Sejarah

MR Kasman Singodimejo (1904-1982): Pahlawan Nasional Aktivis Muhammadiyah

MR Kasman Singodimejo (1904-1982): Pahlawan Nasional Aktivis Muhammadiyah
MR Kasman Singodimejo

PADA tahun 1925, Mohammad Roem diajak Kasman dan Soeparno ke rumah Haji Agus Salim di Gang Tanah Tinggi, Jakarta.

Masing-masing dari mereka adalah pelajar dari Stovia (Kasman dan Soeparno kelas dua bagian persiapan, sementara M. Roem kelas satu). Mereka aktif dalam organisasi Jong Islamieten Bond (JIB) yang didirikan pada awal tahun itu juga oleh Samsuridjal.

Pergilah mereka dari Stovia di gang Kwini ke Tanah Tinggi (yang kalau ditempuh dengan naik sepeda sekitar 10 menit). Waktu itu mereka ke sana dengan berjalan kaki. Jalan yang diaspal hanya sampai stasiun Senen. Sisanya, jalannya becek, tanah biasa dan berlobang.

Setelah sampai di lokasi, mereka disambut dengan baik oleh Agus Salim di serambi rumahnya. Memang dalam urusan ini, the Grand Old Man itu sangat hangat dalam menyambut tamu.

Di sela-sela pembicaraan, Kasman bercerita pengalamannya pas naik sepeda ke rumah H. Agus Salim pada hari sebelumnya, “Dan kemarin saya katakan, jalan pemimpin itu bukan jalan yang mudah. Memimpin adalah jalan yang menderita.”

Kata-kata Kasman yang begitu berbobot itu memiliki kandungan sastra dalam bahasa Belanda.

Mohammad Roem, menyebutkan bahwa dalam bahasa Belanda ada dua kata yang berbunyi sama namun ditulis berbeda: ‘leiden’ (memimpin) dan lijden (menderita).

Kasman berkata, “Een ledersweg is een lijdensweg. Lieden is lijden.” (Yanto Bashri, Sejarah Tokoh Bangsa, 2011: 121-122)

Ucapan itu lahir setelah sebelumnya, dengan mata kepala sendiri menyaksikan kesusahan Agus Salim. Orang besar sekelas Agus Salim yang kalau mau hidup layak dan mapan sebenarnya mampu, memilih jalan yang menderita. Itulah sejatinya pemimpin. Bukan sibuk memperkaya diri, tapi menelantarkan kepentingan rakyat. Dan Kasman pun meneladaninya.

Tokoh Muhammadiyah yang beberapa hari lalu (Kamis, 8/11/2018) mendapat gelar Pahlawan Nasional ini, kontribusinya bagi negara memang cukup besar.

Sejak 1935, beliau telah aktif dalam perjuangan pergerakan nasional. Pada masa Jepang ia menjadi komandan PETA Jakarta. Dirinya merupakan tokoh yang berperan dalam mengamankan pelaksanaan upacara pembacaan proklamasi 17 Agustus 1945 serta rapat umum IKADA.

Selain itu, setelah proklamasi beliau diangkat menjadi anggota PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia). Pernah juga diangkat menjadi anggota KNIP (Komite Nasional Pusat) pada 29 Agustus 1945 dan menjadi Jaksa Agung pada 1945-1946 menggantikan Gatot Taroenamihardja. Pada kabinet Amir Syarifuddin II, beliau menjabat sebagai Menteri Muda Kehakiman (11 November 1947-29 Januari 1948).

Di masa Demokrasi Terpimpin (1963) beliau ditahan oleh rezim Orde Lama. Salah satu tuduhannya adalah merongrong kekuasaan negara dan berniat membunuh presiden (Johan, 2014: 114-118). Padahal, itu semua adalah fitnah.

Pada zaman Orde Baru kiprahnya hampir tak pernah terdengar lagi seperti sebelumnya karena aktivis Masyumi di zaman Soeharto tak memiliki keleluasaan bergerak di bidang politik. Meski begitu, beliau tetap aktif di organisasi Muhammadiyah hingga akhir hayatnya.

Semoga, kita bisa meneladani kontribusi dan sumbangsihnya bagi agama, bangsa, dan negara.

Tabik!* Mahmud Budi Setiawan

Rep: Admin Hidcom

Editor: Muhammad Abdus Syakur

Update aplikasi Hidcom untuk Android Sekarang juga !

Sebarkan :

Baca Juga

Hidayatullah Depok

Iklan Bazar