Opini

Erdogan dan Kembalinya Hagia Sophia Menjadi Masjid

Erdogan dan Kembalinya Hagia Sophia Menjadi Masjid
Freepik

Hidayatullah.com | BAGI masyarakat Turki setiap 29 Mei ditandai sebagai hari peringatan penaklukan Istanbul. Namun di tahun ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya karena wacana Presiden Turki Recep Tayip Erdogan untuk mengubah kembali Hagia Sophia menjadi Masjid.

Ini tentu menjadi kabar bahagia bagi kebanyakan rakyat Turki. Diubahnya Hagia Sophia dari masjid menjadi museum pada 1935 masih dianggap sebagai luka. Menurut survey termutakhir 70 persen lebih rakyat Turki mendukung rencana Erdogan ini.

Wacana ini juga pernah ramai pada tahun 2014. Rakyat Turki banyak berharap pada Erdogan yang dianggap konservatif religius. Tahun itu Salih Turan, Ketua Asosiasi Pemuda Anatolia telah mengumpulkan 15 juta tanda tangan untuk petisi agar diubah kembali Hagia Sophia menjadi masjid.

Menurutnya Hagia Shopia adalah simbol bagi dunia Islam dan simbol penaklukan Istanbul. Tanpa itu, penaklukan tidak lengkap, simbol bagi dunia Islam itu hilang dan gagal menghormati amanah dari Sultan Muhammad Al-Fatih, penakluk Istanbul.

Wacana untuk mengubah kembali Hagia Sophia menjadi masjid menarik banyak perhatian masyarakat. Bahkan menjadi bahan perdebatan dalam perseteruan politik, baik domestik Turki maupun internasional. Partai Oposisi Turki berideologi sekuler CHP menuduh langkah ini bermuatan politis untuk meraih dukungan rakyat Turki.

Ketegangan juga terjadi pada negara tetangga, Yunani secara terbuka menentang rencana Turki untuk mengubah Hagia Shopia. Presiden Erdogan mengatakan bahwa “Hagia Sophia bukan urusan Yunani.” Menteri Luar Negeri Mevlüt Çavuşoğlu menyatakan bahwa Hagia Sophia bukan masalah internasional.

Yunani dan Turki memang tengah dalam perselisihan sengit tentang energi. Turki berencana untuk memulai eksplorasi minyak di Meditarania Timur setelah mencapai kesepakatan dengan pemerintah Libya.

Yunani menentang rencana ini karena dianggakp melanggar Yurisdiksi maritimnya. Sementara di wilayah yang disengketakan itu ada proyek pengembangan pipa oleh Yunani, Siprus dan Israel yang mengangkut gas Meditarania Timur ke Eropa.

Di Timur Tengah, perubahan Hagia Sophia juga mendapat reaksi dari Mesir. Lembaga Fatwa Mesir Darul Ifta menyebut bahwa penaklukan Konstantinopel sebagai invasi atau pendudukan oleh Utsmaniyah. Menurut Darul Ifta, Erdogan sengaja memanfaatkan retorika agama untuk kepentingan politiknya.

Fatwa Darul Ifta langsung memicu kontroversi. Setelah dihujani berbagai kritik, Darul Ifta kemudian menarik fatwanya tentang invasi atau pendudukan Istanbul. Namun, Darul Ifta tetap pada pernyataannya tentang Erdogan telah memanfaatkan senjata agama untuk memperkuat tiraninya.

Fatwa ini tentu tidak lepas dari ketegangan hubungan Mesir dan Turki. Ketegangan itu bermula sejak kudeta Presiden Muhammad Mursi pada 2013. Hingga kini, Erdogan menyebutnya sebagai kudeta militer terhadap pemerintahan yang sah dan terpilih secara demokratis.

Ketegangan politik ini berlanjut sampai ke konflik Libya. Erdogan yang mendukung pemerintahan Kesepakatan Nasional di Tripoli yang diakui oleh PBB. Kelompok ini berseteru dengan Milisi Jenderal Haftar yang didukung Mesir. Pasukan Haftar sudah berkali-kali mencoba menguasai Tripoli namun gagal, puncaknya saat dukungan Turki terhadap pemerintah sah Libya dapat memukul mundur pasukan Haftar.

Hingga kini pembahasan tentang Hagia Sophia selalu disertai oleh isu politik, bukan murni tentang bangunan bersersejarah peninggal Muhammad Al-Fatih saja. Bagi negara-negara yang terlibat ketegangan dengan Turki dan pendukungnya akan menyikapi wacana Hagia Sophia dengan sikap reaktif.

Padahal perubahan Hagia Shopia adalah sah-sah saja. Hagia Sophia diubah dari masjid menjadi museum di bawah dekrit kabinet, sekarang pemerintah dan rakyat Turki sah jika ingin merubahnya kembali menjadi masjid.

Sejarah Singkat Hagia Sophia

Hagia Sophia dibangun pada abad keenam selama Kekaisaran Bizantium Kristen dan menjadi pusat Gereja Ortodoks Yunani, digunakan sebagai gereja selama 916 tahun dan dikonversi menjadi masjid oleh Sultan Muhmammad Al-Fatih setelah menaklukkan Istanbul pada 1453.

Pemenang selalu memerintah yang kalah. Sultan Muhammad Al-Fatih memiliki jiwa besar. Dia bisa menjadikan mereka semua sebagai budak jika dia mau. Namun, semua orang diberikan kewarganegaraan Utsmaniyah gratis.

Bahkan pemuka agama Kristen Orthodox Yunani diberikan status formal dan diberi hak istimewa khusus. Sultan Mehmed sekarang adalah penguasa dua kerajaan.Setelah restorasi dilakukan selama era Ottoman dan menara ditambahkan oleh Mimar Sinan, Hagia Sophia menjadi salah satu monumen terpenting dari arsitektur dunia.

Struktur bangunan diubah menjadi museum selama pemerintah Turki sekuler pada tahun 1935, Hagia Sophia yang dijuluki Keajaiban Dunia ke-8 oleh para sejarawan, adalah salah satu museum yang paling banyak dikunjungi di dunia dalam hal seni dan sejarah arsitektur, menyambut para pengunjung dengan segala kemegahannya.* Rofi Munawwar

Rep: ~

Editor: Rofi' Munawwar

Update aplikasi Hidcom untuk Android Sekarang juga !

Sebarkan :

Baca Juga

Dompet Dakwah Media