Tsaqafah

Pertentangan Islam dengan Komunisme dan Komunisme Mode Baru [2]

Pertentangan Islam dengan Komunisme dan Komunisme Mode Baru [2]
Pendukung Komunis di Kerala India mengibarkan bendera komunisme dan gambar Che Guevara

Sambungan atikel PERTAMA

 

Oleh: Derajat Fitra

 

Hidayatullah.com —Menengok pada dokumen yang berjudul “Tegakkan PKI yang Marxis-Leninis untuk Memimpin Revolusi Demokrasi Rakyat Indonesia” yang diterbitkan bulan September 1971 oleh delegasi CC PKI memahamkan kita tentang masih hidupnya ide-ide marxis atau komunis, khususnya di Indonesia. Meskipun PKI dalam bentuknya yang resmi atau formal telah mati dengan adanya ketetapan MPRS nomor XXV/MPRS/1966 tahun 1966, namun dokumen itu menegaskan bahwa komunisme sebagai ide atau spirit perjuangan tidak pernah ikut mati. Dokumen yang muncul setelah tahun 1966 tersebut mempertegas dukungan PKI dengan bentuk non-resmi itu terhadap pemikiran Mao Zedong yang mengembangkan teori-teori Marxisme-Leninisme. Marxisme-Leninisme-Moisme diakuinya sebagai ideologi dan dasar teori yang membimbing seluruh partai dan dipercaya akan menjamin kemenangan revolusi Indonesia.

Selain itu, dokumen ini juga menandaskan bahwa PKI non resmi itu adalah satu tipe partai komunis mode baru yang secara militant berjuang mempertahankan kemurnian Marxisme, dan melawan kaum revisionis Indonesia yang didalangi oleh kaum revisionis modern Rusia, serta dalam menyambut dengan gembira kemenangan Revolusi Besar Kebudayaan Proletar China yang telah mengkonsolidasi China Sosialis sebagai benteng revolusi dunia yang paling kokoh dan terpercaya. Dalam dokumen yang dikeluarkan oleh Politbiro CC PKI ini, PKI non resmi mengakui bahwa PKI pada periode tahun 1951-1965 silam belumlah menguasai dan belum menggunakan pendirian, pandangan, dan metode Marxis-Leninis ke dalam praktek kongkrit revolusi Indonesia, sehingga telah membuat kesalahan-kesalahan dan karena itu menyebabkan kegagalan dalam menggulirkan revolusi untuk sementara waktu.

Namun seiring perjalanan dari waktu ke waktu, pada kenyataannya komunisme mengalami perkembangan dan menjadi memiliki definisi yang beragam. Komunisme dewasa ini tidak lagi membatasi diri hanya pada pemikiran Marx, Engels, Lenin, atau Mao semata. Komunisme menjadi suatu kumpulan teori dan praktik tokoh-tokoh besar komunis seperti Marx, Engels, Lenin, Stalin, dan Mao, yang tiada lain menjadi salah satu khazanah pemikiran dan pergerakan, yang mencerminkan upaya-upaya kaum komunis untuk menyesuaikan doktrin-doktrin komunisme dengan keadaan sosial-politik kongkrit yang dihadapi tokoh-tokoh tersebut sebagai pemimpinnya di wilayahnya masing-masing.

Meskipun demikian, doktrin-doktrin komunisme itu tetap merupakan satu kesatuan pemikiran dan gerakan sosial, ekonomi, serta politik yang pokok pemikirannya mengacu pada prinsip dasar Marxisme yang bersifat revolusioner dan bermaksud merebut serta menjalankan kekuasaan yang direbutnya berdasarkan doktrin-doktrinnya untuk mewujudkan cita-cita membentuk masyarakat komunis. Ciri utamanya adalah sifatnya yang totalitarian, di mana partai komunis berfungsi sebagai alat untuk mengatur segala aspek kehidupan rakyatnya termasuk dalam bernegara dan beragama. Doktrin-doktrin komunisme bersifat antroposentris, di mana pembebasan kelas proletariat sebagai kelas tertindas oleh kelas proletariat itu sendiri dan melalui revolusi sosial merupakan isu dan agenda utamanya.

