Tsaqafah
Dompet Dakwah Media

Islam, ‘Jas Merah’ dan NKRI

Islam, ‘Jas Merah’ dan NKRI
Presiden Soekarno dan pendiri bangsa

Oleh :  Shofyan Achmad

 

Rumus Awal Dasar Negara ‘Tritunggal’

  1. Berdasar kepada ketuhanan, dengan  kewajiban  menjalankan syariat  Islam  bagi pemeluk-pemeluknya menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.
  2. Persatuan Indonesia.
  3. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan –perwakilan,serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

      ~Piagam Jakarta 22 Juni 1945 Ketetapan Badan Penyelidik~

 

Hidayatullah.com | KETIKA  memperingati  Hari  Ulang  Tahun  Republik  Indonesia  ke  XXI pada  tgl  17  Agustus  1966,  Presiden  RI,  Ir.  Soekarno  menyampaikan pidato  berjudul  “Karno   Mempertahankan   Garis   Pilitiknya   yang Berlaku -Jangan  Sekali-kali  Meninggalkan  Sejarah”. Beliau antara lain  mengatakan  bahwa  kita  menghadapi  tahun  yang  gawat,  perang saudara,   dst.

Disebutkan   pula   bahwa   MPRS   bukanlah   berposisi sebagai  MPR  menurut  UUD  1945.  Posisi  MPRS  sebenarnya  nanti setelah MPR hasil Pemilu terbentuk. Oleh Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) pidato Bung Karno itu dikasih judul “Jasmerah”.

Semboyan  ini  sejatinya  ‘kalimat  bersayap’,  selain  mengacu  pada pidato   Bung   Karno itu juga  singkatan  dari  ‘Jangan   Sekali-kali Melupakan  Sejarah’.  Kesatuan  Aksi  tentu  tidak  lupa,  bahwa Bung Karno   selaku   Presiden   RI   paska   Pengkhiatan   G.30   S/PKI   30 Septerber  1965,  enggan  membubarkan  Partai  Komunis  Indonesia (PKI) yang  merupakan  bagian  dari  gagasan  besar  beliau  yang  kemudian dinamakan NASAKOM (Nasionalis, Agama, dan Komunisme).

Ideologi yang menggabungkan Nasionalisme,   Agama   dan   Komunisme   yang   dalam   perpolitikan diwakili  oleh  tiga  partai  besar  zaman  Orde  Lama,  PNI  mewakili golongan   Nasionalis,   Partai   Nahdhatul   Ulama   (NU)   mewakili golongan  Agama  dan  PKI  mewakili  golongan  Komunis.

Ketiga partai    inilah    yang    mendominasi    Frons    Nasional yang    akan mengambil   berbagai   keputusan   penting   dalam   perpolitikan   di Indonesia  pada  zaman  Orde  Lama  yang notabene di  bawah  kendali Ir.  Soekarno  selaku  p residen, dengan julukan Pemimpin  Besar  Revolusi (Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia). Pernyataan Bung Karno tentang, “MPRS bukanlah berposisi sebagai MPR  menurut  UUD  1945.

Posisi  MPRS  sebenarnya  nanti  setelah MPR  hasil  Pemilu  terbentuk”.  Ungkapan  ini  merupakan  kritik terhadap   Ketetapan   MPRS   No.   IX/MPRS/1966   tentang   Surat Perintah   Presiden/Pangti   ABRI/PBR/Mandataris   MPRS   Republik Indonesia  tgl.  21  Juni  1966,  yang  telah  memutuskan,  antara  lain, “menerima   baik   dan   memperkuat   kebijaksanaan   presiden   yang dituangkan  dalam  Surat  Perintah  tanggal 11  Maret  1966  kepada  Letnan Jenderal   TNI   Soeharto/Menteri   Panglima Angkatan   Darat   dan meningkatkannya   menjadi   Ketetapan   MPRS”.

Dengan  demikian, Surat  Perintah  11  Maret  1966  itu  tidak  bisa  dicabut  kembali  oleh Presiden Soekarno, karena sudah diperkuat menjadi Ketetapan MPRS sampai ada ketetapan berikutnya.

Jasmerah dalam  pengertian  lain  adalah  tentang  Rumus  Awal  Dasar Negara yang tertuang dalam Piagam Jakarta 22 Juni 1945 yang masih menimbulkan     fitnah     di     antara     anak     bangsa     yang     sering dipertentangkan dengan ‘Pancasila’. Masih banyak yang beranggapan bahwa  dengan  Piagam  Jakarta  umat  Islam  akan  mendirikan  Negara Islam.

