Sejarah

Khalifah Harun Al-Rasyid dan ‘Anjing Romawi’

Khalifah Harun Al-Rasyid dan ‘Anjing Romawi’
ilustrasi Dinasti Abbasiyah (Yahyâ ibn Mahmûd al-Wâsitî)

Oleh: Nugra Fatah

PADA abad ke-9, masa keemasan dari kekhalifahan Abbasiyah. Khalifah Harun Al-Rasyid  yang dikenal shaleh dan dermawan ini tidak ingin ketinggalan berlomba-lomba mencari syahid.

Harun al-Rasyid lahir pada 17 Maret 763 di Teheran, Iran. Ia menjadi penguasa (khalifah) pada tahun 170 H (786 M) di usia 23 tahun. Harun Al-Rasyid adalah kalifah kelima dari kekalifahan Abbasiyah dan memerintah antara tahun170-186 H /786-803 M. Ayahnya bernama Muhammad Al-Mahdi, khalifah yang ketiga dan kakaknya, Musa Al-Hadi adalah kalifah yang ketiga.Ibunya Jurasyiyah dijuluki Khayzuran berasal dari Yaman.

Meski berasal dari dinasti Abbasiyah, Harun Al-Rasyid dikenal dekat dengan keluarga Barmaki dari Persia (Iran).

Ia  membawa lebih seratus ribu pasukan mujahidin  menuju Konstantinopel karena pelanggaran yang dilakukan raja Bizantium atas perjanjian perdamaian.

Saat itu Bizantium dipimpin oleh Kaisar wanita yang bernama Ratu Irene. Setelah dikepung oleh Harun, sang ratu mengirim utusan mengharapkan belas kasihan dan perdamaian.

Sang panglima, Harun al Rasyid menerima tawaran perdamaian dari Irene dengan syarat Bizantium membayar upeti secara rutin setiap tahunnya.

Pengepungan Konstantinopel terjadi saat musim dingin, dan utusan Irene datang menghadap sang panglima.

“Ratu banyak mendengar tentang kehebatan anda sebagai seorang Jendral. Sekalipun engkau musuhnya, ia memujimu sebagai seorang ksatria.”

Harun tergugah dengan bahasa sang ratu, “Katakan pada ratumu bahwa aku akan melepaskan Konstantinopel dengan syarat ia mengirimkan upeti tahunan sebesar 70.000 koin emas kepadaku. Jika ia menepatinya, aku akan menjamin Konstantinopel tidak akan diganggu oleh serangan muslimin lainnya.”

Akhirnya Konstantinopel tidak ditaklukkan pada tahun 798 M, kemilau koin-koin emas berhasil mengusur mujahid ini menjadi sebaik-baik manusia sebagaimana yang diisyaratkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam.

Baghdad dan dunia Islam menjadi maju dan megah dengan kekayaan dunia yang menyilaukan mata. Upeti dari Bizantium otomatis mewajibkan Harun untuk melindungi Bizantium dari serangan musuh-musuhnya.

Bersamaan  dengan pengepungan yang dilakukan Harun, daerah-daerah  seperti atarah, Ancyra, Cyprus dan Kreta kembali ke pangkuan Muslimin.

Ketika Irene wafat, ia digantikan oleh Nicephorus yang naik menjadi Kaisar Bizantium. Nicephorus berhasil naik tahta karena berkonspirasi dengan para uskup untuk menjatuhkan Irene. Nicephorus menolak membayar upeti dan menantang khalifah dengan mengirim sebuah  surat;

****

Dari Nicephorus, Kaisar Romawi

Kepada Harun Raja Arab,

Sesungguhnya kaisar putri yang berkuasa sebelum aku telah mendudukkan kamu pada posisi burung garuda raksasa, sedangkan dia sendiri menempatkan dirinya sebagai burung elang, sehingga membuatnya membawa harta-hartanya kepadamu.

Ini karena lemahnya seorang wanita dan kebodohannya. Jika kamu selesai membaca surat ini, maka kembalikan semua harta yang telah dia serahkan kepadamu sebelum ini.

Jika tidak, maka pedanglah yang akan bermain untuk menyelesaikan permasalahan antara aku dan kamu!

Selesai mendengar pembacaan surat ini, khalifah menjadi sangat marah.

Orang-orang yang ada di sekitarnya segera mundur dan keluar dari ruangan karena khawatir terkena imbas kemarahan sang khalifah. Ia pun segera menulis surat balasan. Lalu datanglah surat dari khalifah Harun Al-Rasyid, Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Dari Harun ar-Rasyid, Amirul Mukminin, kepada Nakfur, Anjing Romawi.

