Oase Iman
Dompet Dakwah Media

Keserakahan dan Pemufakatan Jahat

Keserakahan dan Pemufakatan Jahat
Ilustrasi.

oleh : Muhammad Syafii Kudo*

Hidayatullah.com | Dunia ini boleh dikata diciptakan oleh Allah Subhanahu Wata’ala untuk memenuhi kebutuhan hidup para makhluk-Nya, terutama manusia yang diposisikan sebagai ciptaan terbaik. Di dalam Al Qur’an disebutkan,

أَلَمْ تَرَوْا أَنَّ اللَّهَ سَخَّرَ لَكُم مَّا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً وَمِنَ النَّاسِ مَن يُجَادِلُ فِي اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَلَا هُدًى وَلَا كِتَابٍ مُّنِيرٍ

“Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin.” (QS Luqman [31]:20)

Dengan segala bantuan kemudahan itu, maka kewajiban untuk selalu bersyukur adalah konsekuensi logis yang mesti dilakukan oleh para makhluk Allah, terutama manusia sebagai makhluk yang diamanahi akal. Bentuk kesyukuran itu adalah dengan melakukan ketaatan kepada Allah Subhanahu Wata’ala dan memungut jatah rezekinya di dunia secara proporsional sesuai hak dan kebutuhan tanpa menyerobot hak dan jatah manusia serta makhluk hidup yang lain.

Hal ini seperti yang difirmankan oleh Allah Subhanahu Wata’ala,

كُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

“…makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al A’raf: 31).

Makan dan minum adalah kebutuhan dasar bagi manusia. Dan Allah Subhanahu Wata’ala sebagai pencipta manusia sudah menjamin rezeki bagi setiap makhluk-Nya. Di dalam Al-Qur’an disebutkan, “Tidak ada suatu binatang pun (termasuk manusia) yang bergerak di atas bumi ini yang tidak dijamin oleh Allah rezekinya.”(QS. Hud: 6).

Ayat tersebut menjelaskan bahwa Allah Subhanahu Wata’ala menjamin akan senantiasa memberikan makanan dan minuman untuk seluruh makhluk hidup di dunia ini. Dan ini adalah rezeki dasar dan terendah dalam klasifikasi tingkat rejeki yang diberikan Allah bagi setiap makhluk-Nya.

Dunia ini ibarat lumbung pangan, tempat Allah menaruh rejeki bagi para makhluk-Nya yang mana lumbung tersebut tidak akan pernah kehabisan stok dalam menyuplai kebutuhan makhluk-Nya. Namun terkadang timbul pertanyaan, kenapa sekarang banyak kita dapati seolah-olah dunia ini sudah tak mampu lagi menyediakan bahan-bahan kebutuhan hidup bagi manusia?

Jawabannya adalah karena semakin hilangnya sifat Qona’ah dan kebersyukuran pada hal-hal yang kecil. Bagaimana bisa mensyukuri hal yang besar jikalau yang kecil saja kita sulit mensyukurinya. Siapa yang tidak bisa mensyukuri yang sedikit maka ia tidak akan dapat mensyukuri yang banyak, kata Rasulullah ﷺ.

Manusia akhir zaman juga keliru dalam mendefinisikan makna rejeki. Mereka yang sudah terdidik sistem kapitalisme hanya memandang rezeki dalam perspektif Barat yang mana semua hal dinilai dengan tolak ukur uang semata. Hingga wajar jika mereka memiliki semboyan terkenal yang berbunyi, “Time Is Money”.

Alasan berikutnya mengenai makin sempitnya kehidupan di dunia adalah makin dituhankannya kerakusan serta syahwat yang kian dituruti. Dunia yang sudah ditalak tiga oleh Sayyidina Ali Bin Abi Thalib Kwh tersebut kini menjadi orientasi utama manusia akhir zaman sehingga persaingan dalam mendapatkannya adalah harga mati.

Keserakahan dalam menjarah kekayaan dunia zaman ini makin menggila. Hal ini diperparah dengan makin kuatnya cengkeraman sistem Kapitalisme dalam menghegemoni dunia. Seperti kata Mahatma Gandhi, “Bumi ini cukup untuk memenuhi kebutuhan kita semua, namun tidak cukup untuk memenuhi keinginan segelintir kecil manusia yang serakah.”

Keserakahan sendiri sangat dikecam di dalam Islam, dari Ibnu ‘Abbas Ra, Beliau mendengar Rasulullah ﷺ bersabda,
لَوْ كَانَ لاِبْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ مَالٍ لاَبْتَغَى ثَالِثًا ، وَلاَ يَمْلأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلاَّ التُّرَابُ ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ
“Seandainya manusia diberi dua lembah berisi harta, tentu ia masih menginginkan lembah yang ketiga. Yang bisa memenuhi perut manusia hanyalah tanah. Allah tentu akan menerima taubat bagi siapa saja yang ingin bertaubat.” (HR. Bukhari no. 6436).