Padahal  umat  Islam  sendiri  sebenarnya  tidak  suka  rumusan “dengan   kewajiban   menjalankan   syariat   Islam   bagi   pemeluk-pemeluknya” seperti yang diungkapkan oleh K.H. Ahmad Sanusi dan Ki Bagus  Hadikusumo  masing-masing  anggota  Badan  Penyelidik (Dokuritsu    Zyunbi    Tyoosakai)    ketika    membahas    Rancangan Pernyataan   Kemerdekaan   dan   Pembukaan   UUD.

Tetapi   karena Piagam  Jakarta  sebagai  naskah  induk  Pembukaan  UUD  merupakan hasil   kesepakatan   bulat   antara   Golongan   Islam   dan   Golongan Kebangsaan dan sudah diterima oleh sidang Badan Penyelidik, semua tunduk  dan  takluk  pada  keputusan  musyawarah-mufakat  itu.  Bung Karno menyebut Piagam Jakarta sebagai “kompromis  yang  sebaik-baiknya”  sedangkan  Dr.  Sukiman Wiryosenjoyo   menyebutnya sebagai  “gentlementagreement”.

Sementara  itu,  Mr.  Muhammad Yamin menamakannya Jakarta Charter atau Piagam Jakarta. Sebenarnya  sumber  fitnah  yang  dialamatkan  kepada  umat  Islam  itu adalah  akibat  cara  yang  salah  dalam  membaca  Rumus Awal  Dasar Negara dengan memaksa mengikuti alur “rumus lima sila” dengan memisahkan   prinsip   Ketuhanan   dan   prinsip   Kemanusiaan.   (1) “berdasar  kepada  ke-Tuhanan,dengan   kewajiban   menjalankan syariat    Islam    bagi    pemeluk-pemeluknya ”(2)  “menurut    dasar kemanusiaan  yang  adil  dan  beradab”. Sehingga menimbulkan salah pengertian  yang kemudian menjadi  sumber  fitnah yang  kronis,  sejak zaman Orde Lama hingga zaman Orde Reformasi sekarang ini.

Sejatinya,  Rumus  Awal  Dasar  Negara  dalam  Piagam  Jakarta  tanpa mengikuti  alur rumus lima sila,    setidaknya    ada    dua    cara penyebutannya.  Pertama  dengan  kalimat  panjang  dalam  satu  tarikan nafas,   tanda   titik   hanya   di   bagian   akhir   yang   disebut   Majmuk Tunggal, “berdasar  kepada  ke-Tuhanan,dengan     kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya menurut dasar kemanusiaan   yang   adil   dan   beradab,   persatuan   Indonesia   dan kerakyatan    yang    dipimpin    oleh    hikmat    kebijaksanaan    dalam permusyawaratan –perwakilan  serta  dengan  mewujudkansuatukeadilan    sosial  bagi  seluruh  rakyat  Indonesia”.

Rumusan   ini merupakan   satu   kesatuan   yang   tidak   terpisahkan   sebagai   satu kesatuan   falsafah   berbangsa dan   panduan   kehidupan   bernegara sehingga   pengertian   dan   pemahamannya   pun   secara   utuh   dan integral.  Cara  penyebutan  yang  kedua  dengan  tiga  kalimat  dasar dengan tiga kali tarikan nafas. Kalimat Dasar Pertama, (1) “berdasar kepada  ke-Tuhanan,dengan  kewajiban  menjalankan  syariat  Islam bagi  pemeluk-pemeluknya  menurut  dasar  kemanusiaan  yang  adil dan   beradab”.

Kalimat  Dasar  Kedua,  (2)  “Persatuan   Indonesia”. Kalimat  Dasar Ketiga, (3) “kerakyatan  yang  dipimpin  oleh  hikmat kebijaksanaan  dalam  permusyawaratan –perwakilan  serta  dengan mewujudkan suatu keadilan  sosial  bagi  seluruh  rakyat  Indonesia”. Rumus  Dasar  yang  pertama  memuat  prinsip  “Ketuhanan”  dan “Kemanusian”.

Hanya orang-orang   yang  bertuhan-lah    yang memiliki  perasaan  Kemanusiaan  yang  adil  dan  beradab.  Disamping itu “kewajiban  menjalankan  syariat  Islam” berkahnya  tidak  hanya dirasakan  oleh  “pemeluk-pemeluknya”  tetapi  berkahnya  dapat dirasakan  oleh  manusia  pada  umumnya  secara  universal  (021.107).Berbeda  makna  bila  kedua  prinsip  ini  dipisahkan  menjadi  prinsip Ketuhanan  di  satu  sisi  dan  prinsip  Kemanusiaan  di  sisi  lain.

