Tazkiyatun Nafs

Ilmu yang Menyibukkan

Ilmu yang Menyibukkan
muh. abdus syakur/hidayatullah.com

ANEHNYA dunia ini, ada orang merasa gulana karena tidak punya kesibukan dalam hidupnya. Sehari-hari hanya luntang-lantung tanpa punya pekerjaan yang jelas. Berharap bisa terlihat sibuk juga. Setidaknya seperti yang lalu lalang di depan hidungnya setiap saat. Orang-orang berlari sampai berebut seperti dikejar waktu. Sedang dia masih saja terpaku di tempatnya. Tak mampu kemana-mana. Dia pun galau karenanya.

Ada juga sebagian manusia begitu gundah bukan karena tak punya kesibukan atau pekerjaan. Dia galau justru karena mendapati dirinya setiap saat didera kesibukan yang tak berujung. Hari-hari penuh dengan agenda yang saling mengikat. Semua berjalan padat merayap. Semua harapan orang banyak telah dirasakannya. Tinggal satu mimpi yang tak sanggup digapainya. Kapan dia bisa rehat sejenak. Lari sembunyi dari kesibukan. Sekadar menikmati waktu senggang lalu tertawa bersama anak-anaknya.

Lucunya lagi, ternyata sebagian manusia tak kunjung menemukan dan merasakan bahagia yang dikejarnya. Padahal itulah tujuan utama pekerjaan atau kesibukan mereka selama ini. Mendekap erat semua keinginan dunia yang bisa digapainya. Namun, ibarat bayang-bayang, acap dikejar materi itu, kian kencang pula dunia berlari menjauh. Lalu apa arti kesibukannya selama ini? Entahlah. Jelasnya penyakit itu telah menimpa sebagian manusia dulu dan sekarang.

Konsep ilmu dalam Islam merupakan solusi dalam mengurai persoalan tersebut. Sekurangnya, itu tergambar dari pemahaman “orang sibuk” dalam al-Qur’an. Firman Allah: “Sesungguhnya penghuni surga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (mereka),” (QS. Yasin [36]: 55). Bahwa kesibukan atau amal shaleh apapun yang dilandasi iman senantiasa diwarnai kebahagiaan.

Puncak kebahagiaan itu ketika amalan seorang hamba diridhai Tuhannya. Allah berkenan merahmatinya dan memasukkannya ke dalam surga.

Bagi orang beriman, demikian itu bukan lagi sebagai kewajiban yang memberatkan. Bahkan andai pekerjaan tersebut membutuhkan pengorbanan sekalipun, tetap saja ada rona bahagia yang dirasakan.

Sudah menjadi kesadaran sekaligus ukuran keimanan yang dimiliki. Bahwa iman itu memang perlu dibuktikan. Makin tinggi level iman yang ingin digapai, kian banyak pula amal shaleh yang mesti ditunaikan.

Sebagian lagi mengartikan kesibukan beramal shaleh sebagai bukti cinta. Disebutkan dalam satu ungkapan, seseorang selalu bersama dengan yang dicintainya. Mulai dari seringnya Dia diingat, disebut, hingga dipatuhi segala perintah dan dijauhi setiap larangan-Nya. Semakin dalam cintanya, kian asyik pula manusia berkorban dan tenggelam dalam kesibukannya bercinta.

Baca: Istighfar Ilmu

Giat bekerja atau sibuk beramal shaleh juga indikasi rasa syukur yang dipunyai. Diakui, tidak ada manusia yang tak punya alasan untuk bersyukur kepada Sang Pencipta. Dialah yang Mengatur segala urusan. Zat Pemberi rezeki dan jatah umur di dunia ini. Rasulullah yang dijamin surga pun masih saja sibuk beribadah dan beramal shaleh. Salahkah kalau aku berusaha menjadi hamba yang bersyukur? Tanya Nabi Muhammad kepada Ibunda Aisyah, Ummul Mukminin suatu saat.

Tak heran, Nabi Shallallahu alaihi wasallam memotivasi para Sahabatnya. Al-ajru ala qadri al-masyaqqah (ganjaran itu setimbang dengan kesusahan yang dilalui). Demikian pesan penuh makna itu. Bahwa apapun kesibukan dan kepayahannya, sungguh tak ada alasan untuk mengeluh kesah. Sebab semua itu ternyata bernilai ganda di sisi Allah.

Ilmu dan amal tersebut bukan sekadar anak tangga formalitas yang dilewati setiap waktu. Tapi setiap tetes keringat yang menyertai langkah itu terhitung sebagai moodbooster yang menguatkan semangat anti galau.

Kata pepatah, ilmu tanpa kesibukan beramal ibarat sebatang pohon yang tidak menghasilkan buah sama sekali. Sepintas, orang lain bisa saja terpesona dengan keindahan tumbuhan itu. Namun ketika didekati, pohon itu ternyata nyaris nirmanfaat. Seperti ada yang hilang di balik penampilannya yang anggun. Nasihat dan perkataannya yang memesonakan kini berbalik menjadi cemoohan. Bahkan bisa berubah menjadi ancaman bagi dirinya (hujjatun alaihi).

Lebih jauh sifat demikan adalah ciri manusia hipokrit. Sebab perkataannya tak sesuai dengan tindakannya. Apa-apa yang orang lain dilarangnya justru dilanggarnya sendiri. Apa-apa yang diperintahkan ternyata dia sendiri enggan mengerjakannya. Kalaupun dirinya tampak sibuk dengan amalannya, orang lain kadang terlanjur tidak percaya. Boleh jadi semuanya hanya lipstik semata untuk mengelabui orang lain.

Sungguh trik-trik pencitraan seperti ini hanya berujung kepada keletihan yang benar-benar melelahkan. Kalaupun mengaku bahagia dengan kesibukannya bekerja, maka kebahagiaannya bermakna semu. Hanya sesingkat umur manusia di dunia saja. Setelah itu putus tak berarti apa-apa. Sebab kesibukan yang membahagiakan hanyalah bisa diraih setelah semuanya terkoneksi dengan keyakinan pada Allah dan beriman kepada Hari Akhir.* Masykur

Rep: Admin Hidcom

Editor:

Update aplikasi Hidcom untuk Android Sekarang juga !

Sebarkan :

Baca Juga

Umroh Keluarga

Iklan Bazar