Oase Iman

Manusia Alit Yang Kemuliaannya Menembus Langit

Manusia Alit Yang Kemuliaannya Menembus Langit

SEMASA jahiliyah, dirinya tak lebih sebagai budak yang hina di mata publik. Jika masa kelam itu –baca: jahiliyah– terus berlangsung, bisa jadi namanya tidak akan tersebut dalam lembaran emas sejarah.

Kastanya yang rendah, tak memungkinkan dirinya mendapatkan perlakuan layak sebagaimana orang Arab Makkah pada masa itu. Bagaimana mendapat perlakuan terhormat, sedang dirinya saja milik orang lain?

Untung saja, budak yang berasal dari suku Azd ini tuannya adalah saudara seibu Aisyah, Thufail bin Abdullah bin Sakhbarah (anaka dari Ummu Ruman). Kondisi ini di kemudian hari memungkinnya memeluk Islam sejak dini dan gampang untuk dimerdekakan.

Terlepas dari kondisinya secara sosial yang dianggap rendah, merupakan keberuntungan luar biasa bagi Amir bin Fuhairah yang bisa mendapat hidayah Islam sejak dini.

Keislamannya –dalam catatan sejarah– sudah terikrar sebelum Nabi Muhammad menjadikan rumah Al-Arqam sebagai episentrum dakwah (Mahmud Al-Mahsry, 2005: II/326).

Saat masuk Islam, berbagai siksaan yang menimpa kawan sejawat dan senasib seperti Bilal bin Abi Rabbah dkk; juga dirasakannya, sampai akhirnya ia dimerdekakan oleh Abu Bakar.

Namun, kesabaran yang tinggi, ketegaran luar biasa dan keteguhan yang melampaui rata-rata, membuatnya konsisten di jalur Shirathal Mustaqim. Itu tidak lain karena spirit keislaman atau hidayah Allah yang memenuhi batinnya.

Sebelum Islam mungkin dia terlihat hina dan dipandang sebelah mata. Tapi, sejak hidayah direngkuhnya, dirinya menjadi mulia. Hidayah memungkinnya menggapai takwa; kemudian takwa itu menjadikannya bak mutiara yang begitu indah di mata Allah Subhanahu wata’ala.

Kontribusinya untuk perjuangan Islam terbilang besar. Ia bukan menjadi orang pasif dalam dakwah. Saat Nabi Muhammad dan Abu Bakar berhijrah ke Madinah, sahabat yang dulunya seorang budak ini berjasa besar dalam menghapus jejak-jejak Nabi dan Abu Bakar agar tak terendus orang kafir.

Saat Nabi dan Abu Bakar menjadi buronan kelas kakap, Maula dari Abu Bakar ini bertindak laiknya penggembala kambing yang bertugas untuk mengelabui orang kafir agar tak mencium jejak dua orang mulia yg sedang hijrah. Walhasil, Nabi dan Abu Bakar bisa sampai ke bumi Yatsrib (Madinah) dengan aman sentosa.

Di Madinah, kiprah dan kontribusinya tak bisa diremehkan. Bersama Sahabat lainnya, beliau sering bermulazamah dengan Rasulullah. Tak begitu mengagetkan jika pada perjalanan karirnya, beliau termasuk Sahabat yang hafal Al-Qur’an, yang dalam sejarah disebut Qurra.

Dari ranah militer, beliau tercatat berpartisipasi secara aktif dalam perang Badar dan Uhud. Beliau termasuk tercatat sebagai tentara berkuda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Pada tahun keempat Hijriah, beliau bersama-sama Sahabat yang hafal al-Qur’an, ia diutus Nabi untuk berdakwah mengajarkan Al-Qur’an. Dalam rombongan itu ada nama Mundzir bin ‘Amir al-Sa’idy.

Namun, takdir Allah berkata lain. Saat sampai di Bi’ru (sumur) Ma’unah, mereka dibantai oleh orang-orang kafir (Amir bin Thufail yang berasal dari Bani Sulaim). Semuanya gugur, kecuali ‘Amru bin Umayyah adh-Dhimry (Dalam kitab lain [Mirqaat al-Mafaatiih, III/325], disebutkan yang lolos adalah Ka’ab bin Zaid al-Anshary).

Siapa sangka, perjalan dakwah itu ternyata menjadi penutup usianya. Rupanya ia telah menggapai syahidnya. Dalam kitab sirah dan hadits, digambarkan betapa pilunya Nabi Muhammad mendengar utusannya yang hafal Al-Qur’an telah gugur.

Sampai-sampai, beliau secara kontinu bersama sahabatnya mengadakan qunut dalam shalatnya selama sebulan untuk mendoakan sahabat yang gugur dan mengecam tindakan kejam orang kafir. Bukhari dalam Shahih-nya, menyabutkan bahwa suku yang disebutkan dalam qunut Rasulullah adalah Ri’l, Dzakwan, dan Ushaiyyah.

Dalam peristiwa pembantaian itu; ada keunikan terjadi. Nabi mendapat laporan, bahwa jasad Amir bin Fuhairah tak ditemukan.

Pada akhirnya Nabi diberi informasi bahwa tubuh Amir diangkat ke langit dan dimakamkan oleh malaikat (Diriwayatkan oleh Ibnu Mubarak dari ‘Urwah).

Allahu Akbar! Siapa bakal mengira, orang yang dulunya dianggap hina di mata manusia mendapat kemuliaan yang luar biasa dari Allah. Kemuliaannya bukan hanya sebatas dunia, tapi juga menembus langit. Ia mungkin alit di mata manusia, namun besar dan mulia di mata Pemilik Langit. Sampai-sampai malaikat turun langsung untuk memakamkannya.

Dari seorang Amir bin Fuhairah, terkandung pelajaran dahsyat bagi setiap Muslim. Pertama, kemuliaan bukan terletak pada harta dan status sosial yang mentereng, tapi karena mendapat hidayah Islam dan takwa (baca: QS. al-Hujurat [49]: 13).

Kedua, komitmen terhadap hidayah Islam, diwujudkan dengan kontribusi nyata, bukan sekadar indahnya kata-kata. Ketiga, teruslah berjuang karena Allah, sampai menggapai kemuliaan tinggi sebagaimana Amir bin Fuhairah. Biar Allah yang menentukan bagaimana takdir kemuliaan itu. Kita tinggal berjuang dan terus maju. Tabik.* Mahmud Budi Setiawan

Rep: Admin Hidcom

Editor:

Update aplikasi Hidcom untuk Android Sekarang juga !

Sebarkan :

Baca Juga

Hidayatullah Depok

Iklan Bazar