Catatan Akhir Pekan

Upaya Mengkristenkan Yasser Arafat

Majalah Rohani Populer (Krisren), BAHANA, edisi XXXXV, Februari 2004, menulis satu berita menarik tentang usaha mengkristenkan Presiden Palestina Yasser Arafat. (lihat: www.bahana-magazine.com). Diceritakan, seorang Pengajar Injil bernama R.T. Kendall, bertemu untuk kedua kalinya dengan Yasser Arafat di kediamannya di Ramallah.

“Rais [sebutan presiden dalam bahasa Arab],” kata Kendall, “Saya ingin mengatakan sesuatu untuk direnungkan. Ada yang mengatakan pada saya bahwa Yesus Kristus sangat berkesan bagi Anda.” Arafat segera menjawab, “Oh ya, sangat, sangat penting.”

Kendall yang setiap hari sejak tahun 1982 selalu mendoakan Arafat ini tahu bahwa Arafat pernah bermimpi tentang Yesus. Arafat lalu menceritakan mimpinya, ketika tentara Israel menyerang dan mengebomi kediaman Arafat, tahun 2002. “Pada hari ketiga pengepungan itu…..seekor domba menuntun saya ke Betlehem,” kata Kendall menirukan kembali ucapan Arafat. “Di sana saya melihat bunda Maria sedang menggendong bayi Yesus.

Saya mencium Yesus. Ketika saya bangun, saya kaget karena saya memerintahkan domba itu disembelih dan diserahkan kepada para imam di Gereja tempat kelahiran Yesus di Betlehem supaya mereka berpesta.”

Kendall lalu berkata, “Saya minta Anda mau mengakui bahwa Yesus benar-benar mati bagi dosa Anda. Dia bukan diselamatkan dari salib itu, melainkan Dia benar-benar mati.” Ketika Kendall sedang berbicara tentang ‘panggilan untuk bertobat’ itu, tiba-tiba penerjemahnya menyela. “Tetapi Arafat menaruh tangannya pada penerjemah itu untuk memberi isyarat bahwa saya boleh meneruskan kata-kata saya,” ucap Kendall.

Setelah menjelaskan pada Arafat apa saja keuntungan menjadi orang Kristen, Kendall memperhatikan bahwa penerjemah itu keberatan lagi ketika Kendall sekali lagi melakukan ‘panggilan untuk bertobat’. “Saya berkata, ‘Saya hanya berusaha agar publik tahu apa yang diyakini Arafat,'” kata Kendall (67 th) “Saya berkata pada Arafat, ‘Tidak ada lagi yang bisa dilakukan. Perdamaian [di Timur Tengah] tidak bisa tercipta melalui jalur militer atau politik,'” lanjut Kendali.

Setelah itu, Kendall minta Arafat supaya bersedia merenungkan hal ini. Arafat setuju. Di akhir pertemuan, Kendall berdoa bagi Arafat dan memberikan buku “Total Forgiveness,” yang dia tulis. “Saya tidak tahu apakah dua kunjungan saya ini berdampak baik atau tidak,” kata Kendall kepada Charisma News Service ,” tapi yang penting saya telah berusaha keras untuk membawa seseorang kepada Yesus Kristus.

Begitulah berita tentang usaha pengkristenan Yaser Arafat yang dilakukan oleh Kendall, sebagaimana diceritakan Majalah BAHANA. Sebagai berita, tentu saja, cerita ini sulit dipercaya kebenarannya, karena belum ada konfirmasi dari pihak Arafat. Apakah cerita Kendall itu betul atau ngibul? Kita tidak tahu pasti.

Yang penting dari cerita itu adalah paparan tentang kegigihan seorang mionaris Kristen (yang sudah tua, berumur 67 tahun) masih begitu bersemangat untuk meng-Kristenkan seorang tokoh dunia bernama Arafat, yang jelas-jelas dikenal publik internasional sebagai seorang Muslim. Simaklah kata-kata Kendall: “Tapi yang penting saya telah berusaha keras untuk membawa seseorang kepada Yesus Kristus.” Semangat misionaris Kendall itu sangat luas biasa. Adakah tokoh Islam yang berusaha mengislamkan Bush, Kofi Annan, dan berbagai pemimpin dunia lainnya, sebagaimana yang dulu dilakukan oleh Rasulullah saw dan para sahabat beliau yang mulia?

Dalam soal misi Kristen, ada ayat Bible yang biasanya banyak dikutip misionaris Kristen dan dijadikan pijakan misinya. Misalnya, dalam Matius 28:19 dikatakan: “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus.”

