Kisah & Perjalanan

Kisah Ayah Diwisuda Tanpa Toga, Gantikan Putrinya yang Meninggal Dunia

Kisah Ayah Diwisuda Tanpa Toga, Gantikan Putrinya yang Meninggal Dunia
Suasana penyerahan ijazah (almarhumah) Rina Muharrami, mahasiswi UIN Ar-Raniry, yang digantikan ayahnya, Bukhari (kiri) di ruangan Auditorium Prof Ali Hasjmy, Darussalam, UIN Ar-Raniry, Banda Aceh, Rabu (27/02/2019).

Hidayatullah.com– Ayah mana yang tidak bahagia ketika anak yang begitu lama dididiknya akhirnya berhasil menyelesaikan pendidikannya. Tapi bagi seorang bapak bernama Bukhari ini, kebahagiaan yang dirasakan bercampur aduk dengan kesedihan.

Bukhari, seorang kuli bangunan, datang menghadiri acara wisuda putrinya, Rina Muharrami (23 tahun), seorang mahasiswi Prodi Kimia, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry, Banda Aceh.

Namun, kehadirannya bukan untuk menemani sang putri, melainkan menggantikan sang buah hati. Rina memang tak akan pernah lagi menghadiri wisuda. Beberapa waktu sebelum acara penyerahan ijazah itu, Rina lebih dulu dipanggil ke haribaan Allah Subhanahu Wata’ala.

Kisah ini mengharubirukan dunia maya. Pantauan hidayatullah.com, Jumat (01/03/2019), suasana haru detik demi detik pemberian ijazah almarhumah kepada sang ayah itu terlihat dalam video yang diunggah akun Instagram resmi UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Rabu (27/02/2019) pekan ini.

Rabu itu, pembawa acara menyebut nama almarhumah lewat pengeras suara. “Rina Maharami,” lalu menyebut riwayat singkat tanggal lahir dan kepergiannya, serta penyebabnya.

Lalu, seperti layaknya wisudawan lainnya yang dipanggil satu per satu, Bukhari, ayah Rina, naik ke atas panggung untuk menerima ijazah almarhumah putrinya.

Berbeda dengan wisudawan yang mengenakan baju toga, sang ayah tampil mengenakan kemeja lengan panjang berwarna abu-abu dan memakai peci hitam. Setelah serah terima ijazah dalam map hijau, rektor dan dekan menyalami Bukhari dan bercipika cipiki dengannya. Sontak, suasana haru menyelimuti seisi ruangan Auditorium Prof Ali Hasjmy, Darussalam.

Rina, gadis kelahiran Bayu, 16 Mei 1996 itu, merupakan putri pertama dari empat bersaudara, yang lahir dari pasangan Bukhari dan Nurbayani.

Rina menyelesaikan sidang skripsinya pada tanggal 24 Januari 2019 lalu pukul 12.00 WIB. Namun, 13 belas hari kemudian, pada tanggal 5 Februari, tepatnya sebelum subuh atau sekitar pukul 04.15 WIB, Rina sang sarjana muda berpulang ke Rahmatullah karena sakit.

Rina meninggal dunia setelah menderita penyakit tifus stadium akhir hingga berujung pada saraf.

“Meninggal karena sakit tifus, cuma udah parah. Kata dokter pas malam terakhir, atau pas besoknya dia meninggal, saya jenguk dan saya tanya hasil pemeriksaannya sama ayah almarhumah. Ternyata tifus udah tahap paling tinggi, sampai kena saraf,” kata Nisaul Khaira yang merupakan sahabat dekat almarhumah sejak semester lima kutip laman resmi Uin.ar-raniry.ac.id, Kamis (28/02/2019).

Rina menderita penyakit tifus kurang lebih selama satu bulan. Bahkan dirinya sempat koma dan dirawat di ICU Rumah Sakit Meuraxa, Kabupaten Aceh Besar.