Namun, revolusi sosial yang digadang-gadang komunisme akan terjadi itu tampaknya telah musnah. Selain kekusutan dalam internal kaum Marxis dalam menentukan tradisi Marxis yang sejati, perkembangan globalisasi kapitalisme dewasa ini turut menjadi rintangan besar lain yang membuat komunisme atau Marxisme mustahil menemukan relevasinya lagi. Kapitalisme saat ini hadir seolah menjadi pengganti komunisme dalam mewujudkan hadirnya masyarakat internasional, di mana alat-alat produksi secara merata telah dimiliki oleh hampir seluruh manusia hari ini, yaitu gawai, laptop, atau produk teknologi informasi semacamnya, yang dapat dimaknai sebagai alat produksi untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Sistem kapitalis mewujud menjadi masyarakat birokratis internasional yang baru, seolah tanpa kontradiksi dalam internalnya sendiri, sedangkan Marxisme (yang mendasarkan diri pada kontradiksi dalam sistem ekonomi kapitalisme dan perjuangan ekonomi, sosial dan politik) justru semakin terang bukti kesalahannya. Pemikiran tokoh seperti James Burnham yang meramalkan akan perkembangan demikian dapat dikatakan terbukti benar. Dan tulisan Trotsky benar saat membicarakan kemungkinan tersebut, yang mana dalam kasus semacam ini, kata dia “hanya tinggal mengakui bahwa program sosialis Marxis atau komunis, yang mendasarkan diri pada konstradiksi internal kapitalisme, ternyata hanya utopia atau angan-angan juga.” (John Molyneux, What is the Real Marxist Tradition? Disadur dan diterjemahkan oleh Julian. Ismantoro Dwi Yuwono’s Library. Halaman 1-3).

Dan kenyataannya, globalisasi kapitalisme telah mengubah basis hampir seluruh negara komunis menjadi negara komunis mode baru tipe lain, yakni tipe negara komunis yang cenderung kapitalis. Bahkan, implementasi diktator proletariat atau partai komunis sebagai bentuk partai tunggal dan sebagai bentuk transisi dari penghilangan semua kelas sosial sehingga tercipta masyarakat tanpa kelas, justru memunculkan kelas sosial baru, yaitu kelas birokrat yang menjadikan negara sebagai perusahaan raksasa yang menguasai kapital (Corporate State). Sejatinya, komunisme atau marxisme itu hancur dalam perjalanan sejarahnya karena mengalami kontradiksi di dalam internalnya sendiri.

Lebih lanjut, sepeninggal Marx, komunisme dihadapkan dengan munculnya istilah “Marxis” dan “Marxian.” Dua istilah yang membedakan pengikut Marxisme yang memperjuangkan kemurnian pemikiran Marx secara keseluruhan dengan pengikut Marxisme yang hanya memakai berbagai sudut pandang Marx sebagai pisau analisa untuk diramu dengan berbagai pemikiran lain dan disesuaikan dengan kondisi zaman. Istilah “Marxis” dipakai untuk menunjuk kepada para pengikut Marx dan berbagai pemikirannya yang militan, sementara istilah “Marxis-Marxian” digunakan untuk menunjuk kepada para pemakai berbagai sudut pandang Marx sebagai metode analisis. Kelompok pemikiran yang digolongkan sebagai Marxis, di antaranya seperti, sosialisme Marxis atau komunis, marxisme ortodok, feminisme marxis, psikologi marxis, dan lain sebagainya. Adapun pemikiran-pemikiran yang digolongkan sebagai marxis-marxian antara lain seperti pemikiran aliran Frankfurt atau neo-marxis, posmarxisme, teologi pembebasan, marhaenisme, dan lain sebagainya. (Wahyu Budi Nugroho. 2019. Memahami Kembali Marx, Marxisme, dan Perkembangannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Halaman 119-120).

