Feature

Air Menghilang di Afrika, Perang Mengancam

Hidayatullah.com–Kurang dari 50 tahun lalu, Danau Chad lebih luas dari wilayah Palestina yang dikuasai Israel. Tapi sekarang, danau itu luasnya kurang dari sepersepuluh luas awal. Diperkirakan dalam waktu 20 tahun ke depan, danau akan menghilang.

Perubahan iklim dan penggunaan besar-besaran, menjadikan salah satu danau terpenting di Afrika itu terancam mati, sehingga 30 juta manusia yang tergantung padanya juga terancam bahaya.

Para pakar mengatakan, krisis yang tidak pernah terjadi sebelumnya menggelayuti wilayah danau dan sekitarnya, yang saat ini pun telah mengalami krisis makanan serta gangguan keamanan.

“Jika Danau Chad mengering, 30 juta orang akan kehilangan sumber kehidupan. Dan akan ada masalah keamanan serius, karena perebutan sumber air yang sangat terbatas semakin meningkat,” kata Dr. Abdullahi Umar Ganduje, Sekretaris Eksekutif Komite Lembah Danau Chad (LCBC) kepada Inter Press di Roma.

“Kemiskinan dan kelaparan akan meningkat. Ketika tidak ada makanan untuk dimakan, maka kecenderungannya terjadi kekerasan.”

Danau yang menciut sebanyak 90% antara tahun 1963 dan 2001, dari luas 25.000 km2 menjadi kurang dari 1.500 km2 itu, berbatasan dengan negara Chad, Niger, Kamerun, dan Nigeria.

Empat negara lainnya, yaitu Republik Afrika Tengah, Aljazair, Sudan dan Libya, berbagi air danau melalui lembah-lembah danau, sehingga mereka juga akan ikut terpengaruh masa depannya.

“Danau Chad mengalami penyusutan,” kata pemimpin Libya Muammar Gaddafi pada World Food Security Summit yang diselengarakan FAO di Roma bulan Nopember lalu.

“Jika danau mengering, maka akan terjadi bencana besar. Saya ingin mengingatkan dunia mengenai bencana yang ada di depan mata ini.”

Bencana itu sebenarnya sudah terjadi. Desa-desa yang dulu berjaya dengan pelabuhan-pelabuhan di tepi danau, kini jaraknya bermil-mil dari air, dan ditelan Gurun Sahara yang semakin meluas. Petani dan nelayan berjuang mati-matian sekedar untuk bertahan untuk hidup.

“Situtasi yang dramatis sudah terjadi,” kata Maher Salman, pejabat teknis di divisi tanah dan air FAO kepada Inter Press.

“Dampaknya sudah terlihat jelas. Terjadi perpindahan penduduk ke luar. Orang-orang pergi mencari air, jadi mereka meninggalkan daerah sekitar danau.”

Nelayan yang dulu bisa memenuhi tempat-tempat hasil tangkapan ikan mereka, kini hanya mendapatkan separuhnya. Menurut FAO, hasil produksi ikan di danau itu berkurang hingga 60%, dan jenis ikan yang berhasil ditangkap juga berkurang drastis.

Para petani yang mengandalkan air danau untuk irigasi, harus pindah mendekati air, atau membiarkan begitu saja lahan garapannya.

Kurangnya air menyebabkan padang-padang rumput kering, sehingga hewan-hewan terancam punah. Padang rumput yang mengering diperkirakan 46,5% di beberapa daerah pada tahun 2006, menyebabkan banyak hewan ternak mati dan menjungkirbalikkan hasil produksi ternak.

Perang Air

Seperti itulah keadaan yang dikhawatirkan oleh mantan Wakil Presiden Bank Dunia, Ismail Serageldin, pada tahun 1995 ketika ia berkata, “Perang di abad ke-20 adalah karena memperebutkan minyak. Perang di abad selanjutnya karena memperebutkan air.”

Pandangan Serageldin itu dikutip oleh banyak organisasi dalam laporan yang mereka buat, termasuk oleh badan intelijen Amerika Serikat, CIA.

