Catatan Akhir Pekan

Malaysia Diboikot Yahudi

Hari Kamis (23 Oktober 2003), Harian New Strait Times yang terbit di Kuala Lumpur, menurunkan satu berita menarik berjudul: “Jewish Group calls for boycott of investment in Malaysia”. Dalam berita yang dikutip dari Kantor Berita Perancis AFP itu disebutkan, “A leading US-based Jewish lobby group has condemned Prime Minister Datuk Seri Dr. Mahathir Mohamad as a “serial anti-Semite” and called for a boycott of tourism and investment in Malaysia”.
,br> Kelompok Yahudi yang berpengaruh itu, Simon Wisenthal Centre, melakukan kampanye serangan balik atas pidato Mahathir dalam KTT Organisasi Konferensi Islam (OKI) ke-10, yang menyebut Yahudi sebagai bangsa yang angkuh dan sekarang mengendalikan dunia dengan “proxi”. Mereka menyerukan para investor dan turis agar menghindari Malaysia, sampai ada kejelasan bahwa pemimpin yang akan menggantikan Mahathir tidak mengikuti garis pandangannya. Rabbi Abraham Cooper, ketua kelompok Yahudi ini, menyatakan, bahwa selama pemimpin Malaysia itu tidak menghentikan kampanye penyebaran kebencian rasial “anti-Semitism” yang menyebabkan kejahatan anti-Yahudi dan terorisme, maka bisnis tidak dapat dijalankan dengan negara itu.

Cooper menegaskan, bahwa “Dr. Mahathir’s serial anti-Semitism has now moved the most virulent anti-Semitic stereotypes into the mainstream of the body-politic of the Islamic and Asian communities.”

Respon kelompok lobi Yahudi Amerika ini merupakan serangkaian protes dan kecaman terhadap Mahathir Mohamad yang dilancarkan oleh sejumlah pemimpin Barat dan Yahudi atas pidatonya dalam KTT OKI ke-10, di Kuala Lumpur, (16-10-2003) lalu. Ketika itu, dalam pidatonya yang panjang, Mahathir mengatakan, “The European killed six million Jews out of 12 million. But today the Jews rule this world by proxy.”

Ungkapan Mahathir yang disebarkan pers Barat ini kemudian menjadi heboh. Duta Besar Israel di Singapura, Itzak Shoham menuduh Mahathir anti-semitik. “Kami tidak pernah mendengar kata-kata seperti itu sejak zaman Hitler,” kata Shoham, seraya menambahkan, bahwa kata-kata seperti itu tidak pada tempatnya di dunia yang berperadaban. PM Autsralia, John Howard langsung menyerang Mahathir, seraya menyebut, ungkapan Mahathir sebagai berbahaya dan menjijikkan. Menteri Luar Negeri Italia Franco Frattini lebih jauh lagi berencana membawa ucapan Mahathir soal Yahudi ke Sidang Uni Eropa dan akan mengeluarkan kecaman resmi terhadap Mahathir. Ia juga menyifati Mahathir sebagai anti-semit dan bertentangan dengan upaya dialog antara Islam dengan Barat.

Kementerian Luar Negeri Jerman sampai memanggil Kuasa Usaha Malaysia di Berlin dan menyatakan protesnya atas ucapan Mahathir, dan menyebutnya sebagai pernyataan anti-Yahudi. Namun, Malaysia tampak tidak gentar dengan berbagai kecaman itu. Menteri Luar Negeri Malaysia, Syed Hamed Albar, menyebut Frattini sebagai ‘ekstremis’. Mahathir juga tidak mengubah pendapatnya.

Dalam wawancara dengan Bangkok Post, saat KTT APEC di Bangkok, Mahathir menyatakan, “The reaction of the world shows that they (Jews) do control the world.” Entah seberapa serius kampanye boikot yang dilakukan oleh kelompok Yahudi di AS itu. Sejak awal 1980-an, Mahathir Mohamad memang dikenal dengan pandangannya yang kritis terhadap Barat. Ia pernah dijuluki sebagai “Soekarno Kecil’, karena sama-sama menggelorakan isu “anti-imperialisme” Barat. Mencermati pandangan Mahathir tentang Barat danb Yahudi, tampaknya ia mempunyai garis yang panjang, sejak ia muncul sebagai tokoh politik penting sekitar 20 tahun lalu. Ekonomi Malaysia kini mencapai pertumbuhan rata-rata lebih dari 6 persen per tahun. Tentu banyak sekali kritik-kritik internal dalam negeri Malaysia sendiri.