Menurut pembedaan itu, komunisme mode baru yang berjuang dan tetap dalam koridor ajaran Marxis yang murni dapat digolongkan sebagai kelompok “Marxis”, sementara komunisme mode baru yang cenderung kapitalis masuk kategori “Marxian.” Namun demikian, munculnya beragam aliran Marxis di abad ke-20 itu menjadi kekusutan yang mesti diuraikan, baik oleh kaum komunis secara khusus maupun kaum Marxis secara umum, yang berjuang mengkontekstualisasikan Marxisme, agar terang benderang, mana ajaran atau metode yang benar-benar bersumber dari tradisi Marxis yang sejati, yang mereka perjuangkan itu?

Kekusutan lain yang jauh lebih rumit: bahwa dalam kenyataan sejarahnya kaum Marxis sering saling memenjara, memerangi serta membunuh; yang lebih merisaukan lagi, bahwa dalam semua konflik sosial, ada banyak kelompok atau tokoh-tokoh Marxis mengambil sikap yang sama sekali bertentangan satu sama lain. Misalnya, Lenin dan Plekhanov (seorang tokoh sosial-demokrat) di Rusia tahun 1917; Partai Komunis dan partai revolusioner POUM di Spanyol masa pemberontakan di Barcelona tahun 1936; dan di Eropa Timur masa runtuhnya blok Soviet. (John Molyneux, What is the Real Marxist Tradition? Disadur dan diterjemahkan oleh Julian. Ismantoro Dwi Yuwono’s Library. Halaman 1-3).

Meskipun memiliki faktor yang memustahilkannya untuk relevan dengan kehidupan, ide-ide marxisme atau komunisme tampaknya tidak akan pernah mati dalam benak para pengikutnya. Meskipun kekusutan dalam internal Marxis sendiri, dan perkembangan globalisasi kapitalisme yang semakin mendominasi dunia menyebabkan pergeseran teori-teori sosial Marxis dan negara-negara komunis dari basis kolektif-sosialis menjadi berbasis individual-kapitalis, tampaknya tidak akan menyebabkan ide-ide marxis atau komunis mati membusuk. Sebagaimana Marx sendiri menginginkan bahwa marxisme tetap menjadi sebuah ilmu pengetahuan, agar ia bisa dikritik dan akan terus berkembang sesuai kondisi zaman. (Wahyu Budi Nugroho. 2019. Memahami Kembali Marx, Marxisme, dan Perkembangannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Halaman 115-117).

Selain itu, tokoh komunis besar seperti Njoto pun mengamini keinginannya itu dengan mengungkapkan bahwa meskipun Karl Marx meninggal, teorinya bukan saja hidup terus, tetapi yang paling hidup di antara sekalian teori yang hidup.  (Njoto. 1962. Marxisme Ilmu dan Amalnya. Halaman 24-25). Marxisme atau komunisme sebagai ide yang terus dibincangkan dalam diskursus ilmu dan terus menginspirasi pemikir dan praktisi yang tetap setia dengan ide-ide marxis atau komunis akan tetap hidup. Tentu dengan mode, gaya atau kemasan baru yang dipimpin oleh tokoh-tokoh pemikir atau pergerakan yang ingin menyesuaikannya dengan kondisi zamannya masing-masing, dari generasi ke generasi, sampai batas waktu yang tidak diketahui. Atau paling tidak, boleh jadi sampai dominasi kapitalisme yang menindas berhasil lenyap dari muka bumi.

Terlepas dari kontradiksi dalam internal marxisme dan banyaknya aliran marxis yang berbeda-beda bahkan saling bertolak belakang, seorang komunis yang komitmen dengan pendirian komunisnya tentu mesti sesuai dengan pendirian Marx atau marxisme yang murni secara utuh, yakni meliputi basis, metode, dan visi pendiriannya. Tanpa begitu kekomunisan atau kemarxisan seseorang hanya omomng kosong. Sebab bagaimanapun, pemikiran Marx adalah pegangan utama bagi seluruh pergerakan kaum komunis dan partai komunis, bahkan rujukan atau sumber inspirasi utama bagi kaum marxis dan marxian di seluruh dunia. Marxisme terdiri dari tiga sumber atau tiga bagian, yakni filsafat, ekonomi politik, dan sosialisme; Pertama, filsafat Marx atau marxisme adalah materialisme dialektis yang bersumber dari filsafat Jerman. Inspirasi materialisme bersumber dari Ludwig Feurbach (1804-1872) dan inspirasi dialektikanya bersumber dari Georg Wilhelm Friedrich Hegel (1770-1831).

