Mereka Memilih Berani

Menanam Asa di Savana Jaya

Menanam Asa di Savana Jaya
Mahladi/hidayatullah.com
Desa Savana Jaya, banyak ditanami pohon kelapa.

Sambungan dari kisah pertama

 

ADA satu alasan kuat mengapa Ustadz Nur Fatahuddin, Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Maluku, menunjuk Ustadz Muhammad Hidayatullah untuk pindah tugas dari Liang Ambon, Maluku Tengah, ke Pulau Buru. Sebelumnya, Dayat –begitu sapaan akrabnya– telah lebih dari 10 tahun bertugas di Kampus Hidayatullah Liang Ambon sebagai pencari dana pesantren.

Bukan karena Dayat pandai berceramah sehingga ia dipilih mengemban tugas mulia itu. Tidak! Dayat tidak punya kemampuan itu. Bahkan, cerita Nur Fatahuddin, Dayat belum pernah mendapat tugas berceramah selama bertugas di Liang Ambon.

Bukan juga karena Dayat paling pintar di antara kader Hidayatullah Maluku. Laki-laki dari tanah Jawa ini bahkan tak pernah mengenyam pendidikan sekolah tingkat atas, apalagi kuliah.

Lalu apa alasan Fatahuddin memilih Dayat untuk mengemban tugas dakwah di pulau sebelah barat Kota Ambon ini?

“Dia rajin sekali shalat malamnya,” jelas Nur Fatahuddin saat berbincang bersama hidayatullah.com di atas kapal menuju Pulau Buru akhir Januari lalu.

Ustadz Dayat. [Foto: Mahladi/hidayatullah.com]

Nur Fatahuddin yakin, dengan bekal tersebut, Dayat mampu menaklukkan pulau yang dulu pernah memiliki jejak kelam sebagai tempat “pembuangan tapol” ini.

Bagi seorang dai, jelas Nur Fatahuddin lagi, shalat malam adalah sumber kekuatan luar biasa. Ia menjadi sarana paling ampuh untuk meminta, memohon, bahkan berkeluh kesah kepada Sang Khaliq. “Dengan cara seperti itu seorang dai yakin pertolongan Allah pasti akan datang,” ujarnya.

Nur Fatahuddin menduga, karena kebiasaan shalat malam inilah Dayat tak pernah mengeluh selama bertugas. Ia taat, berani, dan mau hidup sederhana. Saat hidayatullah.com meminta pendapat Dayat soal tugas yang dulu diembankan kepadanya, ia hanya berujar, “Saya harus taat karena ini tugas dakwah. Ini jihad. Tidak apa-apa meskipun harus mencangkul batu. Nanti Allah akan kasih kita nasi.”

Baca: Fatu Marando, Medan Dakwah Penuh Tantangan

Maka, pada tahun 2016, setelah belasan tahun Dayat malang melintang berdakwah di Ambon, ia pun hijrah ke Pulau Buru. Ia boyong istri dan putri kecilnya. Ia tinggalkan rumah permanen berukuran 10 x 12 meter persegi  yang ia bangun di Liang Ambon.  Ia berlayar menuju pulau yang tak pernah ia diami sebelumnya.  Ia ingin ikut menghapus jejak kelam di pulau ini.

Pulau Buru, saat Dayat hijrah ke sana, tentu tak seseram dulu lagi. Para pendatang, termasuk para transmigran dari Pulau Jawa, sudah banyak mendiami pulau ini. Di Kabupaten Buru saja –satu dari dua kabupaten di Pulau Buru– menurut data Biro Pusat Statistik, jumlah penduduk pada tahun 2017 sudah mencapai 132.100 jiwa dengan pertumbuhan 1,38 persen.

Akses menuju Pulau Buru juga sangat mudah. Setiap hari masyarakat bisa keluar masuk pulau ini. Selalu saja ada kapal feri yang berangkat dari pelabuhan Ambon menuju pulau ini. Sebutlah, misalnya, kapal Cantika Lestari 99. Setiap pukul 20.30, kapal milik PT Pelayaran Dharma Indah ini bertolak dari Ambon menuju pelabuhan Namlea di pulau Buru.

Lama perjalanan sekitar 8 jam. Biaya satu kali perjalanan berkisar Rp 70 ribu hingga Rp 110 ribu, tergantung kelas yang dipesan. Jika ingin istirahat di ruang ber-AC, biayanya tentu lebih mahal.

Jika Anda ingin lebih cepat lagi, Anda bisa membeli tiket pesawat kecil Susi Air. Harganya jauh lebih mahal lagi.  Namun, dalam hitungan beberapa menit saja, Anda sudah mendarat di Namlea, ibu kota Kabupaten Buru.

Ketika pertama tiba di Pulau Buru, Dayat tinggal di atas tanah seluas satu hektare di Desa Savana Jaya, Kecamatan Waeapo, Kabupaten Buru. Tanah ini terletak agak jauh dari pusat kecamatan, terletak di tengah-tengah kebun kelapa. Jalan menuju lokasi sudah beraspal, namun masih sepi.

Hampir tak ada bangunan di atas tanah seluas 1 hektare tersebut kecuali sebuah gubuk sederhana tempat tinggal Dayat sekeluarga, serta satu bangunan semi permanen yang kelak digunakan Dayat untuk mengajar anak-anak mengaji.

Desa Savana Jaya cukup jauh dari Namlea. Jarak perjalanan dari Pelabuhan Namlea menuju desa ini kira-kira 45 menit dengan kendaraan mobil, melewati jalan berliku dengan pemandangan bebukitan yang didominasi tanaman rendah.

