Internasional

Eks Pejabat Hong Kong Dipidana di Pengadilan AS karena Terlibat Suap di Afrika

Eks Pejabat Hong Kong Dipidana di Pengadilan AS karena Terlibat Suap di Afrika
Persidangan Patrick Ho di Amerika Serikat.

Hidayatullah.com–Seorang manran pejabat pemerintah Hong Kong dihukum penjara 3 tahun hari Senin (25/3/2019) setelah divonis bersalah menyuap pejabat Chad dan Uganda agar perusahaan energi China mendapatkan kontrak kerja di kedua negara Afrika itu.

Chi Ping Patrick Ho, 69, dijatuhi hukuman oleh hakim distrik AS Loretta Preska di pengadilan federal Manhattan, di mana dia divonis bersalah atas 7 dakwaan pidana pada Desember 2018.

Ho mendekam di dalam sel sejak ditangkap 16 bulan silam. Jaksa menuntutnya 5 tahun penjara.

Dalam keputusannya hakim mengatakan bahwa Ho diberi hukuman lebih ringan sebab selama di penjara dia berkelakuan baik.

Pengacaranya Edward Kim mengatakan bahwa dia dan kliennya sedang mempertimbangkan untuk melakukan banding.

Ho ditangkap pada November 2017 dengan tuduhan melanggar undang-undang korupsi asing (luar negeri), pencucian uang dan konspirasi. Pihak kejaksaan AS menudingnya melakukan suap untuk kepentingan konglomerat energi China berbasis di Shanghai, CEFC China Energy.

Pada saat penangkapan Ho menjabat sekjen China Energy Fund Committee berbasis di Hong Kong, yang didanai oleh CEFC China Energy.

Kejaksaan AS mengatakan Ho menyebabkan perusahaan energi itu menawarkan suap $2 miliar kepada Presiden Chad Idriss Deby pada tahun 2015 agar China mendapatkan hak eksplorasi minyak khusus di negara itu.

Pemerintah Chad membantah tuduhan AS itu, lapor Reuters.

Kejaksaan AS juga mengatakan bahwa Ho memyebabkan dana $500.000 ditransfer ke Kementerian Uganda pada tahun 2016 dengan janji ada pembayaran susulan di masa depan, dengan tujuan agar China dimudahkan berbisnis di negara itu, termasuk kemungkinan untuk mengakuisisi sebuah bank di Uganda.

Sam Kutesa, yang sebelumnya menjabat presiden Majelis Umum PBB dan menjabat menteri luar negeri Uganda sejak 2015, membantah tuduhan itu.

Dalam argumentasi menuntut hukuman lebih berat, tim jaksa mengatakan dalam tuntutannya bahwa Ho tidak mau bertanggung jawab, merujuk email yang dikirimkannya dari penjara.

Dalam salah satu email Ho menyebut dirinya sebagai “domba pertama yang dikorbankan” dalam permusuhan antara AS dan China. Ho mengirimkan email itu menyusul ketegangan terkait penangkapan kepala keuangan Huawei Technologies Co Ltd Meng Wanzhou di Kanada atas permintaan Amerika Serikat.*

Rep: Ama Farah

Editor:

Update aplikasi Hidcom untuk Android Sekarang juga !

Sebarkan :

Baca Juga

Umroh Keluarga

Iklan Bazar