Catatan Akhir Pekan

“Model Salam Para Capres 2019-2024”

“Model Salam Para Capres 2019-2024”
iNEWS

Sambungan artikel PERTAMA

****

Seorang Muslim adalah seorang yang telah mengikrarkan diri: “Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.” Persaksian itu bukan hal kecil. Ungkapan syahadah adalah sesuatu yang sangat berat. Banyak kaum musyrik Arab, kaum Yahudi, dan Kristen, di masa Nabi Muhammad ﷺ dan manusia-manusia sesudahnya, menolak untuk “sekedar” bersyahadat.

Jadi, setiap muslim sudah berikrar, bahwa Tuhan-nya adalah Allah Subhanahu Wataa’ala; bukan tuyul, genderuwo, buto ijo, atau kuntilanak! Dalam agama Islam, nama Tuhan bukan merupakan hasil konsensus atau rekaan manusia tertentu. Nama Tuhan dalam Islam ditentukan oleh wahyu. Karena itulah, orang Islam, dimana saja menyebut nama Tuhan dengan lafal yang sama, yaitu ‘Allah’.

Muslim yakin, melalui utusan-Nya, Tuhan Yang Maha Esa itu telah mengenalkan dirinya, dengan nama Allah: Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Ilah (Tuhan) selain Aku (Allah), maka abdikan dirimu kepada-Ku (Allah), dan dirikanlah shalat untuk mengingati Aku (Allah)!” (QS Thaha (20):14).

Ajaran Islam tentang nama Tuhan ini  berbeda dengan ajaran Kristen yang membolehkan pemeluknya memanggil nama Tuhan, dengan berbagai sebutan! Seorang pendeta Kristen, Rev. Yakub Sulistyo, S.Th., M.A., dalam bukunya, berjudul “Allah” dalam Kekristenan, Apakah Salah, (2009),  menyeru, agar kaum Kristen meninggalkan sebutan Allah untuk nama Tuhan mereka: “Kamus Theologia Kristen sendiri sudah sangat jelas menulis bahwa: Allah itu berasal dari Arab yang artinya Keberadaan Tertinggi dalam agama Islam, jadi kalau Anda sebagai orang Kristen atau Katolik (Nasrani) yang baik, Anda seharusnya menghormati iman orang lain (umat Islam), dengan tidak mencampur-adukkan dengan iman Nasrani, sehingga menjadi Sinkretisme. (hal. 43).

Di Negara-negara Barat, Tuhan Kristen disebut ’God’ atau ’Lord’. Itu sebutan; bukan nama Tuhan! Di Bali, kaum Hindu memprotes penggunaan nama Tuhan oleh kaum Kristen yang dimiripkan dengan sebutan Tuhan dalam agama Hindu, seperti ”Sang Hyang Yesus”, ”Sang Hyang Allah Aji”, “Ratu Biang Maria,” dan sebagainya.” (Majalah Media Hindu, edisi November 2011).

Sementara itu, kaum Yahudi, hingga kini, masih terus berdebat, bagaimana memanggil Tuhan mereka. Oxford Concise Dictionary of World Religions menulis: “Yahweh: The God of Judaism as the ‘tetragrammaton YHWH’, may have been pronounced. By orthodox and many other Jews, God’s name is never articulated, least of all in the Jewish liturgy.” Lihat, John Bowker (ed), The Concise Oxford Dictionary of World Religions, (Oxford University Press, 2000). Harold Bloom, menulis, bahwa “YHWH” adalah nama Tuhan Israel yang tidak pernah bisa diketahui pengucapannya: “The four-letter YHWH is God’s proper name in the Hebrew Bible, where it appears some six thousand times. How the name was pronounced we never will know.” (Harold Bloom, Jesus and Yahweh, (New York: Berkley Publishing Groups, 2005).

Menanggapi polemic tentang nama Tuhan dalam agama Kristen, seorang pendeta Kristen, bernama Pdt. Parhusip menulis, bahwa kaum Kristen boleh menyebut nama Tuhan sesuai dengan apa yang terbersit dalam hati mereka. Ia menegaskan dalam bukunya yang berjudul “Waspadalah terhadap Sekte Baru, Sekte Pengagung Yahweh”: ”Lalu mungkin ada yang bertanya: Siapakah Pencipta itu dan bagaimanakah kalau kita mau memanggil Pencipta itu? Jawabnya: Terserah pada Anda! Mau panggil; Pencipta! Boleh! Mau panggil: Perkasa! Silahkan! Mau panggil: Debata! Boleh! Mau panggil: Allah! Boleh! Mau panggil: Elohim atau Theos atau God atau Lowalangi atau Tetemanis…! Silakan! Mau memanggil bagaimana saja boleh, asalkan tujuannya memanggil Sang Pencipta, yang menciptakan langit dan bumi… Ya, silakan menyebut dan memanggil Sang Pencipta itu menurut apa yang ditaruh oleh Pencipta itu di dalam hati Anda, di dalam hati kita masing-masing.”