Namun, secara umum, Malaysia kini diakui sebagai salah satu kekuatan ekonomi yang cukup diperhitungkan, dan negara investor terbesar nomor 18 di dunia. Indonesia sendiri, saat ini banyak menjual sejumlah perusahaannya kepada investor Malaysia. Serangan terhadap Mahathir dari para pemimpin Barat dan Yahudi juga membangkitkan solidaritas di dalam Malaysia. Mursyidul Am PAS, partai opisisi utama Malaysia, Nik Aziz membuat membela Mahathir, dan meminta umat Islam negara ini menyokong Mahathir.

“Saya tak pikir (Perdana Menteri) anti-Yahudi tapi anti perangai bangsa itu yang banyak melakukan perbuatan yang menyusahkan umat Islam dan ini bertepatan dengan anjuran Islam,” kata Nik Aziz, seperti dikutip Utusan Malaysia (19/10/2003). Sebenarnya, pidato Mahathir yang menyinggung “hegemoni Yahudi” di dunia, tidak lebih dari 1 persen dari semua isi pidatonya. Jika dicermati, hampir semua isi pidatonya ketika itu justru berupa kritik internal terhadap umat Islam. Mengapa sebagai umat besar, yang jumlahnya 1,3 milyar jiwa, umat Islam tidak dapat berbuat banyak. Di sinilah ia kemudian membandingkan dengan Yahudi, yang selama 2000 tahun ditindas, lalu berhasil bangkit, dengan menggunakan strategi, mengandalkan “otak” dan ilmu pengetahuan.

Sebenarnya, bukan kali ini saja, Mahathir bicara keras tentang Yahudi, Israel, dan Barat. Dalam acara pawai akbar di Stadiun Bukit Jalil, 23 Februari 2003, Mahathir menyebut, cara-cara peperangan yang dilakukan Barat dalam menyelesaikan masalah sebagai “cara-cara yang tidak beradab, primitif, dan lebih buruk daripada apa yang tejadi di zaman batu”. Ia juga menyebut Israel merupakan teroris terbesar, tetapi tidak ada negara besar yang mau menyebut Israel sebagai teroris.

Namun, meskipun kadarnya sangat sedikit, pidato Mahathir tentang sejarah dan sifat Yahudi dapat mewakili gambaran persepsinya tentang Yahudi saat ini. Bangsa ini memang kecil. Dan karena memegang doktrin sebagai “bangsa pilihan” atau “the chosen people”, maka ia sangat memelihara kemurnian garis keturunan. Unsur darah sangat ditekankan dalam garis Yahudi. Yang disebut sebagai “Yahudi” adalah mereka yang lahir dari ibu Yahudi atau yang melakukan konversi ke agama Yahudi. Hampir sepanjang sejarahnya, bangsa ini merupakan bangsa yang tertindas dan terusir. Karena begitu banyak Nabi yang diturunkan dari dan atas mereka, maka sebenarnya bangsa ini mendapatkan banyak karunia. Hanya karena kedurhakaan dan pengkhianatan mereka terhadap perjanjian dengan Allah, maka mereka kemudian dijadikan sebagai bangsa yang hina. Adalah tepat gambaran Arnold Toynbee yang menyebut, peradaban Yahudi adalah ‘arrested civilization’ (peradaban yang tertawan) yang berkembang dari peradaban Syriac awal.

Secara historis, peradaban Yahudi beraviliasi kepada Kristen dan Islam dan selama berabad-abad Yahudi memelihara identitas kultural mereka dalam peradaban Islam, Barat, dan Ortodoks. Dari segi jumlah, dibandingkan dengan Islam dan Kristen, Yahudi sangat kecil. Dalam Atlas of The World’s Religions, disebutkan jumlah pemeluk agama Yahudi 15.050.000 (lima belas juta lima puluh ribu).

Tentu, ini satu jumlah yang sangat kecil, jika dibandingkan dengan pemeluk Islam yang 1.179.326.000, dan pemeluk Kristen 1.965.993.000. (Ninian Smart, Atlas of The World’s Religions, (New York: Oxford University Press, 1999). CM Pilkington, dalam bukunya, Judaism, malah menyebut angka yang lebih kecil, yaitu 13 juta jiwa. Mereka kini tersebar utamanya di 10 negara, yaitu USA (5.800.000), Israel (5.300.000), Bekas Uni Soviet (879.800), Perancis (650.000), Kanada (362.000), Inggris (285.000), Brazil (250.000), Argentina (240.000), Hongaria (100.000), dan Australia (97.000). (Lihat, Pilkington, Judaism, (London: Hodder Headline Ltd., 2003).