“Sebenarnya demamnya udah sebulan gitu, naik turun udah berobat kemana-mana. Cuma mulai drop lebih kurang 4 hari, dan koma di ICU Meuraxa sampai dia meninggal sebelum subuh jam 04.15. Allah lebih sayang Rina,” kata Nisaul.

Wisuda adalah prosesi penyematan gelar sarjana, puncak pencapaian seseorang dalam menempuh pendidikan tinggi. Wisuda dan sarjana adalah anugerah kebanggaan bagi orangtua dari anak mereka. Orangtua berjuang dan berkorban demi kelanjutan pendidikan anaknya, sementara sang anak berjuang sepenuh hati segenap tenaga merengkuh cita-cita sarjana selayaknya harapan orangtua.

“Dan wisuda, sekali lagi adalah puncak pencapaiannya. Dimana anak dengan bangga mempersembahkan kesuksesan untuk orangtuanya, bersama menikmati kebahagiaan. Tapi tidak bagi ayah Rina, beliau datang mewakili anaknya menjadi sarjana,” tulis UIN Ar-Raniry pada akun tersebut.

Sosok Almarhumah

Momen yang tak biasa itu harus dilalui Bukhari. Jiwa tegar yang dimilikinya menjadi inspirasi ratusan wisudawan di sana. Bukhari mengutarakan perasaan campur aduknya saat menghadiri acara wisuda tanpa ditemani anak sulungnya, Rina. Tangisnya tak mampu ia bendung.

“Waktu dipanggil dan diserahkan ijazah ini, jiwa saya merasa hilang. Gak bisa bilang apa-apa. Di saat almarhumah meninggal, saya tidak menangis, tapi waktu saya selesai mengambil ijazahnya kemarin, saya tak tahan menahan rasa haru, air mata saya akhirnya keluar,” ujar Bukhari dirumah duka, Desa Cot Rumpun, Blang Bintang, Kabupaten Aceh Besar, Kamis (28/02/2019) kutip INI-Network, Jumat (01/03/2019).

Awalnya, kehadiran Bukhari di acara wisuda itu atas permintaan teman-teman Rina dan juga dosen pembimbingnya. Sahabat Rina beberapa hari sebelum acara sempat menghubunginya untuk menanyakan siapa yang bakal mengambil ijazah Rina. Begitu pun pihak kampus.

Dosen Rina bahkan menyarankan agar pria yang berprofesi sebagai kuli bangunan itu bisa hadir pada acara bersejarah bagi mahasiswa tersebut. Atas saran dari orang-orang terdekat, akhirnya Bukhari memantapkan hati untuk hadir bersama adiknya Rina.

“Minat saya mau ambil ijazah ini untuk kenang-kenangan saya, karena dia (Rina) sudah berbuat terbaik untuk keluarga, dan dia sudah berusaha. Sejak kecil kita didik, kalau bukti keberhasilannya ini tidak diambil kan sayang juga. Makanya saya punya minat untuk ambil ijazah dia buat kenang-kenangan saya semasa hidupnya,” ungkap Bukhari dengan tegar.

Bukhari menceritakan, anak pertama dari empat bersaudara ini merupakan anak yang baik dan tidak pernah sekalipun menyusahkan orangtua. Keseharian almarhumah dihabiskan untuk belajar dan membantu orangtua.

Rina adalah anak yang berprestasi. Sejak sekolah dasar hingga kuliah, ia selalu mendapat peringkat di kelasnya. Dari kegigihan tersebut, dia kuliah mendapatkan beasiswa.

Jika musim tanam padi tiba, di sela-sela kuliahnya, dia membantu ibunya ke sawah untuk bercocok tanam padi. Malamnya, dia menimba ilmu di dayah membaca kitab.

“Rina itu anaknya pintar. Bahasa Inggris dan Jepangnya sangat lancar. Kalau tidak kuliah, dia mengajar ngaji anak-anak di balai pengajian depan rumah dan jadi guru ngaji panggilan. Malamnya dia ngaji di dayah. Kalau mulai musim sawah, dia bantu ibunya kesawah,” sebut Bakhtiar.

