Sejarah

Cinta di Mata Syafruddin Prawiranegara

Cinta di Mata Syafruddin Prawiranegara
Syafruddin Prawiranegara

“MANUSIA itu tidak dapat hidup tanpa dicintai dan mencintai.” Begitu tutur H. Syafruddin Prawiranegara dalam buku berjudul “Cinta dan Keadilan” (1976: 5-8) yang diterbitkan oleh Penerbit Fajar Shadiq Kramat Sentiong Jakarta.

Buku saku keci ini merupakan khutbah Idul Fitri yang disampaikan beliau di Proyek Senen pada 1 Syawal 1396 H (25 September 1976). Dalam khutbah tersebut, beliau menyinggung tema cinta dengan sangat menarik.

Semua orang –asal– masih normal, sebagaimana kata beliau butuh dicintai dan mencintai. Cinta tak terbatas hanya pada cinta antara laki-laki dan perempuan. Ada juga cinta misalnya kepada orangtua, guru, dan lain sebagainya.

Cinta ini memberi manfaat yang begitu penting bagi hidup manusia. Dengannya, manusia bisa memiliki tujuan hidup. Hidup tanpa cinta, kata beliau tampaknya akan kosong melompong dan merasa terasing. Sehingga, bisa saja dengan kondisi itu, dia bersedih dan menghabisi diri dengan bunuh diri.

Oleh karenanya, biar cinta tidak sampai memberi dampak negatif seperti tadi, maka perlu ditanamkan kesadaran internal bahwa di atas cinta pada sesama manusia ada cinta Allah yang lebih tinggi.

Mengapa manusia perlu mencintai Allah di atas yang lainnya? Karena Allah sebagai sebab dan sumber hidup yang abadi, dan dari sanalah sumber mencintai manusia agar hidup tak sia-sia bak daun mati yang ditiup angin dan kemudian gugur diterpa angin entah ke mana.

Berdasarkan surah Ali Imran ayat 112, tokoh Muslim yang menjadi Menteri Keuangan ini bertadabbur; pertalian atau hubungan cinta antar sesama manusia (misalnya: istri, anak, dan lain-lain) tanpai didahului cinta kepada Allah, maka cinta itu bersumber pada egoisme dan hawa nafsu.

Cinta demikian membuat makna cinta menyempit. Cintanya hanya sebatas nafsu untuk memiliki dan menguasai yang dicintai. Cinta seperti itu tak akan abadi, bahkan bisa berakhir dengan malapetaka. Misalnya, perceraian suami-istri, bapak-anak, dan lain sebagainya.

Siapakah manusia yang mau menjadi hak milik, meski itu adalah bapak atau ibunya sendiri? Hanya cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, kata beliau, yang dapat menghindarkan diri dari cinta semacam itu.

Lebih menukik kesadaran batin pembaca, beliau melanjutkan, “Orang dan barang yang kita cintai adalah amanah dan fitnah.” Artinya, itu hanya titipan dan ujian dari Allah Subhanahu wata’ala. Oleh karena itu, Allah-lah yang mestinya lebih dicintai lebih dari apapun.

Berdasarkan surah At-Taubah ayat 24, beliau mengambil pelajaran berharga: hanya kalau kita benar-benar cinta kepada Allah Subhanahu wata’ala, Rasul-Nya, berpegang teguh dengan jalan usaha yang diridai Allah (jihad), maka cinta dunia beserta penghuninya tidak akan menimbulkan pertentangan, perpecahan, dan kekecewaan yang timbul dari cinta serakah yang bersumber dari egoisme.

Dengan demikian, cinta di mata Syafruddin adalah cinta yang hulu, hilir dan muaranya adalah Allah Subhanahu wata’ala. Cinta kepada sesama makhluk adalah fitrah, namun ketika itu mengabaikan cinta Allah, hanya sekadar menuruti nafsu, maka cinta demikian tidak akan bertahan lama dan tak akan melahirkan kebahagiaan.

Mari bersama mengeja cinta kita; apakah sudah menjadikan Allah dan Rasul-Nya sebagai yang utama?* Mahmud Budi Setiawan

Rep: Admin Hidcom

Editor:

Update aplikasi Hidcom untuk Android Sekarang juga !

Sebarkan :

Baca Juga

Umroh Keluarga

Iklan Bazar