Mutiara Ramadhan

Meraih Keberkahan Maksimal di Akhir Ramadhan

Meraih Keberkahan Maksimal di Akhir Ramadhan
Muh. Abdus Syakur/hidayatullah.com
Membaca Al-Qur'an melalui perangkat digital di Masjid Baitul Karim, Jakarta Timur, 16 Mei 2019 (Ramadhan 1440H).

Oleh: Alim Puspianto

 

Hidayatullah.com | RAMADHAN hanya tinggal hitunga hari. Artinya, kesempatan untuk meraih kemuliaan ini semakin sempit. Tidak ada pilihan untuk segenap kaum Muslimin yang mengharapkan kesuksesan pada bulan Ramadhan tahun ini, kecuali harus tetap gigih dalam beribadah, hingga akhir Ramadhan nanti. Jangan sampai kendor.

Lantas, amalan apa yang harus mendapat porsi lebih di masa ‘injury time’ Ramadhan seperti saat ini?  Bila kita perhatikan kondisi kekinian, tak berlebih kiranya bila sedekah/infak/shodaqoh meniadi amalan yang diprioritaskan sebelum tutupnya bulan penuh rahmat ini.

Efek Pandemi

Ramadhan tahun ini sedikit berbeda dengan tahun tahun sebelumnya. Dimana Ramadhan kali ini harus kita lalui bersama dengan pandemi corona yang sedang melanda. Namun demikian, kemulyaan dan keberkahan ramadhan tidak akan berkurang sedikitpun. Layaknya intan berlian yang berada ditengah kubangan lumpur nilainya tidak akan berkurang, bahkan tetap akan dicari meski harus bersusah payah.

Hampir semua sendi sendi kehidupan terkena efek dari penyebaran virus mematikan ini. Sebagaimana kita saksikan bersama bahwa bencana non alam ini menuntut sebagian pabrik merumahkan tenaga kerjaan, sekolah sekolah meliburkan para muridnya, pasar dan mall sepi karena masyarakat takut keluar rumah. Hiruk pikuk tempat wisata, terminal, pelabuhan dan tempat umum lainnya juga tidak bisa kita saksikan karena adanya himbauan sosial distance dan physical distance. Kondisi tersebut membuat stagnasi perekonomian secara nasional. Banyak orang miskin semakin miskin, bahkan tidak sedikit orang yang tadinya berkecukupan menjadi “tak punya” karena kehilangan pekerjaannya.

Ditambah lagi dengan pemberlakuan kebijakan PSBB di beberapa wilayah menjadikan kondisi masyarakat semakin gamang. bagaimana tidak, mereka mau tetap bertahan di kota sementara uang sudah tidak ada, mau mudik tidak dibolehkan dan tiap perbatasan kota dijaga ketat oleh petugas. Kalaupun ada yang lolos sampai di desa, mereka harus di karantina 14 hari lamanya. Balada “tidak pulang rindu, pulang malu dan takut” kayanya benar adanya. malu karena tidak membawa cukup uang untuk merayakan lebaran bersama keluarga dan takut terjangkit virus corona. Sungguh sebuah kondisi yang sangat memprihatinkan sedang kita saksikan bersama.

Solusu dan Menyucikan

Kondisi sebagaimana diatas seakan memaksa kita untuk membuka mata lebar lebar. Sekarang dan beberapa bulan kedepan, jiwa kepedulian diantara kita harus benar benar dihidupkan dan ditumbuh kembangkan. Dimana kita saksikan banyak orang meminta hanya demi menyambung kelangsungan hidup mereka.. Masyarakat sangat membutuhkan uluran tangan dari para orang yang berpunya. Sekaranglah saatnya kita mengaktifkan sensor kedermawanan kepada sesama. Karena sunguh kepedulian dan kehadiran kita sangat dinantikan oleh mereka.

Yakinlah bahwa dengan kita berbagi kepada sesama, tidak akan berkurang sedikitpun  dari harta yang kita punya. Allah SWT malah melipatgandakannya, sebagaimana firmanNya:

مَّثَلُ ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَٰلَهُمْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِى كُلِّ سُنۢبُلَةٍ مِّا۟ئَةُ حَبَّةٍ ۗ وَٱللَّهُ يُضَٰعِفُ لِمَن يَشَآءُ ۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ

Perumpamaan (Nafkah yang dikeluarkan oleh) orang orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah maha luas karuni nya lagi maha mengetahui” (QS: Al-Baqarah: 261)

Terlebih di momen akhir Ramadhan seperti sekarang ini. Dimana setiap Muslim tidak hanya dianjurkan untuk berinfaq tapi diwajibkan juga untuk mengeluarkan zakat. Tentunya kewajiban zakat ini harus kita sadari sebagai pembersih harta dan menyucikan jiwa. Sehingga ketika mengeluarkannya kita bisa benar benar ikhlas dan tidak ada sedikitpun rasa berat dan terpaksa.

Jika semua umat Islam sadar akan kewajiban dan manfaat dari zakat ini maka sudah barang tentu potensi zakat di Indonesia yang nominalnya sampai 2,8 T bisa termaksimalkan. Sebagaimana disampaikan oleh Wahyu Kuncahyo, Direktur Operasi Baznas (dilansir oleh Kompas.com). Kalau tahun sebelumnya banyak orang yang belum sadar dan seakan kurang peduli untuk mengeluarkan zakatnya maka tahun ini mari kita keluarkan zakat kita.

Kesadaran berzakat harus senantiasa didengungkan, lebih lebih dimasa pandemi seperti sekarang ini. Karena selain zakat merupakan ibadah yang berdimensi vertikal, zakat juga mempunyai dimensi horisontal. Maksudnya adalah zakat berdampak ganda selain berdampak kepada pelakunya secara pribadi, zakat juga berdampak kepada kehidupan sosial kemasyarakatan. Keberadaan dana zakat pasti sangat membantu dan bisa mengurangi penderitaan masyarakat yang terdampak Covid 19.

Jika pada kondisi ini saja hati orang orang kaya belum terpanggil untuk mengeluarkan sebagian kecil hartanya. Mungkin hatinya memang benar benar sudah mati rasa. Sensor kepedualian mereka sudah tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Disaat realita disekelilingnya sangat membutuhkan uluran tangannya, mereka tetap tidak bergeming. Atau mungkin ujian dan teguran ini belum cukup untuk membukakan mata hatinya. Apakah perlu diuji atau diberi teguran secara khusus sehingga mereka tersadar dari tidur panjangnya.

Semoga diakhir Ramadhan yang penuh berkah ini Allah SWT membukakan pintu pintu hati orang yang berpunya untuk mau menunaikan zakatnya. Sehingga potensi zakat yang ada bisa termaksimalkan. Terakhir mari kita tunjukkan bahwa konsep zakat yang mampu mensejahterakan kehidupan masyarakat itu benar dan nyata, tidak hanya wacana atau isapan jempol belaka.*

Pengurus Pemuda Hudayatullah Jawa Timur

Rep: Insan Kamil

Editor: Insan Kamil

Update aplikasi Hidcom untuk Android Sekarang juga !

Sebarkan :

Baca Juga

Dompet Dakwah Media