Seolah-olah  keduanya  merupakan  dua  kutub  yang  berlainan  yang  berbeda  secara  prinsip,  berbeda  seperti langit  dan  bumi. Begitu  juga  Rumus Dasar  Ketiga  memuat  prinsip  “Kedaulatan  Rakyat”  dan  prinsip “Keadilan Sosial”.

Kedua prinsip ini juga merupakan satu kesatuan yang  tak  terpisahkan,  Politik  dan  Ekonomi,  kedua-duanya  penting sekaligus.  Hanya  Rumus  Dasar  Kedua  yang  memuat  rumus  yang tunggal  yakni  “Persatuan  Indonesia”.

Rumus  ini  bersipat  visioner, memandang jauh ke depan, ratusan tahun bahkan seperti kata Chairil Anwar dalam sajaknya “Aku  mau  hidup  seribu  tahun  lagi”. Ini untuk menggambarkan  betapa  pentingnya  Persatuan  Indonesia,  bukan  saja sebagai  Dasar  Negara  tetapi  juga  sebagai  falsafah  hidup  berbangsa dan  bernegara  bagi  anak  bangsa  di  kemudian  hari.

Persatuan  atas dasar  Ketuhanan  (003.103)  harus  membuahkan  Tolong Menolong atas  dasar  kebajikan  dan  takwa (005.002). Alangkah  indahnya,  bila anak  bangsa  ini  baik  sebagai  aparatur  negara,  atau  yang  bergerak dalam   perpolitikan   dalam   wadah   partai   politik   maupun   dalam berbagai kegiatan  sosial kemasyarakatan, hattadalam keberagamaan sekali  pun,  semuanya  mengutamakan  Persatuan  Indonesia.

Semua bernaung di bawah rindangnya pohon Persatuan Indonesia dan semua merasakan  berkahnya.  Manusia  Indonesia  memperoleh  berkah  udara segar  dari  pohon  persatuan  Indonesia,  sebaliknya  pohon  persatuan Indonesia  mendapat  energi  tambahan  dari  hembusan  nafas  manusia Indonesia.

Di   sini   tersirat   bahwa founding   fathers (pendiri bangsa) kita  ingin mengadopsi  ayat-ayat  Suci  yang  menggambarkan  negeri  yang  baik sebagai  “Baldatun   Thayyibatun   Wa   Rabbun   Ghafur”  (034.015).  Karenanya, semua anak bangsa jangan melupakan sejarah perjuangan nenek  moyangnya  dalam  merebut  “Kemerdekaan  Nasional”  dari cengkeraman    penjajahan    serta    tetap    setia    dan    bersemangat memperjuangkan  tercapainya  “kemerdekaan  yang  sejati”,  yakni kemerdekaan lahir dan batin bagi seluruh rakyat Indonesia.

Piagam Jakarta Menjiwai UUD 1945

Jasmerah  dalam  pengertian  lainnya  adalah  tentang  Dekrit  Presiden  5 Juli  1945.  Dalam  sejarah  pasca  Proklamasi  Kemerdekaan,  bangsa Indonesia  telah  mengalami  berbagai  cobaan. Pernah  tercabik  dalam 16   negara   bagian,   Republik   Indonesia   Serikat   (RIS)   dengan Konstitusi  RIS  1949  sebagai  akibat  campur  tangan  Belanda  yang tidak rela Indonesia merdeka,  yang  masih  mendambakan kembali ke masa  kolonial  yang  gemilang.

Kemudian  atas  inisiatif M. Natsir Ketua Fraksi  Partai Masyumi ketika  itu,  dengan  dukungan  11  anggota  DPR RIS  dari   berbagai   fraksi   lainnya,   mengajukan Mosi  Integral untuk diajukan dalam Sidang Pleno Parlemen.

Pada pokoknya mengusulkan untuk  melebur  16  Negara  bagian  Republik  Indonesia  Serikat  (RIS) termasuk    Negara    Republik    Indonesia    yang    berkedudukan    di Yogyakarta  ke  dalam  Negara  Kesatuan  Republik  Indonesia  (NKRI) yang  kemudian  diproklamirkan  pada  tanggal 17  Agustus  1950  dengan UUD Sementara 1950. Bangsa Indonesia  mempercayakan kepada Ir. Soekarno dan Mohamad  Hatta  untuk  menjabat  sebagai  presiden  dan  wakil presiden paska integrasi (NKRI).

Sukarno berpidato dalam Sidang BPUPKI

Dalam  perjalanan kehidupan berbangsa  dan  bernegara  selanjutnya, Indonesia  berhasil  menyelenggarakan  Pemilu  Pertama  15  Desember 1955  untuk  memilih  anggota  parlemen  dalam  suasana  Demokrasi Liberal  diikuti   lebih   dari   30   partai.

