Oase Iman

Tiga Karakter Mendasar, Kemuliaan Keluarga Ibrahim

Tiga Karakter Mendasar, Kemuliaan Keluarga Ibrahim

IDUL ADHA atau Idul Qurban, kait eratannya dengan kisah perjalanan Nabi Allah Ibrahim dan keluarga. Dalam al-Qur’an, Allah sendiri dengan tegas menetapkan Nabi yang berjuluk sebagai ‘Bapak para Nabi’ itu sebagai suri teladan bagi kaum muslimin, dalam mengarungi kehidupan di dunia ini.

Allah berfirman;

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ

“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dia….” (QS: al-Mumtahananh: 4)

Dan bila ditelusuri jejak perjalanan keluarga mulia ini, maka sungguh banyak sekali pelajaran yang bisa diambil dari setiap segmentasi kehidupan yang dilalui. Maka dalam kupasan singkat ini, penulis hanya mengerucut pada tiga karakter mendasar, yang menjadi basis kemuliaan yang didapat.

Yang pertama; Ibrahim dan keluarga tipikal hamba yang totalitas dalam menjalankan ketaatan kepada Allah. Ketika turun suatu perintah kepada mereka,  maka ditunaikan sesuai dengan ‘porsi’nya. 100% tanpa dikurangi barang sedikit pun. Meski itu sangat berat, dan berlawanan dengan hati nurani.

Setidaknya ada dua peristiwa yang menggambarkan akan hal itu. Pertama, ketika turun perintah untuk meletakkan Hajar, sang istri, beserta Ismail yang masih dalam buaian, di lembah yang tidak ada nuansa kehidupannya. Padang sahara nan tandus (Ibrahim: 37).

Baca: Idul Adha dan “Menyembelih Sifat Hewani” 

Aduhai, kepala keluarga manakah yang tidak sedih, di saat rasa cinta, kasih dan sayang membuncah dalam diri, karena begitu lamam menanti kehadirannya. Secarar tetiba, datang perintah meninggalkan mereka di tempat yang tumbuhan saja enggan hidup. Seorang diri. Secara logika tidak ada jaminan hidup. Namun, sejarah mencatat, Ibrahim dan keluarga mampu menjalankannya.

Sungguh inilah bentuk dari sebuah idealita ketaatan seorang hamba kepada Tuhannya. Peribadatan semisal ini pula yang diminta oleh Allah kepada setiap hamba-Nya, hingga mereka memperoleh keberuntungan, di kemudian hari.

Firman Allah;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

 “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya; Dana janganlah kamu mati selain dalam keadaan beragama Islam.” (QS: Ali Imran: 102)

Peristiwa yang kedua, datang ketika anak laki-laki itu (Ismail) telah tumbuh remaja/dewasa. Kembali datang ujian dari Allah. Lebih dahsyat dari yang pertama. Ibrahim diminta menyembelih sang anak. Dengan tangannya sendiri.

Aduhai, orangtua manakah yang mampu melakukan perintah ini. Bagi mereka yang telah memiliki anak, tahu betul bagaiman pedihnya hati, bila mendapati buah hati (apa lagi yang masih bayi) terserang sakit. Tidak usah bicara sakit kronis. ‘Cukup’ panas, pilik, dan batuk saja. sangat terusik kenyamanan, perasaan dan pikiran.

Tapi ujian yang menimpa Ibrahi, jauh dari itu. ia diminta mengorbankan sang anak, dengan menyembelihnya. Tapi, kembali tinta sejarah sejarah mencatat, Ibrahim dan keluarga mampu menunaikan perintah ini dengan sempurna. Tak ada keraguan dari mereka untuk melaksanakan perintah Allah, sesuai dengan apa yang diminta.

Teguh pendirian, demi menggapai ridha-Nya.  segala perasaan manusiawi yang mengikat dihempaskan. Itu semua karena, ketundukan mereka kepada Allah, telah beradi atas segala yang mereka miliki, tak terkecuali keluarga, bahkan diri merkea sendiri.

Masuk kepada karakter kedua, keluarga Ibrahim merupakan kumpulan orang yang ikhlas (mukhlisun) menerima ketetapan Allah, segetir apapun itu. Sungguh suatu ketaatan, hanya bisa dilakukan secara totalitas, bila mana dilandasi oleh rasa ikhlas.