Dulu, para pemuka agama dan penguasa Kristen melakukan tindakan pembaptisan paksa terhadap semua manusia. Siapa yang menolak dibaptis, maka akan disiksa atau dibunuh. Sebagai contoh, di Spanyol, berdasarkan hasil The Third Council of Toledo (589), maka Katolik dijadikan sebagai agama negara, dan ditetapkan sejumlah keputusan terhadap kaum Yahudi: (1) larangan perkawinan antara pemeluk Yahudi dengan pemeluk Kristen, (2) keturunan dari pasangan itu harus dibaptis dengan paksa, (3) budak-budak Kristen tidak boleh dimiliki Yahudi (4) Yahudi harus dikeluarkan dari semua kantor publik, (5) Yahudi dilarang membaca Mazmur secara terbuka saat upacara kematian.

Dalam periode 612-620, banyak kasus tejadi dimana Yahudi dibaptis secara paksa. Ribuan Yahudi melarikan diri ke Perancis dan Afrika. Pada 621-631, di bawah pemerintahan Swinthila, perlakuan Yahudi agak lebih lunak. Pelarian Yahudi kembali ke tempat tinggalnya semula dan mereka yang dibaptis secara paksa kembali lagi ke agama Yahudi. Tetapi, Swinthila ditumbangkan oleh Sisinad (631-636), yang melanjutkan praktik pembaptisan paksa. Pada masa pemerintahan Chintila (636-640), dibuatlah keputusan dalam The Six Council of Toledo (638), bahwa selain orang Katolik dilarang tingal di wilayahnya. Euric (680-687) membuat keputusan: seluruh Yahudi yang dibaptis secara paksa ditempatkan di bawa pengawasan khusus pejabat dan pemuka gereja. Raja Egica (687-701) membuat keputusan: semua Yahudi di Spanyol dinyatakan sebagai budak untuk selamanya, harta benda mereka disita, dan mereka diusir dari rumah-rumah mereka, sehingga mereka tersebar ke berbagai profinsi. Upacara keagamaan Yahudi dilarang keras. Lebih dari itu, anak-anak Yahudi, umur 7 tahun keatas diambil paksa dari orang tuanya dan diserahkan kepada keluarga Kristen. (Lihat, Max L. Margolis dan Alexander Marx, A History of the Jewish People, hal. 304-306).

Misi Kristen terus berjalan, berangkat dari doktrin, bahwa “di luar Gereja tidak ada keselamatan”. (Extra ecclesiam nulla salus). Sebagian kalangan Kristen berusaha mendobrak doktrin itu dan melakukan liberalisasi teologi yang kemudian dikenal sebagai teologi pluralis, yang menganggap bahwa semua agama adalah jalan yang sama-sama sah menuju kebenaran. Itu klaim mereka. Kasus Arafat dan masih bergiatnya kegiatan misionaris Kristen di seluruh dunia menunjukkan, bahwa semangat pembaptisan itu masih terus bercokol dan berjalan. Hingga, mereka memandang perlu untuk mengkristenkan seorang Yasser Arafat.

Untuk apa? Mengapa mereka tidak berusaha mengkristenkan Ariel Sharon? Sejarah mencatat betapa misi Kristen telah memakan begitu banyak korban. Di Spanyol, misalnya, Mahkamah Inquisisi secara resmi dibentuk oleh Paus Sixtus IV pada November 1478, dan baru berakhir pada 1820.

Pembentukan ini dipicu oleh laporan bahwa para Yahudi dan Muslim yang dipaksa memeluk Kristen (dikenal sebagai conversos dan marranos) masih tetap mempraktikkan ritualitas agama lama mereka. Pada tahun 1480, dimulai satu penyelidikan dan pengadilan terhadap mereka di sebuah jalan utama di Kota Barcelona, yang dikenal sebagai Ramblas. Di sini, semua korban disiksa. Kaum Kristen yang berasal dari Yahudi, misalnya, dicap sebagai heretics karena masih mempraktikkan tradisi Yahudi, seperti mengenakan baju linen setiap Hari Sabtu, atau tidak mau memakan babi.

Dalam setahun saja, sebanyak 300 orang telah dibakar hidup-hidup. Kondisi kaum Yahudi dan Muslim menjadi lebih buruk setelah Tomas de Torquemada diangkat sebagai “inquisitor general” untuk Castil dan Aragon, tahun 1483. Jumlah yang dibakar hidup-hidup semakin banyak. Tidak puas dengan membantai para “Yahudi tersembunyi” (crypto-Jews), Torquemada kemudian berusaha mengusir seluruh Yahudi dari Spanyol. Upaya ini kemudian berhasil, dengan dikeluarkannya perintah pengusiran Yahudi dari Spanyol oleh Ferdinand dan Isabella, yang dikenal dengan General Edict on the Expulsion of the Jews from Aragon and Castile. (Martin Gilbert (ed), Atlas of The Jewish People, hal. 61-64.)