Partai-partai   berasas   Islam memperoleh    230    kursi,    dan    gabungan    partai-partai    lainnya memperoleh   286   kursi.   Pada   tanggal 10   November   1956   Presiden Soekarno melantik anggota Konstituante (Parleman)  di bawah UUD Sementara    1950.

Dalam    perkembangan    selanjutnya,    ternyata Demokrasi    Liberal    tidak    sesuai    dengan    kepribadian bangsa Indonesia.  Akhirnya  Soekarno menerbitkan Dekrit Presiden 5  Juli  1959.  Dengan  Dekrit  itu  Presiden  “Membubarkan  Konstituante”    dan  “Menetapkan  kembali  UUD  1945  berlaku  lagi bagi  segenap  Bangsa  Indonesia”  yang  dianggap  mencerminkan kepribadian bangsa Indonesia, serta “Pembentukan MPR Sementara yang  terdiri  atas  Anggota-anggota  DPR  hasil  Pemilu  1955  ditambah Utusan-utusan  dari  Daerah-daerah  dan  Golongan-golongan”.

Soekarno juga melakukan  pembentukan Dewan Pertimbangan Agung (DPA) Sementara. Dalam  salah  satu  konsideran Dekrit Presiden menyebutkan, “Bahwa kami  berkeyakinan  bahwa  Piagam  Jakarta  tertanggal  22  Juni  1945 menjiwai Undang-undang Dasar 1945 dan adalah merupakan suatu rangkaian  kesatuan  dengan  konstitusi  tersebut;”  Dengan demikian Republik  Indonesia  kembali kepada  Khittahnya  dengan  “Piagam Jakarta yang Menjiwai UUD 1945” dimana “kewajiban  menjalankan syariat   Islam”  berkahnya  tidak  hanya  dirasakan  oleh  “pemeluk-pemeluknya”  saja,  tetapi  aliran  berkahnya  dapat  dirasakan  oleh seluruh   rakyat   Indonesiadan   manusiapada   umumnya   secara universal(021.107).

Sebagai   perwujudan Piagam   Jakarta   tertanggal   22   Juni   1945 menjiwai   Undang-undang   Dasar   1945, tercermin  pada  lambang negara,  di  mana  prinsip Ketuhanan  Yang  Maha  Esa dalam  Perisai Pancasila   letaknya   di   tengah-tengah dengan   lambang Bintang berwarna emas. Maknanya Ketuhanan Yang Maha Esa dengan spirit Piagam Jakarta menjiwai dan  menyinari sila-sila  lain dari Pancasila Dasar  Negara.  Dengan  demikian,  NKRI  yang  berkah  merupakan bentuk final dalam  bernegara,  yang  menurut paradigma TNI, “NKRI adalah  Harga  Mati”.

Artinya,  NKRI tidak  bisa  diganggu  gugat  lagi,  dan Pancasila   Dasar   Negara dalam   Pembukaan   UUD   1945 menurut Dekrit  Presiden  5  Juli  1959 tidak  bisa  diutak-atik  oleh  siapa  pun termasuk MPR hasil Pemilihan Umum.  “Harga Mati” ini  pun  sudah dikunci   dengan  Tap.  MPRS  No.  XX/MPRS/1966  tanggaal 5  Juli 1966.

Inilah  salah  satu  urgensi  “Jangan  Melupakan  Sejarah”  agar  anak bangsa –baik    keturunan    golongan    Islam    maupun    keturunan golongan  kebangsaan– supaya selalu  ingat  jasa  perjuangan  nenek moyangnya  (founding  fathers)  agar  tidak  kehilangan  jejak  sejarah dan tidak kehilangan arah pembangunan dalam menapaki kehidupan bernegara  dan  kehidupan beragama .

Kehidupan berbangsa, bernegara dan beragama tentu saja dalam  bingkai  NKRI. Untuk sekarang, nanti  dan  masa  yang  akan  datang. Jangan  hanya  Jaket  Merah ya saja, tetapi juga Jasmerah! *

Penulis adalah pensiunan pegawai Kantor Kementerian Agama Kota Bandung 2001 tinggal di Rancaekek Kab. Bandung

 

Rep: Insan Kamil

Editor: Insan Kamil

Dukung Kami, Agar kami dapat terus mengabarkan kebaikan Lebih lanjut, Klik Dompet Dakwah Media Sekarang!

Update aplikasi Hidcom untuk Android Sekarang juga !

Sebarkan :

Baca Juga

Rumah Wakaf

Rumah Wakaf