Sementara itu, orang Budha pun tidak memiliki nama Tuhan tertentu. Dalam sebuah buku berjudul Be Buddhist Be Happy, ditulis: “Seorang umat Buddha meyakini adanya Tuhan Yang Maha Esa yang dikenal dengan sebutan: “Atthi Ajatam Abhutam Akatam Asamkatam“, yang artinya: Sesuatu yang tidak dilahirkan, tidak dijelmakan, tidak diciptakan, Yang Mutlak. Tuhan Yang Maha Esa  di dalam agama Buddha adalah Anatman (Tanpa Aku), suatu yang tidak berpribadi, suatu yang tidak dapat digambarkan dalam bentuk apa pun. (Jo Priastana, Be Buddhist Be Happy, (Jakarta: Yasodhara Puteri Jakarta, 2005), hlm.  28-29).

Baca: Debat Kata ‘Allah’ Mencuat Lagi

Ada nama Allah

Jadi, tentang “NAMA TUHAN”, masing-masing agama punya ajaran yang berbeda. Bagi seorang Muslim, soal NAMA TUHAN menjadi ajaran pokok, sebab nama Tuhan berasal dari wahyu, bukan hasil rekayasa manusia!  Sementara itu, dalam redaksi salam resmi Islam (Assalaamu’alaikum warahmatullahi wa-barakaatuh), tersebut dengan tegas nama “Allah”.

Nama Allah itu adalah nama Tuhan Yang Maha Kuasa dan Maha Suci. Nama itu tidak patut disandingkan dengan nama-nama lain yang tidak dikenalkan oleh Sang Pencipta itu sendiri.  Salam Islam itu bermakna: “Keselamatan semoga terlimpah Anda semua, juga semoga mendapat rahmat Allah dan berkah-Nya!”

Salam Islam itu sama sekali tidak bisa diganti dengan ungkapan lain, dengan mengganti kata Allah, atau redaksi yang lain. Misalnya diganti: “Assalaamu’alaikum warahmatu Yahweh wa barakaatu Jesus!” Orang muslim tidak mungkin berani mengganti redaksi salam yang diajarkan oleh Utusan Allah Subhanahu Wata’ala tersebut.

Karena itu,  sebagai muslim, kita sungguh TIDAK berharap, nantinya ada pemimpin bangsa yang beragama Islam – karena ingin disebut toleran dan ingin diterima semua pihak —  lalu bikin salam ‘sinkretis’:      “Keselamatan atas Anda semua, beserta rahmat Allah Subhaanahu Wa-ta’ala, dalam kasih Tuhan Jesus, di bawah lindPBBn Sang Hyang Widhi atau Yahweh, dan terpujilah Buddha, juga Tuhan apa saja yang disembah manusia di seantero Nusantara!”

Sebagai muslim dan rakyat biasa, kita hanya bisa mengajak para pemimpin kita yang muslim, untuk merenungkan makna ayat al-Quran berikut ini:  “Dan mereka mengatakan, (Allah) Yang Maha Pemurah itu punya anak. Sungguh (kalian yang menyatakan bahwa Allah punya anak), telah melakukan tindakan yang sangat munkar. Hampir-hampir langit pecah gara-gara ucapan itu dan bumi terbelah dan gunung-gunung runtuh, karena mereka menuduh Allah Yang Maha Pemurah punya anak.” (Terjemah QS Maryam: 88-91).

Sekian, semoga bermanfaat, dan mohon maaf serta terimakasih. (Depok, 25 September 2018 *

Penulis Ketua Program Doktor Pendidikan Islam–UIKA Bogor. Catatan Akhir Pekan [CAP] hasil kerjasama Radio Dakta 107 FM dan www.hidayatullah.com

Rep: Admin Hidcom

Editor: Cholis Akbar

Update aplikasi Hidcom untuk Android Sekarang juga !

Sebarkan :

Baca Juga

Umroh Akbar Arifin Ilham

Iklan Bazar