Tazkiyatun Nafs

Pergunakan Usia Panjangmu dengan Amal Shalih (2)

Pergunakan Usia Panjangmu dengan Amal Shalih (2)
Menolong/ilustrasi.

ORANG yang taat kepada Allah menjadi senang dan gembira selama-lamanya. Semakin hari kesenangan dan kegembiraannya semakin bertambah. Sedangkan orang yang bermaksiat kepada Allah, dirundung susah dan duka. Kesusahan dan kedukaannya senantiasa bertambah sampai tidak ada batasnya. Maka ambillah pilihan amal untukmu yang dapat bermanfaat dan mengangkat derajatmu. Semoga Allah merahmatimu selama engkau berada di dunia ini. Karena kalau seandainya engkau telah meninggal, maka tidak ada lagi pilihan untukmu.

Bersegeralah dan jangan menunda-nunda waktu. Karena sesungguhnya menunda-nunda waktu itu tidak baik, sebab manusia akan dihadapkan dengan banyak musibah dan kesibukan. Rasulullah Shalallaahu `Alaihi Wasallam bersabda: “Pergunakanlah yang lima sebelum datang lima lainnya: masa mudamu sebelum datang masa tuamu, masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, masa kayamu sebelum datang masa miskinmu, dan masa hidupmu sebelum datang masa matimu.”

Dan Rasulullah juga bersabda: “Bersegeralah kamu mengerjakan amal perbuatan shalih sebelum engkau sibuk. Dan berdoalah di hadapan Tuhanmu dengan cara banyak mengingat-Nya.”

Rasulullah bersabda lagi: “Dua kenikmatan yang menyebabkan banyak manusia lalai karenanya, yakni kesehatan dan waktu luang.” Sehingga orang yang lalai adalah orang yang memiliki kesehatan dan keluangan waktu, tetapi diisi dengan pekerjaan-pekerjaan yang tak berguna. Atau digunakan untuk kesibukan-kesibukan duniawi yang melalaikan dirinya untuk mengingat Allah dan juga melalaikannya dari mengerjakan amal-amal shalih.

Sesungguhnya seseorang baru sadar bahwa dirinya termasuk lalai setelah kematian menjemputnya, yaitu saat ia melihat derajat-derajat tinggi telah luput dari perhatiannya. Kemudian berandai kalau sekiranya dulu menggunakan kesehatan dan keluangan waktunya tersebut, maka niscaya derajat-derajat tinggi itu dapat dia peroleh.

`Ali bin Abi Thalib r.a berkata: “Manusia itu dalam keadaan tidur. Jika mati barulah mereka sadar.” Allah Ta’ala berfirman: “(Ingatlah) hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan kamu pada hari pengumpulan (untuk dihisab), itulah hari (waktu itu) ditampakkan kesalahan-kesalahan.” (QS At-Taghaabun [64]: 9). Ahli surga tidak pernah menyesal karena waktu yang mereka lalui digunakan untuk berdzikir pada Allah. Itu karena mereka tahu betapa berharganya waktu yang luang, dan waktu itu dapat digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mendapatkan kenikmatan.

Adapun orang yang menggunakan kesehatan dan waktu luangnya untuk bermaksiat pada Allah dan membuat-Nya murka, maka orang itu merugi dan dibenci oleh Allah. Sesungguhnya dia orang yang lalai, yang menggunakan kesehatan dan waktu luangnya untuk pekerjaan kurang bermanfaat.

Pahamilah firman Allah berikut ini: “Dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang-orang yang duduk dengan pahala yang besar.” (QS An-Nisaa’ [4]: 95).

Rasulullah bersabda: “Orang mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada orang mukmin yang lemah. Dan masing-masing memiliki keutarnaan.” Bersungguh-sungguhlah mengerjakan hal yang bermanfaat bagimu. Mintalah pertolongan kepada Allah dan janganlah patah semangat.

Kalau kamu tertimpa suatu perkara yang tidak disukai, maka katakanlah: “Allah telah menentukan segala sesuatu. Apa yang Dia kehendaki maka akan Dia laksanakan.” Jauhilah menggunakan kata “kalau”, sesungguhnya kata itu membuka peluang perbuatan setan. Karena sesungguhnya kata “kalau” sering diucapkan oleh orang-orang yang lemah dan patah semangat. Dia tidak mempedulikan urusan-urusan yang baik saat dia mampu mengerjakannya lantaran kurang semangat dan malas.

Rasulullah telah bersabda: “Kewaspadaan (terlalu hati-hati sehingga sampai tidak terlaksana) itu tidak bermanfaat bagi orang yang mampu (mengerjakannya).” Renungilah hal itu dan perhatikanlah dengan baik-baik. Karena di dalamnya ada pengertian yang luas dan mengandung pengetahuan yang banyak. Hanya kepada Allah terjadinya akibat segala urusan.*Syaikh ‘Abdullah bin ‘Alawi Al Haddad, dikutip dari bukunya Pancaran Iman Seorang Muslim.

Rep: Admin Hidcom

Editor: Syaiful Irwan

Update aplikasi Hidcom untuk Android Sekarang juga !

Sebarkan :

Baca Juga

Umroh Akbar Arifin Ilham

Gedung PPH