Jendela Keluarga
Dompet Dakwah Media

Begini Islam Memandang Fenomena Generasi Sandwich 

Begini Islam Memandang Fenomena Generasi Sandwich 

oleh: Husnul Khatimah

 

Hidayatullah.com | PEMBAHASAN mengenai sandwich generation atau generasi sandwich sedang booming terutama di tengah pandemi Covid-19 saat ini. Banyak seminar yang sekarang diselenggarakan secara daring atau yang akrab disebut dengan webinar yang mengulas tentang generasi yang satu ini, begitupula banyak tulisan yang mengangkat tema yang sedang hangat ini disertai dengan arahan dan solusi dari narasumber ahli.

Penulis di sini tidak akan turut serta memberikan arahan bersifat general seperti yang sudah dipaparkan para narasumber ahli berupa cara menambah penghasilan dengan menjalankan usaha di luar pekerjaan inti atau sederet motivasi membangun lainnya. Namun tulisan ini hendak mengulas dari sisi pandangan Islam bagaimana sebaiknya menyikapi persoalan ini terutama di tengah kondisi pandemi global sekarang.

Sebelum melangkah lebih jauh terlebih dahulu harus kita pahami apa sebenarnya generasi sandwich tersebut, apakah semacam generasi yang senang dengan makanan ala barat atau sebuah program diet dengan vegetarian life style. Yang dimaksud dalam tulisan ini adalah bukan keduanya, akan tetapi istilah yang disematkan kepada generasi yang berada pada rentang usia 30 sampai dengan 40 tahun berada pada rentang usia produktif dan telah memiliki tanggungan yakni telah menikah dan memiliki anak yang tentunya masih membutuhkan biaya hidup dan pendidikan, sekaligus menanggung biaya hidup orang tuanya yang sudah sepuh dan tidak berpenghasilan lagi (Suryo, 2020).

Mengapa diistilahkan sebagai sebuah sandwich? Karena ia harus menanggung keluarga barunya sekaligus orang tuanya seperti halnya sebuah roti yang diisi dengan beberapa sayuran, daging, keju, saus dan lainnya kemudian ditutup lagi dengan sebuah roti yang lainnya menggambarkan kehidupan yang dihimpit dengan generasi sebelum dan setelahnya.

Generasi ini mungkin tidak sefamiliar istilah generasi lainnya yang sedang trend. Namun keberadaaan dan kondisinya tidak dapat diabaikan, karena usia mereka masih dalam jenjang usia produktif yang banyak memberikan kontribusi di tengah masyarakat.

Islam sebagai agama yang kamil wa syamil telah memberikan pedoman sekaligus solusi terhadap berbagai persoalan yang dihadapi ummatnya, sampai kepada urusan ke kamar belakang pun sudah diatur dalam syariat nan agung ini apatah lagi persoalan kehidupan perekonomian ummatnya. Islam memberi pedoman menyangkut kebutuhan hidup dan keberlangsungan kehidupan di muka bumi yang adil dan merata, di antaranya menyikapi beban yang ditanggung generasi sandwich dalam menanggung hajat hidup dua generasi dalam tanggungannya.

Dalam Islam menanggung beban keluarga disebut dengan bersedekah kepada kerabat dan memiliki keutaamaan yang sangat besar di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yaitu diganjar dengan pahala bersedekah sekaligus menyambung silaturrahim (hubungan kekerabatan), hubungan kekerabatan yang dimaksud di sini adalah orang tua, istri, dan anak dalam tanggungannya, sebagaimana hadist dari Salman bin Amir Radhiyallahu ‘Anhu Rasulullah bersabda,

إِنَّ الصَّدَقَةَ عَلَى الْمِسْكِينِ صَدَقَةٌ وَعَلَى ذِي الرَّحِمِ اثْنَتَانِ صَدَقَةٌ وَصِلَةٌ

Sesungguhnya sedekah kepada orang miskin pahalanya satu sedekah, sedangkan sedekah kepada kerabat pahalanya dua; pahala sedekah dan pahala menjalin hubungan kekerabatan.” (HR. An-Nasai No. 2583, Tirmidzi No. 658, Ibnu Majah No. 1844).

Al Qadhi Abu Syuja dalam Tuasikal (2018) menjelaskan bahwa seorang anak wajib menafkahi orang tuanya jika terpenuhi syarat bahwa orang tuanya dalam keadaan miskin dan tidak mampu lagi mencari nafkah. Atau orang tuanya dalam keadaan miskin dan hilang akal sehatnya, sedangkan nafkah kepada anak menjadi wajib jika memenuhi syarat jika anak tersebut masih kecil (belum baligh) dan miskin; miskin dan belum kuat bekerja; serta miskin dan hilang akal sehatnya.