Dalam hadits tersebut dijelaskan bahwa keserakahan manusia tidak akan pernah hilang kecuali setelah kematian menjemputnya.

Dalam bahasa Arab, serakah disebut dengan tamak yang artinya sikap tidak pernah merasa puas dengan yang sudah dicapai. Dan karena ketidakpuasannya itu, segala cara pun akhirnya ditempuh.

Serakah adalah salah satu dari penyakit hati. Pelakunya selalu menginginkan lebih banyak, tidak peduli apakah cara yang ditempuh itu dibenarkan oleh agama atau tidak.

Tidak berpikir pula apakah harus mengorbankan kehormatan orang lain atau tidak. Yang penting, apa yang menjadi kebutuhan nafsu syahwatnya bisa terpenuhi. Bila tak lekas dibersihkan, penyakit hati ini bisa menimbulkan malapetaka.

Orang yang serakah, mata hati dan pendengarannya akan menjadi tuli. Ini sesuai dengan sabda Nabi Muhammad ﷺ, ”Cintamu terhadap sesuatu membuat buta dan tuli.” (HR Ahmad).

Serakah juga menjadi pintu masuk bagi setan. Bila setan sudah masuk ke dalam hati orang yang serakah, ia akan menghiasinya dengan sifat-sifat tercela lainnya. Selanjutnya orang yang serakah itu selalu menganggap baik perbuatannya, meskipun kebanyakan orang melihatnya sebagai suatu keburukan.

Uniknya sifat serakah tidak hanya sebatas tertuju kepada harta benda semata-mata. Ada pula orang yang serakah kepada wanita ataupun jabatan. Orang yang serakah kepada wanita, akan menjadikan wanita itu sebagai pemuas nafsunya belaka. Orang yang serakah kepada jabatan, akan berusaha mendapatkan apa yang menjadi incarannya dengan segala cara. Tak pernah berpikir apakah cara yang ditempuhnya baik ataukah buruk.

Keserakahan inilah yang kini menjadi malapetaka besar bagi umat manusia. Dunia yang idealnya bisa dibagi secara adil bagi semua makhluk Allah Subhanahu Wata’ala kini seakan hanya dimiliki oleh segelintir manusia saja akibat hegemoni monopoli para pengusung keserakahan.

Eropa dan Kolonisasi

Kolonialisasi bangsa-bangsa Asia dan Afrika serta benua Amerika oleh para Kolonialis Eropa adalah akibat dari keserakahan ini. Menurut Gustav Klemm, asalnya kolonisasi adalah masalah rejeki. Dan kolonisasi tentu berawal dari proses kolonialisasi alias penjajahan.

“Yang pertama-tama menyebabkan kolonisasi ialah hampir selamanya kekurangan bekal hidup dalam tanah airnya sendiri,” begitulah Dietrich Schafer berkata.

Kekurangan rezeki, itulah yang menjadikan sebab rakyat-rakyat Eropa mencari rezeki di negeri lain. Itulah pula yang menjadi sebab rakyat-rakyat Eropa itu menjajah negeri-negeri di mana mereka bisa mendapat rezeki itu.

Itulah pula yang membikin “Ontvoogding”-nya negeri-negeri jajahan oleh negeri-negeri yang menjajah itu, sebagai suatu barang yang sukar dipercayainya. Orang tak akan gampang-gampang melepaskan bakul-nasinya, jika pelepasan bakul itu mendatangkan matinya!

Begitulah, bertahun-tahun, berwindu-windu, rakyat-rakyat Eropa itu mempertaruhkan negeri-negeri Asia. Berwindu-windu rezeki-rezeki Asia masuk ke negaranya. Teristimewa Eropa Barat lah yang bukan main makin tambah kekayaannya. Begitulah tragiknya riwayat-riwayat negeri-negeri jajahan. (Soekarno; dalam buku Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme hal. 3-5).

Di dalam sejarah disebutkan bahwa ada dua bangsa pelopor penjajahan yakni kerajaan Portugis dan Spanyol. Dua bangsa tamak tersebut pernah mengadakan sebuah perjanjian yang bernama Perjanjian Tordesilllas (Bahasa Portugis: Tratado de Tordesilhas, Bahasa Spanyol: Tratado de Tordesillas) yakni suatu perjanjian yang ditandatangani di Tordesillas (sekarang di provinsi Valladolid, Spanyol) pada 7 Juni 1494 yang membagi dunia di luar Eropa menjadi duopoli eksklusif antara Spanyol dan Portugal sepanjang suatu meridian 1550 km sebelah barat kepulauan Tanjung Verde (lepas pantai barat Afrika), sekitar 39°53’BB.

