketika Muslim satu dengan yang lainnya memutuskan silaturahim, ketika mereka bermusuhan tidak bertegur sapa, ketika mereka merenggangkan ukhuwah.

Sebagaimana disebutkan dalam Hadits Nabi, tidak akan masuk surga orang tidak mengajak berbicara saudaranya melebihi 3 hari. Rusaknya ukhuwah akan berdampak pada kesulitan dan kesengsaraan di dunia terlebih di akhirat nanti.

Baca: Ketua MUI Sulteng: Musibah Memberikan Peringatan Penting

Maka tidak heran jika Nabi menjadikan kesempurnaan iman itu di antaranya melalui hubungan persaudaraan yang baik.

Beliau bersabda, “Tidak beriman salah seorang di antara kalian sampai dia mencintai untuk saudaranya seperti dia mencintai untuk dirinya sendiri.”

Maka ‘musibah terbesar’ bagi seorang Muslim bukanlah bencana alam, tapi ‘musibah terbesar’ adalah retaknya ukhuwah.*

 

Asf | Aktivis di Sulawesi Selatan

Rep: Admin Hidcom

Editor: Muhammad Abdus Syakur

Update aplikasi Hidcom untuk Android Sekarang juga !

Sebarkan :

Baca Juga

Umroh Akbar Arifin Ilham

Gedung PPH