Selain bermotif keagamaan, pengusiran kaum Yahudi dan Muslim dari Spanyol oleh Ferdinand dan Isabella juga memberikan banyak kekayaan kepada para penguasa Kristen Spanyol. Dengan pengusiran itu, mereka berhasil menguasai seluruh kekayaan Yahudi dan Muslim dan menjual mereka sebagai budak. Bahkan, diantara mereka yang diusir itu, mereka dirampok di tengah jalan dan sering dibedah perutnya untuk mencari emas yang diduga disembunyikan dalam perut kaum yang terusir itu. Masa kekuasaan Ferdinand — The King of Aragon — dan Isabella — the Queen of Castile–dicatat sebagai puncak persekusi kaum Yahudi dan Muslim di Spanyol. Keduanya dikenal sebagai “the Catholic Kings”, yang dipuji sebagai pemersatu Spanyol.

Masa kekuasaan Kristen itu memang telah berakhir di Barat. Masyarakat Kristen Barat sendiri mengalami trauma dengan kekejaman-kekejaman yang dilakukan oleh tokoh Gereja dengan mengatasnamakan wakil Kristus. Karena itu, kemudian merek tidak memberi tempat lagi kepada institusi Gereja untuk berkuasa dalam semua bidang, seperti di zaman pertengahan Eropa. Hanya saja, mereka pun tetap memanfaatkan misi Kristen untuk kepentingan kolonialisme dan imperialisme mereka.

Kasus Kendall yang mencoba mengkristenkan Yasser Arafat sebenarnya hal yang “mengherankan” jika kaum Kristen sendiri mau mengkaji dengan cermat problema teologi dan teks Bible sendiri. Jika para misionaris mengajak manusia untuk mempercayai dan mengakui bahwa kematian Jesus di Tiang Salib adalah untuk menebus dosa manusia, maka hingga kini, para teolog Kristen sendiri masih terus berdebat tentang hal itu. Heboh Film ‘The Passion of the Christ’ karya Mel Gibson menunjukkan bagaimana kontroversialnya cerita tentang penyaliban Jesus itu sendiri. Paus Yohanes Paulus II menyetujui film itu dan menyatakan, bahwa film itu adalah apa adanya, sesuai dengan cerita Bible. Namun, seorang tokoh Kristen membuktikan, banyak gambaran dalam film itu yang tidak sesuai dengan Bible. Misalnya digambarkan, bahwa Iblis menemui Yesus di Getsemane, padahal Bible menyebut Malaekat yang menemui Yesus (Luk.22:43).

Film ini juga secara khas model ‘Perjanjian Baru’ yang menggambarkan, bahwa Yahudi bertanggung jawab atas kematian Jesus itu. Tetapi, John Dominic Crossan, professor dalam Biblical Studies di DePaul University Chicago, menulis sebuah buku berjudul Who Killed Jesus? yang isinya membuktikan bahwa pemahaman tradisional terhadap terbunuhnya Jesus, yang digambarkan sebagai perbuatan kaum Yahudi, sebagaimana dipaparkan dalam Perjanjian Baru, bukan hanya salah, tetapi juga berbahaya. Ia juga mempertanyakan berbagai persoalan teologis yang mendasar, seperti “benarkah Jesus mati untuk menebus dosa-dosa manusia?” juga “apakah keimanan kita sia-sia jika tidak ada kebangkitan tubuh Jesus?” (Lihat, John Dominic Crossan, Who Killed Jesus (New York: HarperCollins Publishers, 1995). Perdebatan seputar Jesus bahkan pernah menyentuh aspek yang lebih jauh lagi, yakni mempertanyakan, apakah sosok Jesus itu benar-benar ada atau sekedar tokoh fiktif dan simbolik? Pendapat seperti ini pernah dikemukakan oleh Arthur Drews (1865-1935) dan seorang pengikutnya William Benjamin Smith (1850-1934). (Lihat, Howard Clark Kee, Jesus in History, (New York: Harcourt, Brace&World Inc, 1970), hal. 29.

Konsep ketuhanan Jesus itu sendiri baru diputuskan secara resmi pada Konsili Nicea tahun 325 M. Sebuah buku berjudul “The Messianic Legacy” mencatat: “At Nicea Jesus’s divinity, and the precise nature of his divinity, were established by means of a vote. It is fair to state that Christianity as We know It today derives ultimately not from Jesus’s time, but from the Council of Nicea.” Jadi, konsep Ketuhanan Jesus dan hakikat alamiahnya ditetapkan dalam Konsili tersebut, melalui cara voting. Maka, kata buku ini, adalah fair untuk menyatakan, bahwa Kekristenan yang dikenal saat ini diturunkan bukan dari zaman Jesus, tetapi dari Konsili Nicea.