Dengan jumlah sekecil itu, bagaimana Yahudi dapat menguasai dunia, dengan proxi? Artinya, Yahudi berkuasa dengan menggunakan tangan orang lain, terutama negara-negara besar. Bagi kaum Muslim, tentu sangat paham, bahwa jumlah kecil bukanlah jaminan kekalahan. Banyak ayat al-Quran yang menekankan pentingnya kualitas, dan bukan kuantitas. Jika dicermati, paham demokrasi pun sebenarnya sebuah “tipuan”, seolah-olah rakyat banyak yang membuat keputusan dan memerintah (government of the people, by the people, and for the people). Di AS, misalnya, yang berkuasa bukanlah rakyat, tetapi para penguasa modal dan media massa). Rakyat tidak memilih sendiri presiden mereka. Tetapi, para korporat (yang mengusai para politisi) itulah yang menentukan, siapa-siapa yang harus dipilih oleh rakyat sebagai pemimpin mereka.

Dalam pidatonya, Mahathir sebenarnya lebih menekankan, agar umat Islam belajar dari sejarah Yahudi. Bagaimana bangsa kecil yang mengalami penindasan selama 2000 tahun ini, berhasil survive dan bahkan kemudian menjadi salah satu kekuatan dunia (world power). Ia menekankan, bahwa Yahudi selamat, lebih karena menggunakan “otak”, dan bukan hanya kekuatan fisik.

“Muslims were up against people who think; people who survived 2000 years of pogroms not by hitting back, but by thinking.”

Sebutan “people who think” untuk Yahudi memang tidaklah terlalu berlebihan. (Islam menyebutnya sebagai Ahl Kitab – people of the book). Hingga kini, bisa dilihat, Yahudi begitu agresif dan aktif dalam mewarnai literatur-literatur dunia di berbagai bidang. Dalam kajian keislaman, misalnya, Yahudi telah membangun lembaga-lembaga ilmiah yang serius dan menerbitkan banyak buku dan jurnal tentang Islam.

Sebaliknya, dunia Islam seperti belum tertarik untuk mengkaji soal Yahudi secara ilmiah. Hingga kini, kalau tidak salah, belum satu pun universitas Islam –setidaknya di Indonesia – yang memiliki pusat Kajian Yahudi.

Bagian pidato Mahathir yang sangat menohok bangsa Yahudi adalah pernyataannya, bahwa Yahudi bukanlah bangsa yang tidak dapat dikalahkan. Kata Mahathir, “It is surely time that we pause and think. If We had paused to think, than We could have devised a plan, a strategy that can win us final victory.”

Dengan ungkapan itu, Mahathir mengajak umat Islam untuk berpikir serius, bagaimana dapat mengalahkan Yahudi. Tahun 1926, sebelum mendirikan negara Yahudi Israel tahun 1948, para pendatang Yahudi di Palestina sudah mendirikan Hebrew University. Para politisi Muslim seyogyanya memiliki program yang mendasar dan jangka panjang, tanpa menafikan target-target kekuasaan jangka pendek. Apa yang terjadi pada Umat Islam Indonesia kini dapat diambil sebagai pelajaran.

Berbagai ironi dan bencana yang mnenimpa umat Islam saat ini, justru terjadi di saat banyaknya tokoh-tokoh politik Islam bertengger di puncak kekuasaan. (Hamzah Haz, Amien Rais, Yusril Ihza Mahendra, Hatta Rajasa, Bakhtiar Hamzah, Ali Marwan Hanan, dan sebagainya).

Bukan berarti mereka tidak berbuat apa-apa untuk umat. Tetapi, problema politik tidaklah sesederhana menempatkan politisi Islam dalam pusat-pusat kekuasaan. Kekuasaan tidak akan berarti apa-apa jika tidak disertai dengan “ilmu tentang Islam” yang mendalam dan akhlak yang tinggi. Sebab, pada akhirnya, semua politisi akan diahadapkan pada problema yang sulit di tengah sistem yang non-Islami. Akan tetapi bukan bararti pula “perjuangan di dalam system” tidak penting. Orang seperti Habib Rizq Shihab justru masuk penjara di zaman reformasi dan era berkibarnya banyak tokoh politik Islam. Di masa pra-reformasi, Inul Daratista belum tentu bisa sebebas sekarang memamerkan tarian erotisnya. Berbagai kontes ratu kecantikan yang menjamur sekarang ini juga sulit berkembang di zaman Orde Baru.