Semasa menjalani pendidikan kuliah, Rina sempat minta kepada sang ayah untuk berhenti sekolah. Pasalnya, kata Rina, pendidikan kuliah hanya semata mengejar dunia, bukan akhirat. Rina merasa minder kepada adik-adiknya yang banyak menghabiskan waktu belajar tentang agama di dayah. Baginya, yang dapat menolong dia dan keluarganya kelak di akhirat adalah ilmu agama.

“Dia tidak sanggup lawan adiknya yang lumayan kuat agamanya. Kalau adiknya gak pikir duniawi. Jadi untuk mengimbanginya, selain kuliah dia mengejar agama. Dia pernah bilang, jika sudah lulus kuliah dirinya mau nikah atau masuk dayah lagi,” ujar Bakhtiar yang didampingi ibunda Rina, Nurbayani.

Ibunda Rina pun berbagi cerita tentang kisah almarhumah di lingkungan keluarga. Dia tidak membayangkan anak pertamanya bisa duluan menghadap sang pencipta.

“Anak saya itu (Rina) mandiri sekali. Kalau tidak kuliah dia bantu saya ke sawah. Nanti hasil dari sawah dia pakai untuk kebutuhan hidupnya. Ada juga dia dikasih upah sama orang dari hasil ngajar ngaji,” cerita Nurbayani dengan raut wajah sedih disusul matanya yang berkaca-kaca.

Ayah Rina melanjutkan, almarhumah pernah mengucapkan satu kalimat yang hingga saat ini dianggap jadi firasat terakhir Rina kepadanya.

Rina pernah bilang begini kepada adiknya yang telah berstatus tunangan, “Dik, kakak gak mau lihat adik nikah duluan, kalau adik duluan nikah kakak mau ke Malaysia, gak balik-balik lagi.”

“Ternyata itu pesan Rina meninggalkan kami semua,” tukas Bakhtiar yang berencana menikahkan adiknya Rina pada bulan Juni mendatang.

Tapi, Bakhtiar mengungkapkan, apabila Rina panjang usia, selepas kuliah nanti, dia bakal menikahkan Rina sebelum acara resepsi adiknya. Katanya, ada pemuda yang berani meminang Rina kepadanya.

“Almarhum(ah) itu gak pernah pacaran. Ada empat pria yang ingin melamarnya dan langsung menikahinya, tapi sepertinya ada satu yang sesuai kriterianya. Andai anak saya panjang umur, dia duluan yang saya nikahkan, kalau bisa berbarengan sama adiknya,” tukasnya.

Seperti diketahui, kisah haru tersebut berawal dari unggahan dalam video akun Instagram resmi UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Rabu (27/02/2019) kemarin. Terlihat ayah almarhumah mengambil ijazah Rina dihadapan rektor serta para dekan dengan memakai kemeja abu-abu, celana kain coklat dan peci hitam.

Video itu pun kemudian menjadi viral hingga telah ditonton lebih dari 271.588 tayangan dan mendapat beragam komentar dari netizen yang terharu melihatnya.

Pantauan hidayatullah.com, Jumat siang, warganet mengungkapkan kesedihannya atas kisah pada video tersebut. “Mungkin sudah nonton lebih dr 10 kali tapi teteeeep mau nonton terus😭😭😭 ingat baaapak.😭,” tulis @susantanty dalam kolom komentar.

Sebagian lagi mendoakan almarhumah. “(Semoga) khusnul khotimah aamiin,” doa @fatkhanabdul73.

Pengguna medsos juga menyampaikan rasa bangganya terhadap Bukhari. “Sangat membanggakan ..org tua yg selalu memberi dukungan terbaik terhadap anaknya..,” tulis @firman.hz.*

Rep: SKR

Editor: Muhammad Abdus Syakur

Update aplikasi Hidcom untuk Android Sekarang juga !

Sebarkan :

Baca Juga

Umroh Akbar Arifin Ilham

Iklan Bazar