Sudah banyak laporan yang menyebutkan terjadinya pertikaian antara petani dan pengembala yang memperebutkan lahan-lahan subur di sekitar Danau Chad. Keanekaragaman hayati juga terpukul dengan keadaan danau yang memprihatinkan. Begitu pula dengan kondisi kesehatan di daerah-daerah sekitarnya.

“Karena pergerakan manusia yang mencari makan begitu tinggi, maka interaksi di antara mereka juga meningkat. Yang mana hal itu membuat masalah semakin pelik, karena tingginya kasus penderita HIV di kalangan penduduk sekitar Danau Chad,” kata Ganduje.

“Bank Pembangunan Afrika telah meminta bantuan kami, dan kami sedang menanganinya,” katanya.

Hanya sedikit yang bisa dilakukan di tingkat regional terkait perubahan iklim –yang menyerang danau dari dua sisi, yaitu berkurangnya curah hujan dan meningkatnya laju penguapan air karena suhu udara yang bertambah panas. Kedalaman danau yang dangkal membuatnya semakin rentan terkena dampak pemanasan global.

Situasinya sangat suram, tapi bukan berarti tanpa harapan. Sebagian masalah masih bisa ditangani secara lokal.

“Kami optimis,” kata Ganduje. “Kami mengatur penggunaan air Danau Chad. Kami sedang merancang sebuah perjanjian sehingga setiap orang mempunyai aturan yang sama dalam penggunaan air.”

“Kami juga mengontrol aktivitas yang berkaitan dengan Danau Chad, seperti pembangunan bendungan dan irigasi. Kami mengontrol perilaku manusia untuk berjaga-jaga dari faktor-faktor di luar kuasa kami.”

Kepercayaan diri tersebut diperlukan seiring dengan meningkatnya pemahaman akan perlunya menanggulangi masalah yang ada.

“Sudah ada kesadaran perlunya diterapkan strategi manajemen yang baru,” kata Salman.

“Kesimpulan umum dari kebanyakan studi atas penyusutan danau adalah akibat dua faktor, yaitu tekanan manusia atas sumber-sumber air dan perubahan iklim. Pastinya ada solusi untuk itu.”

“Perlu adanya optimasi penggunaan air di setiap sektor, meningkatkan upaya konservasi air, dan menurunkan skala penggunaan teknologi pertanian agar irigasi semakin efisien. Kesadaran tentang penggunaan air juga penting, agar masyarakat berhemat.”

LBCB juga menaruh harapan yang sangat tinggi atas upayanya yang ambisius, yaitu mengembalikan danau seperti keadaan di tahun 1960-an, dengan mengalirkan sumber air dari Sungai Oubangur yang menjadi sumber terbesar bagi Sungai Kongo.

“Kajian untuk melihat kemungkinan tersebut telah mulai dilakukan, dan dana telah disiapkan.” kata Ganduje.

“Para kepala negara yakin akan kemajuan yang akan dicapai. Jika kajian itu hasilnya positif, kami yakin akan mendapatkan dukungan politik yang diperlukan.”

FAO mengatakan bahwa organisasinya tidak pada posisi untuk menentukan, apakah proyek itu harus dilanjutkan atau tidak. Meskipun demikian, pihaknya mengingatkan agar berhati-hati dengan dampak yang mungkin berpengaruh pada sistem Sungai Kongo.

Hal yang dipandang penting oleh FAO adalah rencana nyata untuk menyelamatkan danau, sehingga lembaga-lembaga donor benar-benar mau berkomitmen dalam rencana yang sangat penting bagi kehidupan puluhan juta manusia itu.

“Ada rencana strategis untuk pembangunan berkelanjutan di Danau Chad, tapi untuk mewujudkannya kami memerlukan rencana investasi,” kata Salman.

“Kami perlu mengadakan beberapa pertemuan lagi dengan para donor untuk menegaskan komitmen mereka dan memastikan dengan baik komitmen itu melalui investasi. Kabar baiknya adalah, sudah ada konsensus mengenai perlunya tindakan untuk mengatasi masalah tersebut.” [di/ips/www.hidayatullah.com]

Rep: Admin Hidcom

Editor: Administrator

Update aplikasi Hidcom untuk Android Sekarang juga !

Sebarkan :

Baca Juga

Umroh Akbar Arifin Ilham

Gedung PPH