Meskipun dimensi dialektika merupakan hal terpenting yang membedakan materialisme Marx dengan materialisme Feurbach yang mekanik dan corak-corak materialisme lainnya, sebagaimana diakui Aidit, bahwa materialisme Marx pada dasarnya sama dengan aliran-aliran materialisme lain. Seperti halnya aliran-aliran materialisme yang lain, materialisme dialektika mengakui bahwa materi adalah primer sedangkan pikiran atau ide adalah sekunder. Artinya, segala macam gejala yang ada di alam semesta, termasuk jiwa, mempunyai dasar yang sama, yaitu materi. Alam semesta pada hakikatnya adalah materil, dan dunia materil adalah satu-satunya dunia yang nyata atau riil. (DN Aidit. 1962. Tentang Marxisme. Halaman 8-29).

Dalam filsafat materialisme, segala sesuatu hakikatnya adalah materi dan materi adalah sesuatu yang objektif, yakni berada di luar jangkauan persepsi indera atau kesadaran manusia dan hasil observasi inderawi adalah landasan berpikir yang menentukan kebenarannya. (Budi Hardiman, Filsafat Modern. Jakarta: Gramedia, 2004. hlm 236). Dengan demikian, dalam pemikiran Marx materi adalah satu-satunya yang hakiki, (David Walker Daniel Gray, Historical Dictionary of Marxism.The Scarecrow Press, Inc. Lanham, Maryland, Toronto, Plymouth, 2007, hlm 86-87). dan metode empiris adalah satu-satunya neraca kebenaran sehingga Tuhan yang ghaib, wahyu, atau agama yang bersumber dari Tuhan yang ghaib itu jelas dinafikan. Kalo pun Tuhan diterima dalam pemikiran Marx, Tuhan yang dibayangkannya adalah sesuatu yang materil atau tahap sekunder dari materi.

Kedua, ekonomi politik Marx bersumber dari ekonomi klasik Inggris. Marx mendasarkan analisis ekonominya kepada dasar-dasar ekonomi hasil pemikiran ekonom kapitalis seperti Adam Smith (1723-1790) dan David Ricardo (1772-1823). Berkat penelaahannya itu, Marx menyingkapkan hubungan antara manusia dengan sistem ekonomi kapitalisme. Dalam sistem kapitalis tenaga kerja manusia menjadi barang dagangan. Dan dari sinilah Marx menjelaskan bagaimana kaum buruh menghasilkan nilai-lebih yang menjadi sumber kekayaan kaum kapitalis. (Dede Mulyanto, Geneologi Kapitalisme, 96-97).

Ajaran Marx tentang nilai-lebih inilah yang menjadi pangkal teori ekonomi Marxis. Ketiga, sosialisme Marx bersumber pada ajaran sosialisme klasik Prancis, yang sarat dengan jiwa patriotisme dan nasionalisme, menjunjung tinggi kebebasan dan persamaan hak, serta terkenal dengan slogannya liberte, egalite, dan fraternite. Pergerakan sosial-politik rakyat Perancis yang demikian hidup dan terorganisir sangat terpengaruh oleh tulisan-tulisan para tokoh sosial-politik mereka seperti JJ. Rousseau, Charles Fourier, Heri Saint-Simon, dan lain sebagainya. (Muhamad Yakub Mubarok. 2017. Problem Teologis Ideologi Komunisme. Jurnal Tsaqafah Vol. 13, No. 1, Mei 2017, 45-70).

Sosialisme Marx diklaim sebagai ilmiah, sebab tidak berdasarkan semata-mata pada kemauan baik atau moralitas dan akal subjektif, melainkan berdasarkan hukum-hukum yang objektif dalam perkembangan masyarakat. Marx menarik kesimpulan bahwa perjuangan kelas buruh adalah lokomotif kemajuan masyarakat untuk menjadi masyarakat sosialis-komunis.

