Mimbar

Ramadhan, Bulan Tarbiyah Amanah

Ramadhan, Bulan Tarbiyah Amanah
Muhammad Abdus Syakur/hidayatullah.com
[Ilustrasi]

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” Q.S. Al-Baqarah : 183

 

KESYUKURAN yang luar biasa, sebab tahun ini, Allah masih memperkenankan kita untuk berjumpa kembali dengan bulan Ramadhan. Bulan yang di dalamnya tercurah karunia Allah yang luar biasa. Umpama; Dilipatgandakannya pahala ibadah, terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, yaitu lailatul qadr, pintu ampunan Allah dibuka seluas-luasnya, dan seterusnya.

Spesialnya lagi, bulan puasa kali ini datang, pasca Indonesia melaksanakan pemilihan umum yang sangat melelahkan dan menguras emosi. Mulai dari pemilihan DPRD sampai Presiden dan wakil presiden. Doa kita, semoga ibadah puasa ini menjadi wahana terbentuknya kepemimpinan yang amanah di negeri ini kedepannya.

Lho, apa kaitannya puasa dengan kepemimpinan amanah?

Berbeda dengan ibadah-ibadah lain seperti; shalat, haji, zakat yang pelaksanaannya diketahui orang lain. Puasa ibadah yang memiliki keunikan. Ia tersembunyi. Tidak tersiar. Hanya si pelaksana dan Allah semata lah yang mengetahui persis; apakah orang itu berpuasa atau tidak.

Karena itu, bila konsep jujur dan amanah dalam diri tidak menyala, maka bisa saja mengelabui banyak orang. Tak terkecuali keluarga. Umpama secara diam-diam dia meminum air, atau makan nasi sisa sahur saat rumah dalam keadaan sepi.

Ini baru satu aspek, lahiriah ibadah puasa. Sudah sedemikian tarbiyah pendidikan konsep amanah yang Allah berikan kepada hamba-Nya, melalui ibadah shiyam ini. Padahal puasa juga mencakup skup ruhiah juga. Lebih dahsyat. Karena menuntun kaum Muslimin untuk meninggalkan segala perbuatan tercela. Umpama; berdusta atau berkata keji.

Sungguh Allah telah menegaskan, tidak akan menerima puasa orang yang berperilaku demikian. Orang berpuasa tapi tidak mampu menahan diri dari keburukan. Maka upah bagi orang yang demikian itu, tidak lain hanyalah rasa lapar dan dahaga semata. Di sisi Allah ia tidak akan dapat apa-apa. Dengan kata lain; puasanya ditolak.

“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari)

Menjelaskan hadits di atas, Ibnu ‘Arabi menuturkan; Konsekuensi dari hadits tersebut, siapa saja yang telah melakukan dusta yang telah disebutkan, balasan puasanya tidak diberikan. Pahala puasa tidak ditimbang dalam timbangan karena telah tercampur dengan dusta.

Penyakit Akut

Soal kepemimpinan nan amanah, telah terjadi paradoksal di negeri ini. Betapa tidak; di negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, justru mempraktikkan perilaku culas yang membabi buta. Para pemimpin gampang sekali mengumbar janji. Tapi minus realisasi.

Lebih mengerikan, hal serupa menjalar ke ranah hukum. Sudah menjadi rahasia umum, bahwa hukum yang dipraktikkan hari ini, tajam ke bahwa dan tumpul ke atas. Hukum hanya berlaku untuk orang-orang lemah. Namun ketika menyasar pihak penguasa, sangat lambat. Bahkan terkadang disengaja dipetimatikan.

Ini adalah segelintir bukti akan pudarnya konsep amanah yang tengah mewabah di negeri ini. Padahal, Islam sebagai agama rahmat bagi seluruh alam, sangat mengecam perilaku culas semacam ini. Lebih-lebih bagi pemimpin dan penegak hukum. Karena akan menjauhkan pelaku dan negeri yang dipimpinnya dari rahmat Allah. Karena itu sangat dikecam.

Sabda Rasulullah; “Sesungguhnya manusia yang paling dicintai Allah pada hari kiamat dan paling dekat kedudukannya di sisi Allah adalah seorang pemimpin yang adil. Sedangkan orang yang paling dibenci oleh Allah dan paling jauh kedudukannya dari Allah adalah seorang pemimpin yang zhalim.” (HR. Tirmidzi)

Sukses Ramadhan

Semua orang beriman tentu mengharapkan kesuksesan dalam pelaksanaan ibadah puasa. Ibarat sebuah madrasah, barometer kesuksesan, tidak hanya dinilai bagaiman murid menjawab dengan benar dan baik segala soal yang diberikan dalam ruang ujian.

Ujian terbesarnya, justru ketika murid itu telah keluar/tamat sekolah. Kembali ke masyarakat. Ketika ia survive, mampu mempraktikkan nilai-nilai yang diperolah semasa menimba ilmu di masyarakat, itulah murid sukses sejati.

Jadi ada kesinambungan antara masih di sekolah dengan kiprahnya di masyarakat. Pun demikian dengan ibadah puasa ini. Takwa menjadi predikat mereka yang sukses menjalankan ibadah puasa. Satu di antara cirinya; amanah. Karena ciri orang beriman, ia harus mampu memberikan rasa aman bagi orang lain, baik tindakan ataupun perkataannya. Dalam konteks kepemimpinan, itu hanya bisa dilakukan oleh pemimpin amanah.

Dan ini harus menjadi nilai kehidupan. Di mana pun dan kapanpun juga. Karena perintah untuk berperilaku demikian, tidak dibatasi skup ruang dan waktu. Pesannya; “Bertakwalah kamu kepada Allah dimanapun kamu berada.” Bukan “Ketika Ramadhan (semata).” Justru pasca Ramadhan inilah, buah dari ibadah puasa itu diuji, hingga kahirnya bersua dengan Ramadhan pada tahun berikutnya.

Untuk itu mari kita bermunajat; semoga berkat ‘pelatihan’ konsep amanah yang tertuang dalam ibadah puasa ini, bisa membimbing para elite penguasa di negeri ini, menjadi pemimin-pemimpin amanah. Sehingga negeri yang berpenduduk Muslim terbesar di dunia ini pun, menjadi negeri yang disebut; baldatun, thaibatun, wa rabbul ghafur. Allahumma aamin. /*Awan Al-Fatih, mahasiswa STAIL, dan anggota PENA Jawa Timur

Rep: Admin Hidcom

Editor:

Update aplikasi Hidcom untuk Android Sekarang juga !

Sebarkan :

Baca Juga

Umroh Keluarga

Iklan Bazar