Wilayah sebelah timur dimiliki oleh Portugis dan sebelah barat oleh Spanyol. Perjanjian ini diratifikasi oleh Spanyol pada 2 Juli dan Portugis pada 5 September 1494. Perjanjian Saragosa atau Zaragoza, yang ditandatangani pada 22 April 1529, secara lebih tepat menentukan spesifikasi anti-meridiannya sekitar 17° timur Maluku (145° BT).

Paus Aleksander VI memegang peranan penting dalam Perjanjian Tordesillas. Pemimpin besar Vatikan inilah yang menentukan batas wilayah untuk Spanyol dan Portugis karena kedua kerajaan itu merupakan negara penganut Katolik yang taat.

Menurut Encyclopedia of World Trade (2015), Paus menentukan garis demarkasi (pemisah) sekitar 300 di sekitar Kepulauan Tanjung Verde, di Samudra Atlantik Utara, tepatnya pesisir barat Afrika. Spanyol memperoleh hak kepemilikan atas wilayah di sebelah barat garis, sementara Portugis di sebelah timurnya.

Perjanjian Tordesillas ternyata belum cukup memuaskan hasrat serakah kerajaan Portugis tersebut lantaran terjadinya beberapa sebab yang luput dari kesepakatan. Salah satunya adalah kehadiran Spanyol di Kepulauan Maluku yang sejatinya merupakan jajahan Portugis.

Maluku, kepulauan di Nusantara bagian timur yang terkenal dengan sumber daya rempah-rempah yang sangat laku di Eropa, memang telah diklaim oleh Portugis yang tiba pada awal November 1512, kemudian disusul kedatangan armada laut Spanyol yang berlabuh beberapa hari berselang.

Kehadiran Spanyol di Kepulauan Maluku membuat Portugis berang. Dua bangsa Katholik itu akhirnya terlibat perseteruan yang lama di Kepulauan Maluku. Hingga akhirnya, kedua belah pihak menyepakati untuk berunding pada 22 April 1529 yang menghasilkan kesepakatan bernama Perjanjian Zaragoza, masing-masing diwakili oleh rajanya. Spanyol diwakili oleh Charles V, sedangkan Portugis oleh John III. (H. Delpar, The Discoverers: an Encyclopedia of Explorers and Exploration, 1980: 329).

Secara garis besar, isi Perjanjian Zaragoza itu tetap membagi wilayah dunia di luar Eropa hanya untuk Spanyol dan Portugis saja. Dari Meksiko ke arah barat hingga Kepulauan Filipina menjadi milik Spanyol. Sementara Portugis mendapatkan wilayah dari Brasil ke timur sampai Kepulauan Maluku.

Sebagai implementasi dari Perjanjian Zaragoza tersebut, maka Spanyol segera meninggalkan Kepulauan Maluku dan kembali fokus di Filipina. Sedangkan Portugis diperkenankan tetap melakukan aktivitasnya di Kepulauan Maluku, termasuk memonopoli perdagangan rempah-rempah. (Joko Darmawan, Sejarah Nasional: Ketika Nusantara Berbicara, 2017:17).

Kehancuran negara-negara kecil dan berkembang hari ini pun adalah buah dari keserakahan sekelompok pihak yang ingin menguasai dunia untuk kelompoknya sendiri. Lihat bagaimana dunia bisnis, perbankan, media, dominasi sistem politik dan ekonomi, semua dikendalikan oleh segelintir elite Yahudi dunia. Sebut saja nama Rothschild, Rockefeller, Bilderberg Group, Illuminati, Freemason dll. Mereka semua adalah kelompok elite berjumlah sedikit namun bisa mengatur dan mengendalikan dunia.

Di dalam Al-Qur’an, keserakahan kaum Yahudi zaman Nabi Muhammad ﷺ juga diabadikan dalam Surah Al Baqarah, “Dan sungguh engkau Muhammad akan mendapati mereka yang sangat rakus terhadap kehidupan dunia, bahkan lebih tamak dari orang musyrik. Mereka pun berangan‑angan agar bisa hidup seribu tahun. Padahal umur panjang itu tak akan menjauhkan mereka dari azab Allah. Allah maha melihat apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al Baqarah : 96).