Tiga tradisi keilmuan itulah yang menjadi inspirasi Marx dalam menyusun langkah-langkah pergerakan bagi kaum buruh secara terorganisir dalam meraih kekuasaan sehingga menjadi ramuan pemikiran yang merupakan sumber dari pokok-pokok dasar ajaran komunisme. Tentu saja, dalam memperjuangkan kebebasan manusia dari eksploitasi sistem ekonomi kapapitalisme mesti berprinsip pada materialisme dialektika dan menjadikan metode empirik sebagai satu-satunya neraca kebenaran. Sebagaimana filsafat materialisme dialektis, di bawah pimpinan Marx dan Engels memproklamirkan : “Hari Akhir filsafat” yang mengacu pada pemikiran-pemikiran spekulatif yang subjektif.

Artinya, semenjak lahirnya sosialisme Marx yang dinyatakan ilmiah, ilmu kemasyarakatan pun sudah selayaknya didasarkan atas hukum ilmu pengetahuan empirik. (Tan Malaka. 1948. Pandangan Hidup. Marxists.org: archive). Selain itu, pun mesti diakui bahwa kesadaran manusia tidaklah menentukan realitas material, atau cara, melainkan sebaliknya, realitas material yang menentukan kesadaran. Di dalam realitas material itu terjadi kontradiksi yang merupakan proses dialektis objektif yang tidak tergantung pada kesadaran. Kemudian pada tahap tertentu, kontradiksi tersebut akan memicu revolusi sosial melalui negara proletariat sebagai representasi perjuangan kelas buruh, yang mengubah cara-cara produksi material dan pada akhirnya menciptakan masyarakat tanpa kelas, yang mana semua manusia menguasai sarana produksi secara merata, sebagai tanda terhapusnnya sistem kapitalisme. (Karl Marx, A Contribution to The Critique of Political Economy. Translated from the second German edition by N.I Stone. Chicago: Charles H Kerr & Company, 1904, hlm 11-13).

Tanpa mengafirmasi ajaran-ajaran tersebut sebagai pemikiran Marx dan sebagai elemen-elemen pokok ajaran komunisme, maka sejatinya tidak akan mungkin seorang komunis, marxis atau marxian, di mana pun, termasuk di Indonesia, dapat berpijak atau menyandarkan pemikirannya secara keseluruhan ataupun sebagaian, pada tradisi Marxis yang sejati atau bangunan pemikiran Marx yang murni.

Islam Menentang Komunisme

Seorang pemikir Islam dan juga menteri Agama Republik Indonesia yang pertama, yakni Mohammad Rasjidi menjelaskan; Komunisme tidak tumbuh  di antara kaum buruh rendahan yang nasibnya akhir-akhir ini telah mengalami banyak perbaikan dari atasannya. Komunisme adalah gerakan yang mula-mula muncul dari kalangan orang-orang kaya atau borjuis  dan berkembang atas pengaruh kalangan terpelajar.  Hakikatnya, komunisme adalah sekumpulan buah pemikiran yang mengisi kehampaan akibat kendornya hidup keagamaan, yaitu kekendoran yang diakibatkan oleh pikiran yang mengesampingkan agama sejak berakhirnya abad pertengahan Barat yang lalu.

Komunisme adalah pandangan hidup  (weltanschauung atau worldview) yang didasarkan atas  doktrin-doktrin filsafat, ekonomi, politik, dan sosial serta menganggap dirinya mampu menafsirkan dunia dengan tafsiran yang masuk akal. Komunisme atau marxisme adalah ajaran yang menyentuh keseluruhan aspek kehidupan dunia, sehingga seseorang yang mengakui diri sebagai komunis atau marxis tidak bisa menerima hanya sebagian dari ajaran-ajaran Marx dan menolak sebagian yang lain. Seseorang tidak akan dapat memahami tindakan kaum komunis jika dia tidak mengetahui seluruh dasar-dasar pemikiran komunisme. (Mohammad Rasjidi. Cetakan kedua. Jakarta: Yayasan Islam Studi Club Indonesia).

