Oase Iman

Beragama Bukan Karena Harta

Beragama Bukan Karena Harta

BAGI Muslim sejati, pilihan untuk memeluk agama Islam adalah murni karena Allah, tidak ada embel-embel apa pun selainnya. Hal ini, laksana Ahlul Kitab pada umumnya, mereka diperintah untuk menjadi abdi atau hamba Muslim yang beribadah dan beragama secara ikhlas karena-Nya (QS. Al-Bayyinah [98]: 5).

Pada praktiknya, entah itu di awal, pertengahan, atau akhir perjalanannya dalam memeluk agama Islam, ada yang tergiur juga dengan embel-embel lain seperti: harta. Motivasi dari awal beragama bukan lagi karena Allah, tapi harta. Atau pada awalnya ikhlas, namun di tengah perjalanannya tergiur dengan harta.

Agama yang sedemikian “seksi” dipolitisasi sedemikian rupa untuk mengeruk harta. Atas nama agama, perjuangan yang dilakukan sebenarnya untuk mendapat keuntungan tinggi yang bersifat duniawi: harta berlimpah atau pengaruh jabatan.

Masih ingat dengan Abdullah bin Ubay bin Salul? Figur utama gembong kemunafikan ini motivasi beragamanya bukan murni karena Allah. Dia terpaksa melakukannya karena urusan duniawi. Dia sudah kehilangan pengaruh sebagai pemimpin pasca kedatangan Rasulullah di Madinah.

Tampuk kekuasaan yang sebelumnya digadang-gadang menjadi miliknya, seketika hancur lebur. Tentu ini berefek juga pada aspek finansial yang selama ini bisa didapat dari pengaruhnya di Madinah yang seolah terenggut.

Meski begitu, tidak ada pilihan lain baginya. Islam semakin bertambah kuat. Akhirnya dia terpaksa memeluk Islam. Namun, keislamannya justru menjadi benalu bagi umat Islam. Ia ibarat musuh dalam selimut. Secara lahir akan membela Islam jika menguntungkan dirinya, kalau tidak maka akan mencari beribu-ribu alasan untuk menghindarinya. Bahkan, tak jarang –secara diam-diam– ia menjelek-jelekkan Islam baik pada internal maupun eksternal.

Ada juga yang tergiur harta ketika sudah di pertengahan jalan atau akhir. Masih ingat dengan petaka yang menimpa pasukan Islam di Perang Uhud? Atau yang terjadi pada Perang Hunain? Salah satu alasan yang menyebabkan kalah mereka adalah –selain tidak taat pada perintah Rasul- juga karena tergiur dengan harta ghanimah (rampasan perang). Sementara dalam Perang Hunain, sempat kalah karena berbangga dengan jumlah banyak dan merasa bisa menang, padahal kemenangan itu datangnya dari Allah Subhanahu wata’ala.

Bagi kita yang sudah beragama Islam, seyogianya senantiasa mengevaluasi diri mengenai keberislaman kita. Sudah benarkah selama ini dalam berislam? Benar-benar murni karena Allah atau harta? Betul-betul untuk penegakan agama atau justru karena embel-embel dunia? Semua itu bisa terjadi dari awal, pertengahan bahkan akhir. Karenanya, perlu diadakan evaluasi sejak dini.

Dalam sejarah, para pembaca yang budiman bisa mengambil keteladanan dari Amru bin Asha. Suatu hari, Sahabat yang dikenal dengan kecerdikannya dalam berdiplomasi ini bercerita. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengirim utusan kepadanya dengan membawa pesan untuk bersiap memakai baju dan senjata kemudian langsung pergi bertemu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Ketika Amru sudah sampai di hadapan Nabi, beliau memandangnya dari atas dan sempat merapikannya. Dalam kondisi demikian, beliau bersabda, “Aku ingin mengutusmu menahkodai suatu ekspedisi. Semoga Allah menyelamatkan dan memberi ghanimah kepadamu. Aku juga berharap kamu mendapat harta (dalam misi itu).”

Mendapat tawaran itu, Amru sama sekali tidak menolak terkait intruksi untuk memimpin suatu ekspedisi. Hanya saja, ada catatan menarik yang disampaikan terkait statement akhir dari sabda Nabi mengenai harta.

“Wahai Rasulullah,” komentarnya, “aku berislam bukan karena harta. Aku masuk agama Islam karena memang cinta padanya. Selain itu, agar aku bisa bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.”

Mendengar komentar Amru bin ‘Ash, Nabi menanggapinya dengan kalimat yang manis, “Wahai Amru!” panggil beliau, “sebaik-baik harta yang baik, adalah untuk orang yang shaleh.” (HR. Hakim dan Ahmad)

Entah bagaimana reaksi Amru ketika itu. Yang jelas, kalimat Nabi itu benar-benar disampaikan secara jujur. Siapa saja yang mendengarnya mungkin akan bangga bahkan tersipu malu. Amru memang pantas mendapatkannya lantaran keshalehan dan kapasitasnya dalam mengelola harta.

Terlepas dari bagaimana reaksi Amru mendengar sabda pamungkas Nabi kepada dirinya, yang penting untuk dijadikan pelajaran adalah sikapnya yang teguh berupa komitmen beragama bukan karena harta. Lalu, bagaimana dengan kita?* Mahmud Budi Setiawan

Rep: Admin Hidcom

Editor: Muhammad Abdus Syakur

Update aplikasi Hidcom untuk Android Sekarang juga !

Sebarkan :

Baca Juga

Hidayatullah Depok

Iklan Bazar