Tsaqafah

Mencari Hikmah dan Kebenaran Sejati di Era Sains Modern

Mencari Hikmah dan Kebenaran Sejati di Era Sains Modern

 Oleh: Daru Nurdianna

 

DALAM kehidupan ini, banyak hal yang sebenarnya belum diungkap. Ilmu sains yang luar biasa ini masih saja ada bagian alam yang tidak bisa dihitung pasti. Anasir-anasir sains memang sangat hebat. Mampu menghantarkan manusia sampai titik ini. Zaman Modern. Bagaimana tidak? bangunan bisa kita lihat menjulang tinggi dan teknologi digital zaman ini bukankah luar biasa?

Namun sains dan teknologi memang memberi manfaat, namun di sisi lain ternyata juga memberikan dampak negatif pada kerusakan lingkungan, pemanasan global, dan krisis masalah sosial-ekonomi-politik. Adapun dalam masyarakat sains dan diri manusia-manusia modern ala Barat, di dalamnya mengalami kekeringan spiritual. Gersang. Tandus dan gerah. Sehingga, hikmah dan kebahagiaan sejatinya telah menyublimtertelan tragedi.

Pun, kebenaran rahasia alam yang dikandung di dalam sains adalah kebenaran sementara. Bukan kebenaran yang sifatnya mutlak dan sejati. Artinya, ia sah-sah saja bila nantimengalami pergeseran paradigma ketika ada penemuan lain yang kebenarannya diakui oleh masyarakat sains.

Menurut Thomas Kuhn, perpindahan paradigma akan terjadi dalam jalur yang tidak linear. Kemudian, pergeseran paradigma itu membuka pendekatan baru untuk memahami sesuatu yang lain yang dianggap lebih benar dari yang sebelumnya. Selain itu, kebenaran ilmiah tidak hanya melalui ditetapkan kriteria objektif saja, melainkan juga dari konsensus-konsensus komunitas ilmiah.

Kebenaran sains merupakan kebenaran yang dianggap mendekati kebenaran. Karena tidak ada kesimpulan sains yang mutlak benar. Pasti ada sesuatu yang tidak bisa dipastikan. Sesuatu yang belum bisa dipastikan secara eksak misalnya adanya angka koma dibelakang konstanta-konstanta rumus sains.

Kita ambil contoh rumus yang sangat familiar, yakni phi (π). Rumus ini banyak ilmuwan yang memikirkan bagaimana menghitung jari-jari lingkaran. Sehingga memiliki rumus dan pendekatan-pendekatan yang berbeda.

Pertama misalnya yang drumuskan oleh John Machin (1706), rumusnya 4*arc tan (1/5) – arc tan (1/239).Di sisi lain, pada abad ke-5, ahli astronomi China menemukan pendekatan yang menurutnya paling benar sampai enam angka desimal adalah 355/113.Ada juga pada tahun 1737, Leonhard Euler, memiliki pendekatan π-nya dari lingkaran berjari-jari kelipatan 7 adalah 22/7.

Sementara itu, ribuan tahun yang lalu,ternyata sudah tercatat bahwa ilmuwan bernama Archimides mampu menghitung nilai dari rumus π dengan menggunakan pendekatan dari sebuah heksagon beraturan, yang dilipatgandakan jumlah sisinya sampai 96 sisi. Dari situ, nilai π ditemukan lebih dari 223/71tetapi kurang dari 220/70atau 223/71 < π < 220/70, dan nilai pendekatan 220/70 yang disederhanakan menjadi 22/7inilah yang paling populer.

Ada juga yang menghitungnya dengan cara menggunakan fungsi limit dalam perhitungan kalkulus. Rumus yang dapat dipakai adalah π = lim 3600/a*sin(a/2).Dan masih ada pendekatan-pendekatan lain yang tidak bisa dibahas dalam tulisan pendek ini.

Adapun nilai π sampai 100 angkadesimal adalah 3.1415926535897932384626433832795028841971693993751058209749445923078164062862089986280348253421170679…

Catatan dari Wikipedia sekarang, perkiraan manual π dipegang oleh William Shanks, yang menghitung 527 digit pada tahun-tahun sebelumnya 1873. Kemudian  pertengahan abad ke-20, perkiraan π telah menjadi tugas komputer digital elektronik; pada November 2016, catatannya adalah 22,4  triliun digit. Pada Maret 2019 Emma Haruka Iwao, seorang karyawan Google dari Jepang yang dihitung dengan rekor dunia baru panjang 31 triliun angka dengan bantuan layanan cloudkomputasi.