Sesekali akan dijumpai kebun kayu putih. Baunya yang khas langsung tercium ketika melewati kebun ini. Sedang di kejauhan, sesekali akan tampak Gunung Botak. Gunung ini sempat ramai diperbicangkan karena kandungan emas di dalamnya.

Desa Savana dikenal sebagai pusat bermukimnya para mantan tapol. Awalnya, menurut Majdi, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Waeapo, para mantan tapol ini menyebar di beberapa tempat di Pulau Buru. Lama kelamaan mereka mengumpul di Desa Savana Jaya. “Desa ini menjadi pusat kediaman para mantan tapol,” cerita Majdi.

Kiri Ustadz Majdi. Kanan Ustadz Nur Fatahuddin, dai Hidayatullah di Pulau Buru, Maluku. [Foto: Mahladi/hidayatullah.com]

Beberapa mantan tapol ikut mengaji bersama Majdi. Mereka belajar membaca al-Qur’an. “Di pulau ini, orang malu kalau tidak bisa baca Qur’an. Sebab, banyak kegiatan masyarakat yang berhubungan dengan baca Qur’an,” kata Majdi.

Dulu, cerita Majdi, pembinaan para mantan tapol dilakukan oleh dai-dai yang dikirim Departemen Agama bekerja sama dengan Departemen Transmigrasi. Selain membina para mantan tapol, para dai ini juga membina para transmigran. Beberapa nama dai yang pernah bertugas di sini adalah Ustadz Zauri dan Ustadz Ahmad Fauzi dari Jawa Barat, serta Ustadz Asrofi dari Jawa Timur.

Lalu, tahun 90-an, cerita Majdi lagi, pembinaan keagamaan mereka dialihkan kepada dai-dai dari Rabithah Alam Islamiy. Hanya saja, seperti dai-dai sebelumnya, mereka tak betah tinggal berlama-lama. Setelah kontrak habis, mereka pulang ke daerah asalnya.

Pembinaan selanjutnya dilakukan oleh dai-dai lokal atau dai-dai yang memang berencana menetap di tempat ini, seperti dai-dai Hidayatullah dan Dewan Dakwah.

Selain identik dengan tapol, Savana Jaya juga identik dengan sophi, air olahan kelapa yang bisa memabukkan. Ini diakui oleh Heru Effendi, ketua karang taruna Desa Savana Jaya.

“Kalau ada orang Savana Jaya pergi ke luar daerah, mereka pasti ditanya, ‘(kamu) bawa sophi?’  Memangnya kami di sini suka mabuk?” kata pria berusia 36 tahun ini dengan suara meninggi. Sebutan ini menambah panjang jejak negatif Pulau Buru.

Baca: Mengenang Kiprah Dakwah Mustaqim Dalang

Savana Jaya memang dikenal sebagai produsen sophi terbesar di Pulau Buru. Tentu saja ini ilegal. Menurut Majdi, sudah ratusan kali dirazia oleh aparat, namun tetap muncul lagi. Majdi menebak, masyarakat lebih memilih mengolah kelapa menjadi sophi ketimbang produk lain karena harganya lebih tinggi dan cara membuatnya lebih mudah. Di Desa Savana Jaya sendiri banyak sekali dijumpai pohon kelapa.

Di tengah masyarakat seperti inilah, Dayat berusaha “membuat jejak baru” di Pulau Buru. Silaturahimnya yang tiada henti kepada masyarakat sekitar, termasuk sejumlah pejabat pemerintah, menyebabkan Allah Ta’ala mengabulkan keinginan Dayat. Beberapa bangunan sudah berdiri di atas tanah seluas 1 hektare tersebut. Sebuah masjid juga sudah dibangun di tengah-tengah lahan. Dayat juga memelihara ternak dan membuka usaha madu.

Kini, telah ada 45 santri yang belajar bersama Dayat di pesantren ini. Dari jumlah itu, 15 santri menginap, sedang sisanya ikut belajar mengaji dari siang hingga sore. Dayat juga dibantu dua tenaga pengasuh.

Yang menarik, di antara anak-anak tersebut, ada cucu para tapol tadi. “Mereka sama seperti anak-anak yang lain. Tak ada yang berbeda dengan mereka,” kata Dayat.

 

Bahkan, satu di antara mantan tapol tersebut banyak membantu dakwah Hidayatullah di Pulau Buru. Dialah yang memberikan akses sehingga dai Hidayatullah lebih mudah berbaur dengan masyarakat di sekitar tempat itu.

Tahun 2019 ini, Dayat berencana membangun Madrasah Tsanawiyah di lokasi pesantren Hidayatullah. Khabarnya, menurut Dayat, pemerintah telah siap membantu membiayai pembangunan gedung sekolah tersebut. Sejumlah masyarakat juga telah bersedia membantu mengajar.

Hanya saja, Dayat berharap, masih ada dai-dai muda dari luar Pulau Buru yang mau menetap di pulau ini, mendidik anak-anak dan para santri, berdakwah di tengah masyarakat,  mengukir jejak baru, dan menghapus jejak lama.

Harapan Dayat adalah juga harapan seluruh penduduk Pulau Buru.* Mahladi

Tulisan ini hasil kerja sama dengan Dompet Dakwah Media

Rep: Admin Hidcom

Editor: Muhammad Abdus Syakur

Update aplikasi Hidcom untuk Android Sekarang juga !

Sebarkan :

Baca Juga

Umroh Akbar Arifin Ilham

Gedung PPH