Aku sudah membaca suratmu, jawabannya akan kamu lihat, bukan kamu dengar. (Dalam Imam as-Suyuthi, Tarikh Khulafa hal.349)

Pada hari itu juga khalifah menggerakkan seluruh mujahidin melakukan long-march ke pusat Bizantium, Konstantinopel.

Nicephorus kalah telak, ia mengajukan perdamaian dengan membayar upeti dan membebaskan tawanan Muslim. Harun menerima tawaran Nicephorus. Pasukan Muslimin pun kembali ke Baghdad, belum lagi sampai ke tujuan, Harun jatuh sakit dalam perjalanan.

Mendengar berita sakitnya Harun, Kaisar Kristen ini lagi-lagi mengingkari janjinya. Ia berpikir kaum muslimin tidak akan kembali karena masuk di Musim dingin, tapi dugaannya salah.

Harun tidak mengetahui berita pembangkangan Nicephorus ketika sakit. Setelah sembuh barulah ia mendengar dari syair-syair para penyair, seketika itu ia marah dan memerintahkan untuk kembali menuju Konstantinopel. Ia berkata, “Aku tidak akan meminta jizyah, sampai aku dapat menaklukkan negeriini!”

Maka kembalilah lagi Harun  menaklukkan Bizantium. Tahun 181 H (797 M) khalifah mengambil alih Benteng Willow di Cilicia, sembilan tahun berikutnya ia menaklukkan Heraclia, setelah beberapa kali Nicephorus melanggar perjanjian.

Sang Petarung, Ibnu alJazari

Penaklukkan kembali yang dilakukan Harun ini mendapat perlawanan keras dari Bizantium. Benteng pertama yang diserbu Muslimin adalah Benteng Harqalah.

Abu  Ishaq alFazari, penasihat Harun, berkata, “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Harqalah ini adalah salah satu benteng terbesar dan terkuat dari benteng-benteng yang dimiliki musuh, dan kita tidak akan mampu menaklukkkannya kecuali setelah usaha yang sangat keras. Jikalau Anda berusaha untuk menaklukkannya, maka pasukan kaum Muslimin tidak mencukupi. Akan tetapi jika Anda tidak berusaha menaklukkan Harqalah, maka hal ini merupakan kehinaan atas agama kita, mengurangi kekuasaan Anda dan menjadi aib bagi seluruh Muslimin.” [Hilmi bin Muhammad, The True Story of Islam’s Heroes, hal. 168]

Khalifah Harun lantas mempersiapkan banyak manjanik dan puluhan ribu kavaleri kuda sehingga penyerangan Benteng Harqalah pun berhasil.

Sasaran berikutnya adalah Benteng Anwah. Benteng ini pun tak kalah kuatnya dengan benteng sebelumnya. Pengepungan Muslimin sangat ketat, saling serang antar Muslimin di luar benteng dan musuh di dalam benteng berjalan dengan keras. Menjelang siang, kontak senjata mereda, sementara Harun pun beristirahat. Saat ia tertidur, seorang pintu benteng Bizantium terbuka, dan keluarlah seorang jagoan musuh dengan kuda, pakaian dan senjata tempur lengkap, ia berteriak lantang di hadapan barisan Muslimin;

“Wahai orang-orang Arab, keluarkanlah dua puluh jagoan kalian yang ahli mengendarai kuda untuk menghadapi aku!”

Saat itu Harun sedang tertidur sehingga tidak ada yang bisa mengambil keputusan, dan tidak ada pula yang berani membangunkan sang panglima.

Sementara sang jagoan Bizantium terus menteror Muslimin dengan tantangannya, akibatnya pasukan Muslimin tertekan dan pasukan Kristen  menjadi bersemangat serta kembali menguat morilnya. Setelah jagoan Bizantium kembali masuk ke dalam benteng, tak lama bangunlah Harun.

Mendengar kejadian yang menimpa pasukan Muslimin, ia menjadi sangat menyesal.

“Mengapa kalian tidak membangunkan aku? Dan mengapa salah seorang dari kalian tidak maju untuk menghadapinya?!” kata Harun dengan geram, sampai-sampai ia tidak dapat tertidur pada malam harinya.

Esok paginya, jagoan Bizantium kembali keluar seorang diri dan menantang seperti sebelumnya. Harun segera merespon, “Keluarkanlah dua puluh orang  pasukan berkuda untuk menghadapi orang itu!”

Salah seorang komandan Muslimin, Ibnu Mukhallad berkata,  “Demi Allah, wahai Amirul Mukminin, cukup satu orang saja yang menghadapinya. Jika ia mampu mengalahkan orang Romawi itu, maka

Alhamdulillah. Akan tetapi jika ia terbunuh, maka dia terbunuh sebagai syahid.