Entah, siapa lagi nanti yang menghitung angkanya, kemungkinan besar akan terus bertambah. Jadi sebenarnya, nilai eksak dari π belum pernah dapat ditentukan.

Baca: Mencari Sains Islam 

Kekuasaan Tuhan dan Akal Manusia

Sebagai manusia yang memiliki kehidupan yang sementara ini (temporal life), sudah sewajarnya untuk selalu ingat ada Tuhan yang menciptakanseluruh jagad raya. Ini adalah tanda-tanda kebesaran-Nya. Bahwa di alam ada sesuatu yang tidak bisa dipecahkan oleh akal dan indra  manusia.

Namun persoalannya tidak semua masyarakat sains mau memahami bahwa Tuhan ada dan senantiasa mengawasi dan mengatur alam. Hal ini karena sains yang menghasilkan rumus itu, didasari oleh pandangan dunia (worldview) tertentu dalam memahami hakikat alam ini. Dimana pandangan dunia ini nanti akan mempengaruhi kesimpulan dan sikap seseorang. Jika ia memandang dunia ini dengan kacamata dualisme-sekularisme, maka ia akan tidak menerima informasi-informasi yang datang dari agama karena tidak empiris-ilmiah, sehingga Agama dan Sains menurut mereka sebaiknya dipisah saja.

Kesimpulan itu didapat melalui perjalanan yang panjang. Orang-orang Barat telah lama membahas dialektika metafisika dan fisikayang menautkan hakikat dan hubungan kausalitas adanya Tuhan dan adanya alam. Sejak zaman Yunani Kuno sampai zaman modern. Walhasil, Peradaban Barat memilih sekular. Memisahkan yang fisik dan metafisik. Jadi, kalau membicarakan Sains, jangan membicarakan agama.

Tak jemu kita kembali terangkan. Semua terjadi sejak teosentrisme yang bergeser menjadi antroposentrisme.Hal ini jelas karena pernyataan sekular lahir dari tokoh-tokoh teolog mereka sendiri. Salah satu seorang teolog agama Barat, Harvey Cox dalam bukunya yang sangat terkenal ‘The Secular City’ mengatakan bahwa sains bisa berkembang dan maju, jika di dunia ini dikosongkan dari tradisi atau agama yang menyatakan adanya kekuatan supernatural di dunia ini. Menurutnya, jika dunia ini dianggap manifestasi dari kuasa supernatural, maka sains tidak akan maju danberkembang.

Pernyataan sekular juga keluar dari pemikir besar dan berpengaruh, yakni Emanuel Kant. Katanya pengetahuan itu adalah mungkin, namun metafisika adalah tidak mungkin, karena tidak berlandaskan panca indra. Kant disini membuat demarkasi yang tegas bahwa agama adalah tidak ilmiah dan sains adalah imiah.

Kemudian, ideologi sekular ini akhirnya mejadi fondasi kepada berbagai disiplin ilmu dan pengetahuan. Disinilah letak ketidakmurniannya dan kenetralannya ilmu sains modern. Ia sesungguhnya terpengaruh budaya Barat.Hal ini membuat ilmu itu tidak sejati.

Baca:b Kritik Terhadap Sains Modern [1]

Mencari Kebenaran Sejati dengan Integrasi Ilmu

Kenapa perlu melakukan kajian integrasi ilmu oleh masyarakat muslim? Karena kajian integrasi ilmu merupakan dampak dari adanya penggunaan pandangan hidup Barat yang menjadi ‘trendsetter’ dalam sistem pendidikan nasional maupun internasional. Latar belakang itulah yang perlu digarisbawahi. Karena masyarakat Muslim seharusnya memakai sistem dan konsep pendidikannya sendiri yang khas.

Adapun dalam dialog pengembangan ilmu pengetahuan, ada empat tipologi hubungan Agama dan Sains. Pertama, adalah hubungan konflik. Contoh populernya adalah kisah Nicolas Copernicus dan Galileo Galilei yang menemukanpusat tatasurya adalah Matahari, bukan Bumi.Hal ini membuat agamawan di Barat ketika itu tidak mau menerimanya lantaran menyalahi dogma ajarannya. Lau, apa yang terjadi? Kedua ilmuwan itu dihukum dan disiksa. Diinquisisi.