Sebaliknya, ketika keikhlasan itu tercerabut dari hati, maka hasilnya akan buruk. Bukan hanya tidak sempurna pekerjaan dari sebuah perintah, namun jauh dari itu, boleh jadi menyimpan dari standar yang telah ditetapkan.

Tipikal kelompok semisal ini, bisa kita lihat pada perilaku orang-orang munafik, sebagaimana digambarkan dalam al-Qur’an. Ketika diperintahkan untuk mendirikan sholat, mereka mengerjakannya. Tapi tidak penuh antusia, sungguh-sungguh, apa lagi sampai maqam khusyu.’ Yang ada mereka melakukannya secara serampangan dan malas-malasan (QS: an-Nisa’: 142).

Ibrahim dan keluarganya jauh dari tabiat uruk ini. Terbukti, ketika datang godaan secara bertubi-tubi dari syetan, agar Ibrahim mengurung niatnya untuk menyembelih Ismail, bujukan itu tak diindahkan. Yang ada syetan itu dilempar dengan batu, hingga lari terbirit-birit. Itulah asal muasal dari lembar jumrah, dalam ibadah haji.

Kesuksesan Ibrahim dalam menghindari bujuk-rayu syetan, itu sebuah bukti akan ketulusan/keikhlasan seorang hamba, dalam menjalankan perintah Allah. Karena sejatinya, syetan sendiri telah membuka tabir di hadapan Allah, ia tidak akan pernah mampu menggelincir seorang hamba dari ketaatan, yang didasari oleh keikhlasan.

Allah berfirman;

قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الأَرْضِ وَلأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ

إِلاَّ عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ

“Iblis berkata; ‘Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutusskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan panti aku akan menyesatkan semuanya. Kecuali hamba-hama Engkau yang mukhlis (ikhlas) di antara mereka.’” (QS: al-Hijr: 39-40)

Masuk ke karakter ketiga, sekaligus nan terakhir dalam pembahasan ini; Nabi Ibrahim dan keluarga merupakan pribadi-pribadi yang penyabar. Sungguh apa yang telah menjadi ketetapan Allah bagi seorang hamba adalah sebuah takdir yang harus diterima. Terutama yang mengenai urusan-urusan yang menyelisihi keinginan pribadi.

Dan sikap terbaik bagi seorang hamba ialah bersikap sabar. Hal inilah yang akan menjadikannya spesial. Menakjubkan. Bersabar ketika menerima musibah. Maka kita perhatikan jawaban dari sang anak yang hendak dikorbankan/disembelih; ia berharap tergolong kelompok orang-orang yang bersabar. Sehingga dikuatkannya sang ayahanda, untuk melakukan apa yang diperintahkan.

Baca: Qurban, Pendidikan Karakter dan Cinta 

Allah berfirman;

يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَاء اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

“….Ia (Ismail) menjawab; ‘Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang bersabar.” (QS: ash-Shaffat: 102)

Dan bila kita telusuri al-Qur’an dan al-Hadits, maka kita temukan sebuah ketetapan, bahwa keberuntungan itu akan senantiasa menaungi orang-orang yang bersabar. Dalam Surat al-‘Ashr, misal. Dijelaskan di sana, bahwa hakekat manusia, apapun status sosialnya, semua dalam keadaan yang merugi. Kemudian Allah memberi pengecualian beberapa kelompok, satu di antaranya adalah mereka yang senantiasa menasehati dalam kesabaran.

Sedangkan dalam Surat al-Baqarah ayat 155-157, Allah memberi kabar gembira kepada hamba-hamba-Nya yang bersabar dalam menghadapi ujian, bahwa mereka kan mendapatkan keberkahan yang sempurna dan rahmat dari  Tuhannya. Dan mereka tergolong orang-orang yang mendapat hidayah.

Inilah di antar pelajaran dari perjalan dari Nabi Ibrahim. Untuk kita yang mengharapkan posisi serupa, untuk pribadi ataupun keluarga, maka menjadi keniscayaan bagi kita untuk menapi setiap jejak langkah perjalanan beliau, sebagaimana yang menjadi himbauan Allah pada ayat bagian awal pada pembukaan tulisan ini. Wallahu ‘Alamu Bish-Shawab.*/Khairul Hibri, Pengajar STAIL, Anggota PENA Surabaya

Rep: Admin Hidcom

Editor: Cholis Akbar

Update aplikasi Hidcom untuk Android Sekarang juga !

Sebarkan :

Baca Juga

Umroh Akbar Arifin Ilham

Gedung PPH