Komunisme sejatinya merupakan konstruksi pemikiran yang bersifat anti agama atau Tuhan. Sebab prinsip pokoknya tentang agama, sebagaimana disebutkan dalam manifesto komunis-nya, “semua agama sampai sekarang merupakan ekspresi dari tahapan-tahapan historis dari perkembangan tiap-tiap individu atau kelompok. Tapi komunisme adalah tahap perkembangan historis yang membuat semua agama yang ada menjadi tidak diperlukan lagi, dan akan menyebabkan pelenyapannya”. Andaipun komunisme mengakui adanya agama dan Tuhan, sebagaimana dalam pikiran Marx, Tuhan atau agama yang diakuinya itu hanyalah realitas material atau perkembangan dari realitas material belaka.

Selain itu komunisme juga mengandung kontradiksi yang tidak dapat dibenarkan oleh akal sehat. Konsepsi Marx berpijak pada prinsip materialisme dialektika. Prinsip materialisme adalah pokok prinsip marxisme yang menegaskan bahwa segala sesuatu pada dasarnya adalah materi atau bersifat material. Materi adalah kenyataan pokok atau fundamental reality dan berada di luar jangkauan persepsi indra atau kesadaran manusia. Materi adalah unsur primer atau basis yang mendahului dan menentukan kesadaran, ideologi, keagamaan, dan ketuhanan. Kemudian, klaim ilmiah pemikiran Marx yang menyandarkan kebenaran hanya pada metode-metode empiris atau observasi indrawi telah gugur. Sebab pada kenyataannya pengalaman inderawi terbukti tidak bebas dari kesalahan dan pandangan bahwa “metode empiris adalah satu-satunya neraca yang menentukan kebenaran ilmiah” bukanlah pandangan ilmiah yang dapat dibuktikan secara empiris. Adapun penegasan Marx akan berakhirnya kondisi masyarakat dalam bentuk masyarakat tanpa kelas adalah kontradiktif, sebab prinsip dialektika Marx menyatakan bahwa realitas akan senantiasa mengalami perubahan karena adanya pertentangan-pertentangan di dalam internalnya sendiri, sehingga mendorong perubahan akan terus menerus terjadi tanpa henti.

Komunisme sebagaimana kapitalisme, adalah pemikiran yang sama-sama lahir dari kebudayaan Barat modern yang disokong oleh para ahli pikir yang memikirkan tentang suatu masyarakat yang bahagia, namun tidak percaya kepada Tuhan yang menciptakan dan berperan dalam mengatur kehidupan. Marx, Engels, Lenin, bahkan Mao Zedong yang notabene berasal dari China, adalah bagian dari mereka yang biasanya disebut sebagai kaum atheist atau dalam bahasa Arab disebut Mulhid. Padahal, kunci kebahagiaan hidup manusia pada hakikatnya adalah keyakinan bahwa Tuhan itu ada. Kita dapatkan di dalam Al Quran terkandung ayat-ayat yang mengajak manusia supaya percaya kepada Tuhan. Mereka yang tidak percaya kepada Tuhan, sejatinya juga tidak percaya akan adanya akhirat, di mana manusia yang berbuat kebajikan akan mendapat pahala dan manusia yang melakukan kejahatan akan mendapat siksa. Mereka yang tidak percaya kepada Tuhan, sesungguhnya menjadikan hawa nafsu, atau kemauan mereka sendiri sebagai Tuhan. Sebagaimana tersebut dalam Al Qur’an surat Al Jatsiyah (45) ayat 23-26, artinya sebagai berikut:

“Tahukah engkau akan orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya, orang yang disesatkan oleh Tuhan dengan sengaja, yang pendengarannya dan hatinya telah tertutup serta penglihatannya telah diselubungi? Siapakah yang dapat memberikan kepadanya petunjuk selain Allah? Apakah kamu tidak ingat? Mereka itu berkata: yang ada hanya hidup di dunia ini. Di dunia inilah kita hidup dan mati. Yang merusak kami tak lain selain zaman. Mereka itu tidak mengetahui sesungguhnya: mereka hanya mengira. Jika ayat-ayat kami dibacakan kepada mereka, mereka akan menjawab: kalau betul ada hidup setelah mati, datangkanlah kembali nenek moyang kita. Katakanlah hai Muhammad, Allah lah yang menghidupkan, mematikan kamu dan mengumpulkan kamu pada hari kiamat yang pasti akan datang. Akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”