Kedua, adalah relasi independensi. Disini terjadi otonomi masing-masing dari pihak Agamawan dan kaum intelektual di Barat. Sendiri-sendiri, tidak mau saling  mengurusi lagi. Sama-sama dipandang saling memberi kerugian dari kedua belah pihak.

Ketiga, adalah relasi dialogis. Dalam hubungan ini, agama dan sins mulai saling membuka hati. Mencari bagian agama dan bagian sains yang memiliki kesamaan untuk didialogkan bersama untuk membentuk hal yang konstruktif dan bahkan bisa saling mendukung.

Keempat, adalah relasi integrasi.Tipe hubungan integrase ini lebih membangun dari pada tipe ketiga. Hubungan inilah yang perlu digalakkan. Terutama umat Islam yang dalam sejarahnya tidak memiliki sejarah yang sama dengan hubungan agama dan sains di Barat.

Adapun sains dan ilmu pengetahuan Barat, memang kita kritik, namun bukan berarti Islam anti semua yang dari Barat.Peradaban Islam telah terbukti dalam pencapaian kemegahannya pada abad keemasannyamampu membangun peradaban melalui Ilmu dari peradaban Yunani yang sempat hilang, disalin dan diserap ke dalam Peradaban Islam oleh para Ulama. Ilmu dari Ulama Muslim itulah yang diambil Barat sehingga mereka bangkit dan mengalami renaissance dari zaman kegelapan sampai zaman modern sekarang ini.

Dalam integrasi ilmu, akan ditemukan bahwa sains modern dan ajaran agama dari al-Qur’an dan as-Sunnah sama-sama dianggap memiliki pandangan dunia yang saling berhubungan. Dan ajaran Agama yang berpusat pada sistem Tauhid, dijadikan basis sains dan ilmu pengetahuan tanpa harus memisahkannya.Dalam diskusi filsafat ilmu di ruang epistemologi, al-Qur’an dan as-Sunnah disebut sebagai ‘Khabar Ṣādiq’ (berita yang benar) dan salah satu sumber ilmu pengetahuan yang sah.

Jadi perlu untuk adil dalam ilmu pengetahuan. Ilmu mengenal Allah adalah ilmu yang paling utama dan paling tinggi bagi seorang Muslim dari cara pandang Islam (Islamic Worldview). Logika sederhana, tidak mungkin Ssains yang merupakan kebenaran yang kebenarannya hasil dari konsensus kebenaran yang disepakati dan bersifat sementara itu,lebih tinggi nilainya dari pada kebenaran al-Qur’an.

Sains akan diposisikan sebagai salah satu ilmu penting yang tidak ada pertentangan dengan ajaran Agama. Dimana manusia boleh mempelajari dan menggunakan Sains itu untuk kepentingannya hidup di dunia dan yang dapat membantunya mencari bekal di akhirat.  Sederhanya, al-Qur’an bukanlah kitab sains, namun inspirasi-inpirasi sains ada dalam al-Quran. Jadi, al-Qur’an itu lebih dari sains.

Al-Qur’an berisi konsep yang bersifat seminal. Seminal konsep ini perlu diturunkan kembali menjadi konsep. Lalu konsep itu digunakan untuk mengembangkan sains dan teknologi. Bersamaan itu juga, teknologi yang akan dicipta dikawal dengan kerangka Maqāṣid al-Syarī’ah dan tradisi intelektual Islam para ulama Salaf.

Begitulah pembahasan secara umum bagaimana mengintegrasikan sains dan agama. Dari sinilah akan terbentuk kebenaran sains yang tidak sekular dan tetap dalam lajur satu kebenaran sejati. Kemajuan akan lebih bermakna dan hikmah akan tetap menyala di hati.Wallahu’alam.*

Penulis Alumni Program Kaderisasi Ulama Universitas Darussalam  Gontor Angkatan XII;Staff Kepondokan PPTQ Abi-Ummi, Ampel, Boyolali

Rep: Admin Hidcom

Editor: Cholis Akbar

Update aplikasi Hidcom untuk Android Sekarang juga !

Sebarkan :

Baca Juga

Hidayatullah Depok

Iklan Bazar