Inspirasi Ramadhan

Saat Ananda “Takut Salah Niat Khatam Qur’an 2 Kali”

Saat Ananda “Takut Salah Niat Khatam Qur’an 2 Kali”
muh. abdus syakur/hidayatullah.com
Akram membaca al-Qur'an di teras rumahnya di Depok, semasam masih duduk di bangku sekolah dasar.

ALHAMDULILLAH… Ahad, 18 Ramadhan 1439 H, bertepatan 3 Juni 2018, saya berkesempatan kembali bersua (walau) via telepon dengan jagoanku, Ananda Akram, yang akrab kami sapa “Kak Akram”.

Hampir dua bulan ini tidak ada komunikasi dengannya. Serangkaian ujian harus dilalui Ananda di Pondok. Sehingga, ustadznya selaku pengelola pondok mengambil kebijakan, untuk sementara waktu santri fokus pada pembelajaran dan penuntasan target hafalan al-Qur’an.

Ya, kami sebagai orangtua menerima keputusan ini dan cukup bersabar hingga datangnya hari ini.

Ahad itu, seperti biasalah, Abi nanya-nanya Kak Akram, bagaimana target hafalannya tercapai atau enggak? Prestasi akademik di pelajaran umumnya gimana, ada kesulitan enggak? Termasuk kami bicarakan soal persiapan kepulangannya pada Senin, 4 Juni 2018 ke Jakarta, terkait tiket, dan sebagainya.

Termasuk kami menasihati Ananda agar senantiasa menjaga kesehatan, minum madu, bla bla bla….

Ananda pun menjawab pertanyaan demi pertanyaan dengan malu-malu. Kak Akram mengaku bahwa target hafalan tercapai yakni 10 juz (hingga kelas 2).

“Alhamdulillah!” Orangtua mana yang tak mendengar kabar menggembirakan ini.

Setelah Abinya yang nanya-nanya Kak Akram, giliran Umminya yang sudah enggak sabaran pengen bicara sama anak lanangnya, hehehe…

Sambil Abinya tadarusan, sejenak mendengar percakapan Ummi dan Ananda.

Ummi : “Sudah khatam berapa kali, Kak?”

Ananda : “1 (kali), Ummi.”

Ummi : “Oohhh… Nanti dikhatamkan lagi jadi dua kali yaa, Kak…”

Ananda : “Takut salah niat, Ummi.”

Mendengar itu, Ummi tampak bingung.

Ummi : “Maksudnya salah niat gimana, Kak?”

Ananda : “Kata Ustadzku, yang khatam dua kali dapat hadiah.”

Ummi : “Yaa bagus donk, Kak, dapat hadiah kalau Kakak dua kali khatam…” Hehehe

Ananda : “Enggak mau, Ummi! Nanti bacanya enggak ikhlas karena berharap dapat hadiah dari ustadzku. In syaa Allah nanti kalau di rumah baru lanjut lagi (baca al-Qur’annya), Ummi.”

Ummi : “Oohh gitu (sambil senyum-senyum). Terus sekarang ngapain, Kak?”

Ananda : “Lagi murojaah (mengulang-ulang) dan lancarin hafalan, Ummi. Dan lanjut latihan untuk tampil menghafal Matan Jazari bersama teman-teman di acara wisuda kelas 9 pagi ini.”

Subhanallah!!! Tak terasa menetes air mata ini mendengar penuturan itu. Saya sebagai Abinya, seakan tak percaya, apa betul yang ngomong di ujung telepon sana adalah anakku, kagoanku, Kak Akram.

Kebanyakan orang senang mengerjakan sesuatu dengan iming-iming hadiah. Ternyata Kak Akram punya pemikiran yang berbeda. Pemikiran yang melebihi usianya yang baru menginjak 14 tahun (naik kelas 3 SMP).

Alhamdulillah… Dapat pelajaran hari ini dari buah hati kami tentang ilmu ikhlas, sabar, kejujuran, tidak sombong, dan totalitas dalam bekerja dan belajar.

Semoga kelak Kak Akram jadi hafizh al-Qur’an dan intelektual Muslim, mengingat sedari kecil dia senang pelajaran Matematika dan Fisika.

Terima kasih kepada seluruh Ustadz Pengelola Pondok Tahfidz Darul Hijrah Surabaya dan SMP Luqman Al Hakim PP Hidayatullah Surabaya tempat Anandaku, Muhammad Akram Al Fajr menuntut Ilmu.

Dan tentunya kepada Laznas Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Jawa Timur yang telah men-support Program Tahfidz Darul Hijrah Surabaya. Barakallahu fiikum!* Diceritakan kepada hidayatullah.com oleh Abdul Chadjib-Halik Siti Fatimah, tenaga pendidik di Depok, Jawa Barat.

Rep: Admin Hidcom

Editor: Muhammad Abdus Syakur

Update aplikasi Hidcom untuk Android Sekarang juga !

Sebarkan :

Baca Juga

Umroh Akbar Arifin Ilham

Gedung PPH