Maka, sejak awal mula perkembangan Kristen, banyak sekali aliran yang tidak mengakui Ketuhanan Jesus. Contohnya, adalah satu kelompok yang bernama Cathary yang hidup di Selatan Perancis. Kelompok Cathary adalah penganut Catharism, satu kelompok heresy radikal di Zaman Pertengahan. Cathary percaya bahwa karena daging adalah jahat, maka Kristus tidak mungkin menjelma dalam tubuh manusia. Karena itu, Kristus tidaklah disalib dan dibangkitkan. Dalam ajaran Cathary, Jesus bukanlah Tuhan, tapi Malaikat. Untuk memperhambakan manusia, tuhan yang jahat menciptakan gereja, yang mempertontonkan “sihirnya” dengan mengejar kekuasaan dan kekayaan. Ketika kaum ini tidak dapat disadarkan dengan persuasif, Paus Innocent III menyerukan kepada raja-raja untuk memusnahkan mereka dengan senjata, sehingga ribuan orang dibantai.

Lebih pelik lagi jika kaum Kristen mau menelaah dengan serius problema yang dihadapi Kitab agama mereka sendiri, yaitu Bible. Begitu banyak kajian ilmiah yang membuktikan bahwa Bible memang bermasalah. Richard Elliot Friedman, dalam bukunya, Who Wrote the Bible, menulis, bahwa hingga kini siapa yang sebenarnya menulis Kitab ini masih merupakan misteri. (It is a strange fact that we have never known with certainty who produced the book that has played a central role in our civilization). Ia mencontohkan, the Book of Torah, atau The Five Book of Moses, diduga ditulis oleh Moses. Book of lamentation ditulis Nabi Jeremiah.

Separoh Mazmur (Psalm) ditulis King David. Tetapi, kata Friedman, tidak seorang pun tahu, bagaimana penyandaran itu memang benar. The Five Book of Moses, kata Friedman, merupakan teka-teki paling tua di dunia (It is one of the oldest puzzles in the world). Tidak ada satu ayat pun dalam Torah yang menyebutkan, bahwa Moses adalah penulisnya. Sementara di dalam teks-nya dijumpai banyak kontradiksi. Hasil penelaahan serius oleh Prof. Bruce M. Metzger, guru besar The New Testament di Princeton Theological Seminary, menunjukkan, bahwa sekarang mungkin saja untuk menghadirkan edisi lain dari The New Testament.

(the way is open for the possible edition of another book or epistle to the New Testament canon). (Lihat, Bruce M. Metzger, The Canon of the New Testament: Its Origin, Development, and Significance, (Oxford:Clarendon Press, 1987), hal. 273).

Kristen adalah agama yang dibentuk dan disusun teologi dan ritualitasnya oleh perkembangan sejarah. Ini sangat berbeda dengan Islam, yang merupakan satu-satunya agama, yang namanya sudah diberikan oleh Allah, melalui Kitab Suci al-Quran. Nama “Islam” sudah built-in sejak awal. Konsep teologi dan ritual pokok dalam Islam pun sudah sempurna sejak awal mula.

(al-Yauma akmaltu lakum diinakum wa atmamtu ‘alaikum ni’maty, wa radhiitu lakumul Islama diinaa). Tidak ada satu pun agama yang memiliki sifat dan karakteristik seperti Islam itu, sehingga pendiri Islamic Studies di MacGill University, Wilfred Cantwell Smith, dalam bukunya The Meaning and End of Religion, menampatkan satu bab khusus “The Special Case of Islam”. Meskipun dalam buku ini ia mereduksi makna Islam hanya sekedar “submission to God” atau “pasrah kepada Tuhan”.

Maka, kisah Kendall dan Arafat itu seyogyanya dapat menjadi pelajaran bagi kaum Muslim. Bahwa, meskipun secara konseptual teologis dan kitab Kitab-nya masih dipersoalkan, namun Kendall begitu bersemangat mengkristenkan Yasser Arafat. Jika kaum Muslim yakin bahwa Islam adalah ya’luu wa laa yu’laa ‘alaihi, maka adalah sangat aneh, jika semangat kaum Muslim dalam “melakukan Islamisasi” jauh lebih rendah daripada Kendall. Wallahu a’lam. (Kuala Lumpur, 18 Maret 2004).

Rep: Ahmad Sadzali

Editor: Cholis Akbar

Update aplikasi Hidcom untuk Android Sekarang juga !

Sebarkan :

Baca Juga

Umroh Akbar Arifin Ilham

Iklan Bazar