Apakah Kita Mengira Gunung-gunung itu Diam? Apakah Kita Mengira Gunung-gunung itu Diam? Apakah Kita Mengira Gunung-gunung itu Diam? Apakah Kita Mengira Gunung-gunung itu Diam? Apakah Kita Mengira Gunung-gunung itu Diam? Apakah Kita Mengira Gunung-gunung itu Diam?

Apakah Kita Mengira Gunung-gunung itu Diam?

KAMIS (13/02/2014), Gunung Kelud di Kediri Jawa Timur meletus dan mengeluarkan ratusan ribu kubik material vulkanik. Kelud meletus sekitar pukul 23.00 WIB. Sebelumnya, gunung tersebut mengeluarkan beberapa kali dentuman disertai dengan beberapa kilatan.

Hujan abu dari Gunung Kelud tidak hanya berimbas ke Jawa Timur, tapi juga ke Jawa Tengah dan sekitarnya. Hujan abu akibat letusan Gunung Kelud di perbatasan Kabupaten Kediri, Malang, dan Blitar, di Jawa Timur, menyeberang hingga lintas provinsi. Abu antara lain tiba di Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat (14/2/2014) pada dini hari. Hujan Abu Gunung Kelud juga sudah memasuki Kota Semarang.

Sementara itu, ribuan warga di lereng Kelud memadati jalan menuju tempat evakuasi. Mereka dari beberapa desa di Kecamatan Ngancar. Untuk saat ini, warga Kecamatan Ngancar ditempatkan di Balai Desa Tawang di Kecamatan Wates, Kediri.

Sebagaimana fenomena gunung-gunung di Indonesia, Gunung Kelud juga tak lepas dari fenomena klenik. Dengan bukti banyak orang ngalap berkah (mencari kekayaan).

Masyarakat juga masih percaya legenda amalan tolak balak  yang disebut Larung Sesaji. Acara ini digelar setahun sekali pada tanggal 23 bulan surau yang biasa dilakukan oleh masyarakat Sugih Waras dan sekitarnya.

Tidak Diam

Sesungguhnya bagi orang beriman, fenomena gunung bukanlah hal baru. Allah telah banyak menyitir dalam al-Quran bahwa gunung-gunung tidaklah diam sebagaimana yang tampak, akan tetapi mereka terus-menerus bergerak atas kehendak Allah.

Para ilmuwan sepakat bahwa gunung tidak diam seperti yang kita anggap, melainkan bergerak. Sebagaimana firman Allah

وَتَرَى الْجِبَالَ تَحْسَبُهَا جَامِدَةً وَهِيَ تَمُرُّ مَرَّ السَّحَابِ صُنْعَ اللَّهِ الَّذِي أَتْقَنَ كُلَّ شَيْءٍ إِنَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَفْعَلُونَ

“Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal dia berjalan sebagaimana jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS: An Naml [27]:88)

Secara teori, gerakan gunung-gunung ini disebabkan oleh gerakan kerak bumi tempat mereka berada. Kerak bumi ini seperti mengapung di atas lapisan magma yang lebih rapat.

Al-Quran menegaskan bahwa gunung diciptakan untuk menahan guncangan-guncangan akibat tekanan gas yang terbentuk di dalam bumi dan guncangan akibat gempa.

وَجَعَلْنَا فِي الْأَرْضِ رَوَاسِيَ أَن تَمِيدَ بِهِمْ وَجَعَلْنَا فِيهَا فِجَاجاً سُبُلاً لَعَلَّهُمْ يَهْتَدُونَ

“Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka dan telah Kami jadikan (pula) di bumi itu jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk.” (QS. Al-Anbiya [21]: 31).

Para ilmuwan sepakat bahwa gunung tidak diam seperti yang kita anggap, melainkan bergerak. Adalah Profesor Emeritus Frank Press dari Washington, Amerika Serikat (AS), salah seorang Geolog yang mengkaji tentang gunung sebagai sebagai pasak bumi.

Mengapa gunung diistilahkan sebagai pasak? Menurut Prof Press, sebenarnya, kerak bumi mengapung di atas cairan. Lapisan terluar bumi membentang 5 km dari permukaan. Kedalaman lapisan gunung menghujam sejauh yang 35 km. Dengan demikian, pegunungan adalah semacam pasak yang didorong ke dalam bumi.

Fenomena musibah banjir, gempa bumi, kecelakaan, meletusnya gunung, seharusnya tidak sekedar dibaca sebagai tanda-tanda fenomena alamsemata. Apalagi hanya memakluminya hanya karena Indonesia memiliki 127 gunung berapi aktif.

Tanda-tanda ini seharunya  dikaji dan sebagai bahan renungan bersama. Sebab tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan  pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab  Al-Quran.

مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ
لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ
الَّذِينَ يَبْخَلُونَ وَيَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبُخْلِ وَمَن يَتَوَلَّ فَإِنَّ اللَّهَ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri, (yaitu) orang-orang yang kikir dan menyuruh manusia berbuat kikir. Dan barangsiapa yang berpaling (dari perintah-perintah Allah) maka sesungguhnya Allah Dia-lah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” [QS: Al-hadiid [57]: 22-24)

Al-Quran menyebutkan gunung sebanyak 29 kali dan menjelaskan bahwa gunung itu seperti pancang bagi bumi agar tidak mengalami goncangan.

أَلَمْ نَجْعَلِ الْأَرْضَ مِهَاداً
وَالْجِبَالَ أَوْتَاداً

“Bukankah kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan? Dan gunung-gunung sebagai pasak?” (QS: An-Naba [78]:6-7)

Kalau kita mencari arti kata رسا dalam kamus bahasa arab, maka kita akan temukan bahwa rasaa berarti ثبت (tetap/kokoh/tidak goyah), dan ini sesuai dengan salah satu fungsi gunung, yaitu mengokohkan lempeng bumi agar tidak goncang.

Jika semua gunung yang dijadikan Allah sebagai pancang-nya sudah tidak lagi kokoh, apa yang akan terjadi?

Mungkinkah bumi dan hamparannya akan segera dilipat?

Sebagaimana hadits dari Abdullah bin ‘Umar dia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: ‘Pada hari kiamat kelak, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan melipat langit. Setelah itu, Allah akan menggenggamnya dengan tangan kanan-Nya sambil berkata: ‘Akulah Sang Maha Raja. Di manakah sekarang orang-orang yang selalu berbuat sewenang-wenang? Dan di manakah orang-orang yang selalu sombong dan angkuh? ‘ Setelah itu, Allah akan melipat bumi dengan tangan kiri-Nya sambil berkata: ‘Akulah Sang Maha Raja. Di manakah sekarang orang-orang yang sering berbuat sewenang-wenang? Di manakah orang-orang yang sombong? “ (HR Muslim 4995).

Semoga masih ada waktu bagi kita untuk merenunginya.*

Baca Juga

Umroh Akbar Arifin Ilham

Gedung PPH