Nafkah kepada orang tua merupakan salah satu di antara bentuk birrul walidain kepada mereka terutama apabila mereka telah berusia lanjut, maka semestinya tidaklah dianggap sebagai sebuah beban melainkan sebuah kesempatan berharga nan langka yang tidak semua orang diberi kesempatan meraihnya. Jawas (2020) mengungkapkan bahwa banyak hadits yang menunjukkan kerugian yang dialami orang yang tidak berbakti kepada orang tua terutama saat mereka masih berada di sisi kita dan telah mencapai usia lanjut, dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu Nabi ﷺ bersabda,

رَغِمَ أَنْفُ، ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ، ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ مَنْ أَدْرَكَ أَبَوَيْهِ عِنْدَ الكِبَرِ، أَحَدُ هُمَا أَوكِلَيْهِمَا، فَلَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ

“Celaka, sekali lagi celaka, dan sekali lagi celaka orang yang mendapatkan kedua orang tuanya berusia lanjut, salah satunya atau keduanya, tetapi (dengan itu) dia tidak masuk syurga”. (HR. Muslim No. 2551 dan HR. Ahmad 2: 254, 346).

Hakim (2019) menguraikan bahwa pemenuhan nafkah keluarga merupakan kewajiban dan sebaliknya ia berdoa jika meninggalkan kewajibannya tersebut, selain itu nafkah ini juga bernilai sedekah di sisi Allah Rabbul Alamin bahkan merupakan sebaik-baik harta yang diinfakkan seorang kepala keluarga, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ bahwa sesuatu apa pun yang engkau berikan sebagai makanan kepada dirimu, maka itu merupakan sedekah. Demikian pula yang Engkau berikan sebagai makanan kepada anakmu, istrimu, bahkan kepada budakmu, itu semua merupakan sedekah (HR. Ahmad no. 17179), atau dalam redaksi yang lain disebutkan bahwa dinar yang engkau infaqkan di jalan Allah (perang), dinar yang engkau infaqkan untuk membebaskan seorang budak, dinar yang Engkau sedekahkan kepada orang miskin, dan dinar yang engkau infaqkan untuk keluargamu, yang paling besar pahalanya adalah infaq yang engkau berikan kepada keluargamu (HR. Muslim no. 995).

Maka dari itu, seorang muslim persoalan apapun yang tengah menimpanya hendaknya dikembalikan kepada ajaran syariat ini yang luhur lagi paripurna, tidak lagi membeo’ kepada apa yang datang dari barat melainkan apa yang haq datang dari Allah dan Rasul-Nya. Di sini penulis bukan menguraikan bahwa yang datang dari pemikiran barat semuanya buruk, namun jika kita ikut latah terhadap pemikiran kapitalis dengan menganggap bahwa semua perbuatan harus dihargai dari sisi materi, salah satu di antaranya beratnya memikul beban sebagai seorang generasi sandwich, maka ia bertentangan dengan nilai kemanusiaan, dan  keadilan dalam Islam, ada  falah yang tidak hanya kita peroleh di dunia semata melainkan lebih dari itu falah di akhirat sebagai tempat abadi, tujuan hidup seorang muslim.

Seseorang boleh saja melakukan usaha di luar pekerjaan intinya untuk menambah penghasilan dalam memenuhi kebutuhan hidup dan orang-orang yang berada dalam tanggungannya seperti berwirausaha, akan tetapi dengan menanggung orang tua dianggap sebagai beban nan berat bukan diniatkan untuk mengharapkan wajah Allah Azza Wa Jalla semata akan melahirkan keletihan demi keletihan yang tidak berkesudahan. Padahal menanggung kehidupan orang tua terlebih lagi telah lemah di usia yang telah sepuh adalah salah satu kewajiban dan asset terbesar yang akan kita bawa sebagai bekal di kehidupan keabadian kelak.

Islam meyakini bahwa kehidupan hari ini adalah hari beramal sebanyak-banyaknya sebagai bekal untuk beristirahat dari hiruk pikuk dunia di negeri akhirat kelak. Bukankah Allah Azza Wa Jalla telah menjamin bahwa harta yang kita keluarkan hakikatnya tidaklah berkurang secara jumlah semata akan tetapi lebih dari itu harta itu bertambah dari segi jumlah dan berkah. Tidaklah orang yang memberi itu akan jatuh dalam lubang kemiskinan, meskipun ia tidak kaya raya dari segi materi namun keberkahan hidup terlihat dari karir yang cemerlang, usaha yang berkembang, rumah tangga yang harmonis, anak-anak yang shalih-shalihah, kesehatan, kesejahteraan, dan keamanan semua didapatkan karena kebaikan yang ia berikan pada orang tuanya dan doa yang dipanjatkan orang tua dan keluarganya kepada dirinya.

Semestinya ia bangga mampu menghidup dirinya sendiri beserta anak istri dan kedua orangtuanya di usia terbilang muda dan produktif, di mana jarang orang meraih pencapaian hidup seperti itu, bahkan ia disebut mampu memberi manfaat kepada orang banyak, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-daraquthni), karena memberi manfaat merupakan kepribadian yang harus dimiliki seorang muslim dan sesungguhnya manfaat itu kembali kepada dirinya sendiri. Maka seyogyanya istilah generasi sandwich tidak digunakan kaum muslimin melainkan generasi Anfuahum Linnas (Generasi Bermanfat bagi Manusia lainnya).*

Penulis tinggal di Sukabumi

 

 

Rep: Admin Hidcom

Editor:

Dukung Kami, Agar kami dapat terus mengabarkan kebaikan Lebih lanjut, Klik Dompet Dakwah Media Sekarang!

Update aplikasi Hidcom untuk Android Sekarang juga !

Sebarkan :

Baca Juga

Rumah Wakaf