Dengan dasar tidak percaya adanya Tuhan dan tidak percaya adanya akhirat, maka mereka yang dikatakan ahli pikir itu hidup terombang-ambing dalam keragu-raguan dan kebingungan. Ahli-ahli pikir itu pada gilirannya tidak percaya kepada adanya alam ghaib, sebab bagi mereka yang ada adalah apa yang dapat dilihat atau rasakan dengan salah satu dari pancaindra atau dengan perantaraan alat melalui observasi empirik.

Pemikiran semacam itu jelas bertentangan dengan Islam. Sebagaimana tercantum dalam Al Qur’an surat Al Baqarah (2) ayat 1-4, artinya sebagai berikut:

“Alif Lam Mim. Inilah kitab yang terang, petunjuk bagi orang yang bertaqwa, yang percaya kepada hal-hal ghaib, mendirikan shalat dan memberikan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Mereka yang percaya kepada (Al Qur’an) yang telah diturunkan kepada mu (Muhammad) dan (kitab-kitab) yang diturunkan sebelum kamu dan mereka yang yakin akan adanya akhirat.”

Tersebab kaum marxis atau komunis tidak percaya kepada hal-hal ghaib dan akhirat, maka bagi mereka satu-satunya kehidupan manusia adalah kehidupan di dunia ini saja. Mereka memandang bahwa mereka dapat mengadakan surga di dunia yaitu dunia kehidupan masyarakat yang mereka sebut sebagai masyarakat tanpa kelas. Dan sebagaimana Marx berseru dalam manifesto komunis, bahwa untuk mencapai masyarakat tanpa kelas itu, caranya adalah melalui perjuangan kelas proletar dengan kekerasan atau revolusi sosial-komunis. Kaum komunis menganggap bahwa semua cara untuk mencapai cita-citanya itu adalah baik. Bahkan dusta, khianat, keterangan yang menyesatkan, terror, dan sebagainya adalah perlu dilakukan untuk mencapai cita-cita komunis.

Maka dari itu, tiap-tiap cara atau metode dalam pelaksanaan agenda-agenda ekonomi, sosial, dan politik mereka, sudah barang tentu berdiri di atas dasar paham etika atau tatasusila yang tidak beradab dan tidak mulia tersebut. Bagi kaum komunis, tidak ada Wahyu dan tak ada Nabi utusan Tuhan yang ghaib, yang menjadi petunjuk atau pedoman dalam menjalani kehidupan.

Dengan demikian, marxisme ataupun komunisme sejatinya bertentangan dengan Islam dan tidak relevan dijadikan sebagai solusi bagi permasalahan kemanusiaan, khususnya permasalahan di dalam umat Islam. Seorang Muslim mestinya seksama memahami dan meyakini bahwa cara penyelesaian yang terbaik, bukanlah dengan bersandar pada Marxisme, melainkan dengan pemahaman dan pengamalan ajaran Islam secara menyeluruh dan konsisten. Artinya, rasa simpati atau empati kita sebagai seorang Muslim terhadap masalah-masalah kemanusiaan dan program-program sosial, ekonomi, atau politik kemasyarakatan, cukuplah dengan menjadi Muslim secara kaffah, tanpa perlu melibatkan diri dalam pemikiran Marx, Marxisme, maupun segala bentuk turunannya.

Mengenai ekonomi dan kemasyarakatan misalnya, jika kita merujuk pada Al Quran dan Al Hadits, maka kita akan mendapatkan tuntunan tentang ekonomi dan masyarakat. Pokok-pokok dasar mengenai ekonomi dan kemasyarakatan dalam Islam sebagaimana dijelaskan Mohammad Rasjidi adalah sebagai berikut:

1. Seluruh alam dan segala sesuatu yang ada dalam alam ini adalah milik Tuhan.

2. Orang-orang yang memiliki harta kekayaan itu hanya menerima titipan dari Tuhan. Mereka sekadar dikuasakan oleh Tuhan selama hidup di dunia.