Itu bukan berarti Orde Baru lebih baik dari Orde Reformasi. Yang perlu kita tekankan adalah, bahwa semua gerak dan program politik mestinya didasarkan atas pemikiran dan konsep yang matang. Bukan hanya sibuk melakukan aktivitas mencari popularitas untuk meraih dukungan massa. Banyak partai Islam yang senang menyebut dirinya sebagai “reformis”, karena kata itu sedang popular. Tetapi, perlu ditanyakan, apa partai-partai itu mempunyai konsep, apa yang dimaksud dengan “reformasi”, menurut Islam? Apa bedanya dengan reformasi yang dilakukan Marthin Luther dalam sejarah Kristen? Dalam sejarah Kristen Eropa, Reformasi mengandung konsekuensi liberalisasi. Siapkah kita menghadapi hal itu, dalam segala bidang? Termasuk dalam pemikiran keagamaan?

Apa yang harusnya kita tekankan adalah bahwa perjuangan terkadang memerlukan perencanaan dan proses yang panjang. Sebutlah contoh apa yang dilakukan oleh Imam al-Ghazali dalam kasus Perang Salib. Banyak ilmuwan yang mempertanyakan, mengapa dalam Kitab terbesar-nya, Ihya Ulumuddin, al-Ghazali tidak menulis secara khusus masalah Perang Salib. Padahal, kitab itu ditulis di saat umat Islam menghadapi problem besar tersebut. Jika dicermati, Ihya sangat menekankan aspek perbaikan aqidah dan akhlak individu dan masyarakat.

Al-Ghzali banyak menulis tentang jihad. Tetapi, di Ihya’ Ulumuddin, al-Ghazali mengajak umat Islam untuk menelaah sumber permasalahan kehancuran umat Islam. Justru al-Ghazali kemudian mengajak orang untuk menoleh pada “konsep ilmu”. Karena itulah, ia sangat menekankan pada peran ulama dan aktivitas amar ma’tuf nahi munkar dalam proses kebangkitan umat Islam. Tetapi, al-Ghazali tidak melupakan problema umat ketika itu. Pandangan-pandangannya tentang jihad dalam menghadapi pasukan Salib, banyak dikutip oleh Syekh Ali al-Sulami dalam Kitab al-Jihad. Meskipun ketika itu dunia Islam berada dalam taraf peradaban yang jauh lebih tinggi dari peradaban Kristen Eropa, perjuangan membebaskan Jerusalem dari tangan pasukan Salib membutuhkan waktu 88 tahun (dari tahun 1099-1187).

Kota Jerusalem saat ini sudah 36 tahun jatuh ke tangan Zionis Israel (dalam Perang tahun 1967). Sementara negara Yahudi Israel sendiri “baru” berumur 55 tahun. Padahal, secara umum, tingkat peradaban Muslim kini sedang di bawah peradaban Barat Yahudi-Kristen. Apakah umat Islam akan membutuhkan waktu lebih dari 100 tahun dalam membebaskan Jerusalem? Wallahu a’lam. Hanya Allah yang Tahu.

Yang jelas, pidato Mahathir di KTT OKI ke-10, menekankan, bahwa prestasi yang dicapai oleh bangsa Yahudi bukanlah mitos. Prestasi itu dicapai karena kegigigan dan kerja keras mereka. Dominasi Yahudi dalam politik internasional, dan pengaruh mereka dalam politik di AS, adalah sesuatu yang terbuka dan dapat dipelajari. Kekuatan Yahudi bukanlah sesuatu yang bersifat mistis. Tokoh Zionis Theodore Herzl adalah seorang penulis skenario, sutradara, sekaligus aktor utama Gerakan Zionis. Meskipun ditentang mayoritas Yahudi ketika itu, ia tetap berjuang mewujudkan gagasannya: “terwujudnya sebuah negara Yahudi 50 tahun setelah Kongres Zionis I, 1897. Dan itu terbukti 50 tahun 3 bulan kemudian, berdirilah negara Yahudi Israel.

Jika muslim kalah dalam soal Palestina, kata Mahathir, maka merekalah yang harus melakukan introspeksi. “We cannot fight them through brawn alone. We must also use our brains,” kata Mahathir. Kira-kira, kata Mahathir Mohamad, “Kita tidak bisa mengalahkan mereka hanya dengan otot saja, tetapi kita hartus menggunakan otak kita.” Demo anti-Israel perlu. Marah juga perlu. Tetapi, kapankah apa salahnya kita berpikir serius untuk mengalahkah, dan bukan hanya untuk melampiaskan kemarahan? Mungkin, karena inilah, banyak Yahudi yang marah kepada Mahathir dan mengajak dunia untuk memboikot Malaysia. Wallahu a’lam. (Kualalumpur, 23 Oktober 2003).

Rep: Cholis Akbar

Editor: Cholis Akbar

Update aplikasi Hidcom untuk Android Sekarang juga !

Sebarkan :

Baca Juga

Hidayatullah Depok

Iklan Bazar