Sejarah

Teladan M Natsir dalam Menyikapi Perbedaan

Teladan M Natsir dalam Menyikapi Perbedaan
Negarawan seperti Pak Natsir perlu dijadikan contoh.

“MEREKA bisa berbeda dalam prinsip berpolitik, tetapi perbedaan itu tidak berakibat pada hubungan mereka sebagai sesama teman,” demikian tutur Jakob Oetama dalam buku “Syukur Tiada Akhir: Jejak Langkah Jako Oetama” (2011: 556) saat menggambarkan sosok Natsir yang sangat lapang jiwanya dalam menyikapi perbedaan.

Dari sepak terjang Natsir selama hidup di Indonesia –yang kaya akan perbedaan dan keragaman– memang banyak sekali contoh yang menunjukkan bahwa beliau adalah sosok yang bijak dalam menyikapi perbedaan. Perbedaan itu bukan saja menyangkut persoalan khilafiyah, tapi juga sampai ideologi politik kenegaraan.

Pertama, politik boleh beda, tapi pertemanan tetap terjaga. Dalam buku “Politik Bermartabat: Biografi I.J. Kasimo” (2011: 177) dikisahkan bahwa saat di konstituante, Natsir dan Aidit –yang berseberangan secara ideologi—kerap kali bersitegang pendapat. Sebegitu alotnya sampai Natsir pun ingin melempar Aidit dengan kursi.

Menariknya, itu hanya dalam tataran diskusi. Toh, Natsir pada kenyataannya tak sampai hati memukul Aidit dengan kursi. Malah, seusai rapat, Aidit yang lebih muda membuatkan kopi untuk secangkir kopi dan akhirnya ngobrol dengan hangat seolah tidak ada perbedaan sama sekali.

Ketika Natsir tidak mendapat tumpangan, seringkali Aidit memboncengnya dengan sepeda dari Pejambon untuk berangkat sama-sama. Anda bisa bayangkan antara Partai Komunis dan Masyumi yang ideologinya antara langit dan bumi, ternyata ada titik di mana keduanya bisa menjaga sela-sela persatuan dan kesatuan.

Mungkin di mata Natsir, ideologi Aidit tidak benar. Namun, secara akhlak kemanusiaan, Aidit seperti halnya manusia pada umumnya harus diperlakukan secara manusiawi. Bukankah sifat rahman Allah meliputi segenap makhluknya. Sebagaimana cahaya mentari yang tidak pernah memilih membagi sinarnya kepada siapa saja.

Kedua, pemahaman mendalam mengenai ranah yang bisa kompromi dan yang tak bisa ditolerir. Hal ini memungkinkan beliau bergaul dengan lintas madzhab bahkan agama. Ketika Natsir mengajukan Mosi Integral dalam parlemen RIS (3 April 1950), beliau bisa akur dan saling mendukung misalnya dengan tokoh Katolik seperti I.J. Kasimo dan tokoh non-Muslim lainnya. Ini menunjukkan bahwa Natsir –dengan pemahamannya itu—mampu menempatkan diri dalam bergaul tanpa harus kehilangan ideologi prinsipilnya.

Dalam masalah khilafiyah pun –misalnya perbedaan pandangan mengenai masalah fikih cabang seperti qunut shubuh dll—Natsir tak pernah membesar-besarkannya. Yang dijaga justru persatuan umat. Menurut catatan Ridwan Saidi dalam buku “Zamrud Khatulistiwa” (1993: 70), Natsir menjauhkan diri dari pertengkaran yang disebabkan oleh masalah-masalah khilafiyah.

Ini sangat menarik karena seperti diketahui umum bahwa Natsir adalah murid A. Hassan yang amat vokal terhadap masalah khilafiyah. Bisa jadi, Natsir bersikap demikian karena pengaruh dari gurunya yang lain: H. Agus Salim. Kalau dilihat dari Dewan Dakwah Islamiyah yang beliau gagas, memang lembaga dakwah itu memayungi segenap lembaga dan ormas Islam karena yang dipentingkan adalah persatuan umat. Sikap demikian membuat Natsir arif dalam menyikapi perbedaan.

Ketiga, bukan pendendam. Setajam apapun perbedaan yang dihadapi Natsir, dan seberapa sakitpun perlakuan yang didapatkannya, beliau adalah pribadi yang tak pendendam. Dalam buku “Politik Bermartabat” (2011: 180) disebutkan bahwa saat Sarmidi Mangunsarkoso (1904-1959), tokoh PNI yang pernah menjatuhkan kabinet Natsir meninggal, tanpa canggung dan dendam beliau melayat jenazahnya bahkan tak kuasa menahan tetesan air mata. Dia merasa kehilangan atas kepergian rekan seperjuangan.

Kita tahu bagaimana perlakuan Soeharto yang begitu represif terhadap Buya Natsir. Meski begitu, Natsir tak menyimpan dendam. Malah, saat tahun 1971 Soeharto gagal memperoleh kredit, maka kemudian Natsir ke Jepang dan akhirnya Jepang mengucurkan pelbagai bantuan (Tempo, 2016: 101).

Begitulah teladan baik yang perlu ditiru dari sosok Natsir dalam menghadapi perbedaan. Jika hal itu bisa terwujud, maka akan terbangun iklim yang sejuk di negeri ini di tengah pemecah-belahan umat yang begitu dahsyat. Kita mungkin banyak perbedaan, namun persatuan dan kesatuan tetap harus dipertahankan.* Mahmud Budi Setiawan

Rep: Admin Hidcom

Editor: Muhammad Abdus Syakur

Update aplikasi Hidcom untuk Android Sekarang juga !

Sebarkan :

Baca Juga

Hidayatullah Depok

Iklan Bazar