Dengan begitu orang Romawi yang lain tidak akan mendengar bahwa seorang pasukan Romawi harus dihadapi oleh dua puluh orang pasukan Islam.”

“Benarlah apa yang kau katakan!”

Maka diutuslah seorang jagoan Muslimin yang dikenal berani dan kuat, Ibnu alJazari.

“Aku yang akan keluar menghadapi orang itu dan aku memohon kepada Allah semoga Dia menurunkan pertolongan-Nya kepadaku.”

Bergeraklah Ibnu alJazari dengan  dikawal 20 pasukan berkuda, ketika mendekati  musuh, jagoan Bizantium memprotes, “Wahai orang Islam, kalian berbuat curang. Aku meminta kalian untuk mengeluarkan 20 jagoan kalian, akan tetapi yang datang menghadapiku berjumlah 21 orang.”

“Yang akan menghadapimu hanya satu orang. Kami hanya mengangtar orang ini dan kami akan segera kembali,” jawab salah seorang pasukan Muslimin.

“Aku telah berdoa kepada Tuhan, semoga aku berhadapan dengan Ibnu alJazari.”

“Benar, aku Ibnu alJazari!”

“Wahai teman, aku merasa cukup puas berhadapan denganmu.”

Setelah para pengantar kembali,  mulailah duel antar dua jawara ini  terjadi. Duel terjadi sangat keras menimbulkan harap-harap cemas antara kedua belah pihak yang menyaksikan dengan  tegang. Akhirnya Ibnu alJazari menguasai keadaan, selanjutnya dua jagoan kavaleri ini melakukan serangan terakhir. Ibnu alJazari berhasil menumbangkan musuhnya dari kuda dengan kepala terputus.

Menyaksikan kemenangan itu, pasukan Muslimin bertakbir keras seolah-olah menggetarkan bumi. Sementara pasukan musyrikin menjadi ciut dan runtuhlah moralnya. Setelah pertempuran terbuka terjadi, Benteng Anwah pun jatuh ke tangan Muslimin. Setelah pertempuran usai, Ibnu alJazari dihadiahkan ghanimah yang begitu banyak, namun ia menolaknya, karena berjuang ikhlas mencari ridla Allah semata.

Hakikatnya negeri Bizantium ini telah bertekuk lutut di hadapan khalifah, namun entah mengapa sang khalifah seperti tidak berminat untuk mengambil alih Konstantinopel. Sudah ketetapan dari Allah bahwa negeri ini akan benar-benar masuk ke pangkuan muslimin kelak dalam sebuah proses perjuangan yang luar biasa dahsyat, di tangan seorang pemuda dari kekhalifahan Utsmani.

Kemegahan dan kegemilangan yang terjadi pada dunia Islam saat itu mungkin menjadi salah satu sebab sehingga khalifah tidak terlalu berminat untuk menggerus Bizantium. Sejarawan berpendapat bahwa pada masa kekhalifahan Harun Al-Rasyid adalah masa keemasan peradaban Muslimin.

Kondisi yang bertolak belakang dengan Eropa yang saat itu dipimpin Charlemagne.

Seorang sejarawan barat Philip K. Hitti mengatakan, “Begitu jauhnya jarak peradaban antara Muslimin dan Eropa saat itu, sehingga ketika Khalifah Harun mengirimkan hadiah jam kepada Kaisar Charlemagne, orang-orang Eropa ketakutan karena mengira jam itu digerakkan oleh jin-jin.”

Pada tahun 831 M, Sisilia, daerah Italia Selatan jatuh ke pangkuan Muslimin. Selama dua abad daerah ini hidup dalam kedamaian Islam.

Dengungan Azan pun bergema hanya beberapa ratus kilometer dari Vatikan, pusat Kristen Katolik saat itu. Namun ruh jihad kurang bergema untuk terus menebarkan Islam ke negeri-negeri Kristen, termasuk Konstantinopel.

Penyakit Wahn, lagi-lagi melanda umat Islam, sehingga pada abad ke-11, negeri ini dicaplok kembali oleh Pasukan Salib.

Sultan Alp Arsalan, berhasil menghancurkan kedigdayaan Bizantium pada Perang Manzikart di tahun 1071 M. Saat itu Bizantium berada dalam  kondisi krisis besar yang begitu mudah untuk dihancurkan. Namun sayangnya Sultan Saljuk ini tidak berupaya untuk membebaskan Konstantinopel dari berhala-berhala kemusyrikan.*

Penulis buku Panglima Surga, twitter @nugrazee

Rep: Admin Hidcom

Editor: Cholis Akbar

Update aplikasi Hidcom untuk Android Sekarang juga !

Sebarkan :

Baca Juga

Umroh Keluarga

Iklan Bazar