3. Harta kekayaan tidak boleh hanya dimiliki oleh segelintir orang saja.

4. Sistem zakat adalah cara yang minimal untuk mengalirkan sebagian kekayaan dari orang yang berada kepada orang-orang fakir-miskin. Ini bukanlah pemberian, melainkan kewajiban bagi orang kaya dan suatu hak bagi orang miskin. Selain zakat, sedekah yang bersifat pemberian sukarela mempunyai kemungkinan yang tak terbatas untuk menegakkan keadilan sosial. (Mohammad Rasjidi. Cetakan kedua. Jakarta: Yayasan Islam Studi Club Indonesia).

5. Hal terpenting bagi kita sebagai umat Islam, adalah hal yang terkait dengan kebahagiaan sejati yang selalu kita dambakan. Agama Islam mengajarkan bahwa pentingnya mengurusi kekayaan bukanlah untuk memenuhi hasrat duniawi belaka, melainkan untuk memperoleh kebahagiaan yang sejati di akhirat. Kehidupan di dunia bukanlah satu-satunya kehidupan. Dunia adalah sarana untuk kita dapat meraih kehidupan yang sesungguhnya, yang lebih layak dan mulia daripada dunia ini, serta kekal, yaitu kehidupan di akhirat. Sebagaimana misalnya tersebut di dalam Al Qur’an surat Al Ankabut (29) ayat 64, artinya sebagai berikut:“Kehidupan di dunia ini hanya merupakan permainan dan senda gurau belaka. Kehidupan di akhirat adalah kehidupan yang sesungguhnya; jika mereka mengerti.”

Tersebut di dalam Al Qur’an surat Al Qasas (28) ayat 77, artinya sebagai berikut:

Perolehlah kehidupan akhirat dengan kekayaan yang Tuhan telah berikan kepadamu dan janganlah lupakan bagianmu dari kehidupan di dunia.”

Tersebut juga di dalam Al Qur’an surat Al Duha (93) ayat 4, artinya sebagai berikut: “Sesungguhnya akhirat itu lebih baik dari dunia.” Dan tersebut di dalam Al Qur’an surat Al A’la (87) ayat 16 – 17, sebagai berikut:

“Sedangkan kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan dunia. Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.”

Dengan keyakinan dan kesadaran bahwa hakikat kebenaran datang dari Allah SWT, seorang Muslim tidak akan terjebak dalam komunisme mode lama dan mode baru, baik yang memperjuangkan revolusi namun tetap dalam koridor ajaran Marxis yang murni ataupun komunisme mode baru yang cenderung menjadi kapitalis. Adapun jika didapati kesamaan di antara beberapa ajaran Islam dengan ajaran komunisme dalam permasalahan sosial, maka kesamaan tersebut tidaklah sampai menghapuskan perbedaan pokok-pokok prinsip dasar di antara keduanya. Di antaranya adalah prinsip dasar mengenai aspek ketuhanan dan etika. Seorang Muslim akan memandang kebenaran dan realitas secara integral dalam kerangka tauhid (Hamid Fahmy Zarkasyi, 2016. Islamic Science: Islamic Worldview Sebagai Paradigma Sains Islam. Jakarta: Insists), artinya tidak atheistik, tidak sekuler dan tidak pula dikotomis, atau tidak terputus dari nilai-nilai ketuhanan dan etika, serta tidak akan memisahkan dua hal yang saling berhubungan, seperti objektif-subjektif, historis-normatif, dan sebagainya, sehingga menimbulkan paham-paham ekstrem seperti empirisme-rasionalisme, materialisme-idealisme, kapitalisme-komunisme dan lain sebagainya.*

Peserta PKU Angkatan XI Unida Gontor

Rep: Insan Kamil

Editor:

Update aplikasi Hidcom untuk Android Sekarang juga !

Sebarkan :

Baca Juga

Dompet Dakwah Media