Oase Iman

Mereka yang Rendah Hati (1)

Mereka yang Rendah Hati (1)

BETAPA susahnya pengamalan kriteria ini. Dalam kehidupan sehari-hari, tidak mudah kita bersikap tawadhu atau rendah hati. Dalam kenyataan, lebih mudah kita mengunggulkan kehebatan, prestasi, dan nilai-nilai lebih yang kita miliki.

Susah kita bersikap seakan-akan kita bukan siapa-siapa. Sedikit berperan, memiliki kedudukan atau jabatan, langsung saja kita merasa tinggi hati. Tidak ada kesulitan sedikit pun kita tidak tidak tinggi hati, saat orang lain memuji, sekalipun palsu atau cari muka.

Sangat mudah kita membanggakan hal-hal sepele yang kita miliki. Sifat seperti inilah yang menghalangi shalat kita diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Mari kita camkan sabda Rasulullah Shalallaahu ‘Alahi Wasallam: “Tiada berkurang harta karena sedekah, dan Allah tiada menambah pada seseorang yang memaafkan melainkan kemuliaan. Dan tiada seseorang yang bertawadhu kepada Allah, melainkan dimuliakan oleh Allah.” (HR. Muslim).

Hadist lain diriwayatkan dari Iyadh bin Himar, Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mewahyukan kepadaku: ‘Bertawadhulah hingga seseorang tidak menyombongkan diri terhadap lainnya dan seseorang tidak menganiaya terhadap lainnya.” (HR. Muslim).

Beberapa kisah berikut sangat berkesan untuk kita teladani. Rasul yang mulia ini sungguh merupakan makhluk yang rendah hati. Tidakkah sunnah ini yang utama untuk kita tiru dan gugu?

Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Nabi memiliki seekor unta yang diberi nama al-‘adhba’ yang berarti unta yang tidak terkalahkan larinya. Suatu hari datang seorang Arab dusun (a’rabiy) dengan untanya dan mampu mengalahkan. Hati kaum muslimin terpukul menyaksikan hal tersebut, sampai hal itu diketahui oleh Nabi.

Beliau bersabda: “Menjadi haq Allah jika ada sesuatu yang meninggikan diri di dunia pasti akan direndahkan-Nya” (HR. Bukhari). Allah mengajari utusan-Nya untuk rendah hati dan tidak menyombongkan diri meski sekadar memberi julukan pada hewan kesayangannya.

Anas juga meriwayatkan kebiasaan indah Nabi bila bertemu anak-anak. Beliau sangat menyayangi mereka. Beliaulah yang mengucapkan salam lebih dahulu. Bahkan, sebagaimana kita ketahui, beliau menyarankan kita menyapa siapa pun lebih awal. “Afsyu al-salam ila man arafta wa man lam ta’rifhu“, ucapkan salam kepada orang yang kamu kenal dan belum kamu kenal.

Muhammad Rasulullah makhluk termulia. Dunia dan seluruhnya diciptakan karena dirinya. Setiap doanya mustajab dan dikabulkan. Namun beliau memilih tetap rendah hati dan sangat santun. Riwayat Abu Said al-Khudarii berikut sangat menyentuh hati. Mampukah kita teladani akhlak-akhlak luhur berikut:

– Bila bajunya sobek, tangan mulia Rasulullah menjahitnya sendiri. Padahal, semua sahabat dan istri-istrinya siap selalu membantunya. Beliau teladan paripurna sepanjang zaman. Seperti tradisi masyarakat padang pasir umumnya, beliau memiliki unta sebagai tunggangan utama. Meski beliau ada pembantu di rumahnya, tidak segan-segan beliau memberi makan sendiri tunggangannya.

Bila rumahnya bocor, beliau memperbaikinya. Rasulullah juga tidak segan-segan memerah susu kambing untuk kebutuhan hidupnya. Bila sandalnya rusak beliau menambalnya sendiri.

– Bila makanan disajikan, beliau ajak para pembantunya untuk bersama-sama menikmati rezeki dan karunia itu. Kalau kebutuhan dapur keluarganya habis, segera beliau menuju pasar Madinah. Barang belanjaan itu dijinjingnya sendiri. Rasulullah mudah iba hati bila melihat penderitaan orang lain.

Bila ada kabar seseorang sakit beliau menjenguknya. Beliau tidak memilih dan memilah siapa yang sakit. Kaya, miskin, tua ataupun muda selalu dihibur dan dibahagiakannya. Bersama sahabat-sahabat yang lain beliau mengantarkan jenazah.

Mereka yang sakit terhibur dengan motivasi dan kabar adanya pahala dan dosa yang terhapus karena cobaan itu. Mereka yang ditinggal mati oleh keluarganya, akan dihiburnya.

– Jarang beliau menginapkan makanan atau minuman di rumahnya. Beliau contoh agung seorang dermawan. Sorban dan baju yang melekat di tubuhnya bila diminta sekalipun oleh Arab dusun dilepaskannya.Tiada bandingannya dalam hal kedermawanan.

Wajahnya selalu ceria dan tersenyum. Diriwayatkan, wajahnya indah dipandang, menyerupai bulan purnama. Senyum dan cerah menghias wajahnya yang memang rupawan.* [Tulisan selanjutnya]

Dari buku 8 Pintu Surga karya Mohammad Monib, MA.

Rep: Admin Hidcom

Editor: Syaiful Irwan

Update aplikasi Hidcom untuk Android Sekarang juga !

Sebarkan :

Baca Juga

Hidayatullah Depok

Iklan Bazar