Sejarah

Pemimpin Bukan Pendendam

Pemimpin Bukan Pendendam

DI bumi pertiwi, banyak lahir pemimpin-pemimpin teladan yang keteladannya masih sangat relevan untuk dicontoh. Salah satunya adalah tiadanya rasa dendam pada diri mereka kepada pihak-pihak yang berlawanan. Penulis akan mengambil contoh dari tokoh muslim seperti Kasman Singodimedjo, Buya Hamka, dan M. Natsir.

Kasman Singodimedjo

H. Gazali Syahlan dalam buku “Hidup itu Berjuang: Kasman Singodimedjo 75 Tahun” (1982: 301, 302) menceritakan dengan sangat baik bahwa sosok Kasman adalah bukan pemimpin pendendam. Kadang mungkin ada konflik sengit terjadi dengan orang yang berseberangan dengan beliau, namun kesemua masalah itu tak sampai membuat dendam.

Gazali sering sekali menyaksikan perdebatan-perdebatan sengit Kasman; misalnya dengan rekan-rekannya dalam Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Suatu hari pernah ada yang menolak kebijaksanaan pimpinan beliau mengancam akan meninggalkan sidang. Sambil memukul meja, beliau menimpali, “Silakan keluar!” Tanpa ba bi bu, penentangnya itu pun keluar –naik pitam– meninggalkan ruangan sidang.

Mungkin kebanyakan mengira, konflik tersebut akan membuat keretakan hubungan antar pemimpin. Nyatanya tidak. Pada rapat berikutnya, H. Gazali mendapati beliau dengan penentangnya itu tetap menghadiri rapat, saling salaman dan penuh kehangatan. Seolah-olah tidak ada pertentangan sebelumnya.

Buya Hamka

Haji Abdul Karim Amrullah atau biasa dikenal Hamka tidak kalah menarik sebagai contoh pemimpin yang bukan pendendam. Dalam sejarah, beliau pernah berkonflik cukup tajam dengan Soekarno, Moh. Yamin, dan Pramoedya Ananta Toer. Peristiwa ini dijelaskan secara apik oleh Irfan Hamka dalam buku “Ayah” (2016: 253-263).

Pada tahun 1964-1966 –selama dua tahun empat bulan—beliau dipenjara oleh rezim Soekarno atas tuduhan miring subversif. Selama masa itu jelaslah Hamka dan keluarga mengalami kesusahan hidup. Tapi bayangkan! Apakah beliau dendam? Tidak. Pada tanggal 16 Juni 1970 beliau malah meluluskan wasiat Soekarno yang ingin Hamka menjadi imam shalat jenazahnya.

Demikian juga M. Yamin. Karena perbedaan pandangan di konstituante, membuatnya sangat benci Hamka. Hal itu nampak ketika dalam pertemuan-pertemuan. Menurut ungkapan Hamka, kebenciannya bukan saja terlihat ketika dalam pertemuan, namun nuraninya pun juga benci. Apa Hamka dendam? Sama sekali tidak. Malah, beliau mendampingi jenazah Yamin hingga ke liang lahat, di kampung halamannya, sebagaimana permintaan Yamin yang disampaikan Chaerul Saleh kepada Hamka.

Tak kalah sengit adalah Pramoedya yang begitu bertentangan dengan Hamka. Bahkan Buya sering dijelek-jelekkan di media cetak, terlebih pada kasus tuduhan penjiplakan. Karyanya berjudul “Tenggelamnya Kapal Van der Wijk” dituduh menjiplak. Citra Hamka dihabisi di ranah publik. Apa beliau dendam? Tentu tidak. Malah, ketika putri dan calon menantu Pram ingin belajar agama kepada Hamka, disambut dengan baik oleh beliau.

Moh. Natsir

Buya Natsir –baik di akhir Orde Baru maupu Orde Lama—dipersempit ruang geraknya, tidak pernah menyimpan dendam. Jauh sebelum kemerdekaan, meski keduanya terlibat konflik secara tajam di media cetak, tidak ada muncul dendam kepada Soekarno. Malah menurut cerita mantan Menteri Penerangan ini dalam buku “Percakapan Antar Generasi Pesan Perjuangan Seorang Bapak” (1989: 48-50), saat Soekarno dipenjara, Natsir dan tokoh-tokoh Persis (Persatuan Islam) lainlah yang menjenguknya, hingga membuat Bung Karno Terharu.

Peristiwa lain yang tak kalah menarik, ketika pada akhir 40-an atau 50-an, meski perbedaan dengan Bung Karno makin nyata, namun perbedaan itu tidak menjadi halangan untuk sarapan pagi bersama di Istana Yogyakarta (Gedung Agung). Keduanya ngobrol sana, ngobrol sini seperti layaknya teman akrab.

“Hal demikian,” lanjut Natsir, “sulit kita jumpai pada zaman sekarang ini. Apalagi di dunia politik, perbedaan sedikit saja seolah-olah sudah merupakan ‘permusuhan besar’, atau apa itu dalam bahasa Jawa ‘musuh bebuyutan’. Tidak mau komunikasi, tidak mau ketemu, apalagi berdialog. Masih perlu pendewasaan dalam cara kita berpolitik.”

Dalam buku “Politik Bermartabat” (2011: 180) disebutkan bahwa saat Sarmidi Mangunsarkoso (1904-1959), tokoh PNI yang pernah menjatuhkan kabinet Natsir meninggal, tanpa canggung dan dendam beliau melayat jenazahnya bahkan tak kuasa menahan tetesan air mata. Dia merasa kehilangan atas kepergian rekan seperjuangan.

Pembaca mungkin tahu bagaimana perlakuan Soeharto yang begitu represif terhadap Buya Natsir. Meski begitu, Natsir tak menyimpan dendam. Malah, saat tahun 1971 Soeharto gagal memperoleh kridit, maka kemudian Natsir ke Jepang dan akhirnya Jepang mengucurkan pelbagai bantuan (Tempo, 2016: 101). Demikian juga saat rezim Orde Baru kesulitan untuk berdiplomasi dengan negara Arab, Natsirlah yang turut membantu.

Dari sekian contoh tersebut, nyatalah bahwa pemimpin bukanlah pendendam. Apalagi pemimpin Muslim, seharusnya pemaaf dan anti dendam dan dengki. Gambaran pemimpin yang tidak diliputi rasa dendam dan dengki tercermin dengan baik dalam doa sahabat dari kalangan Anshar yang ditujukan kepada golongan Muhajirin. Al-Qur`an mengabadikannya:

{رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ}

“Ya Allah! Ampunilah dosa-dosa kami beserta orang-orang yang imannya lebih dulu dari kami. Dan jangan Engkau membiarkan kedengkian pada hati-hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Sesungguhnya Engka Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hasyar [59]: 10)

Sebenarnya masih banyak lagi contoh tentang pemimpin yang tak pendendam, namun tak bisa disebutkan semua di sini lantaran keterbatasan tempat. Semoga para pemimpin saat ini bisa meneladinya di tengah situasi pasca pilpers yang sangat berpotensi besar dalam menimbulkan dendam kesumat.* Mahmud Budi Setiawan

Rep: Admin Hidcom

Editor: Muhammad Abdus Syakur

Update aplikasi Hidcom untuk Android Sekarang juga !

Sebarkan :

Baca Juga

Umroh Keluarga

Iklan Bazar