Beberapa ulama tafsir menyebutkan bahwa yang dimaksudkan dalam ayat ini adalah kaum Yahudi pada zaman Nabi Muhammad ﷺ. Mereka tidak hanya pelit, melainkan juga rakus dan paling cinta kehidupan dunia dan takut akan kematian. Bahkan jika terdapat sistim riba yang menjerat pihak peminjam itu selalu dinisbatkan pada kaum Yahudi.
Walhasil dari berbagai riwayat keserakahan sekelompok manusia yang tercatat dalam catatan sejarah lintas zaman itu kita dapat menarik sebuah benang merah bahwa keserakahan terjadi akibat cinta berlebihan kepada dunia. Padahal cinta dunia adalah sumber segala kerusakan.

Imam Al Baihaqi dalam kitab Syu’ab Al Iman meriwayatkan hadis yang berbunyi, “Hubbuddunya ra’su kulli khathi’ah”, yang bermakna cinta dunia adalah biang dari semua kesalahan.

Karena cinta dunia lah akhirnya manusia terjerembab dalam sifat rakus (serakah) dan demi memenuhi hasrat keserakahannya itu manusia bisa membuat berbagai pemufakatan jahat di mana di dalam pemufakatan jahat itu kelompok mereka bisa memetik keuntungan di atas penderitaan jutaan manusia lain.

Lihat bagaimana perjanjian Tordesillas, Perjanjian Zaragosa, Perjanjian Sykes- Picot dsj yang hanya menguntungkan pihak yang serakah pada dunia dan merugikan jutaan manusia lainnya. Itu semua adalah pemufakatan jahat yang timbul dari sifat serakah.

Kisah tentang pemufakatan jahat pernah disinggung di dalam Al-Qur’an surah An Nisa ayat 81,
وَيَقُولُونَ طَاعَةٌ فَإِذَا بَرَزُوا۟ مِنْ عِندِكَ بَيَّتَ طَآئِفَةٌ مِّنْهُمْ غَيْرَ ٱلَّذِى تَقُولُ ۖ وَٱللَّهُ يَكْتُبُ مَا يُبَيِّتُونَ ۖ فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ وَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ ۚ وَكَفَىٰ بِٱللَّهِ وَكِيلًا
“Dan mereka (orang-orang munafik) mengatakan: “(Kewajiban kami hanyalah) taat”. Tetapi apabila mereka telah pergi dari sisimu, sebahagian dari mereka mengatur siasat di malam hari (mengambil keputusan) lain dari yang telah mereka katakan tadi. Allah menulis siasat yang mereka atur di malam hari itu, maka berpalinglah kamu dari mereka dan tawakallah kepada Allah. Cukuplah Allah menjadi Pelindung.” (QS. An Nisa : 81).

Ibnu Katsir dalam menafsirkan ayat {بَيَّتَ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ غَيْرَ الَّذِي تَقُولُ} menjelaskan bahwa sebagian dari mereka (munafikin) mengatur siasat di malam hari (mengambil keputusan) lain alias berbeda dari yang telah mereka katakan tadi (pagi) kepada Nabi Muhammad ﷺ.

Betapa jahatnya kaum munafik tersebut yang berani merubah keputusan mereka di malam hari yang berbeda dengan pernyataan mereka kepada Nabi Muhammad ﷺ. Ini menjadi bisa menjadi pelajaran bagi kita agar tidak melakukan tindakan durjana tersebut.

Kisah ini juga bisa menjadi pelajaran bagi para penguasa, para wakil rakyat yang sedang diberi amanah di negeri ini. Sebab ada riwayat dari Abu Hurairah Ra. bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ حَمَلَ عَلَيْنَا السِّلاَحَ فَلَيْسَ مِنَّا، وَمَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا
“Barangsiapa membawa pedang untuk menyerang kami, maka dia bukan dari golongan kami. Dan barangsiapa menipu kami, maka dia bukan golongan kami.” (HR. Muslim).

Menipu di sini bisa sangat luas maknanya, termasuk bertolak belakangnya kebijakan wakil rakyat dengan aspirasi rakyat yang telah memberi amanah suara padanya. Dengan menipu rakyat Indonesia yang mayoritas Muslim itu maka otomatis dianggap bukan lagi menjadi bagian dari golongan Rasulullah ﷺ. Dan adakah predikat paling hina di dunia ini dibandingkan dengan tidak diakuinya kita sebagai bagian dari umat Rasulullah ﷺ ? Wallahu A’lam Bis Showab.*

Murid Kulliyah Dirosah Islamiyah Pandaan Pasuruan; Rakyat Kecil

Rep: Admin Hidcom

Editor:

Dukung Kami, Agar kami dapat terus mengabarkan kebaikan Lebih lanjut, Klik Dompet Dakwah Media Sekarang!

Update aplikasi Hidcom untuk Android Sekarang juga !

Sebarkan :

Baca Juga

Rumah Wakaf

Rumah Wakaf