Syiar Ramadhan

“Pesantren” Punk Muslim Cetak Anak-anak Jalanan Jadi Muslim Lebih Baik

“Pesantren” Punk Muslim Cetak Anak-anak Jalanan Jadi Muslim Lebih Baik
Punk Muslim, Anak Jalanan Juga Cinta Agama Dan Bukan Tukang Minta-minta

Hidayatullah.com–Warna-warni Ramadhan 2012 ternyata tidak juga ingin disia-siakan oleh komunitas Punk Muslim. Komunitas yang didirikan pada tahun 2007 tak bisa melupakan makna kehidupan jalanan dalam dirinya. Memasuki era generasi ketiga kaderisasinya, Punk Muslim mengadakan kegiatan “Punksantren Jalanan”. Kegiatan Punksantren yang merupakan plesetan dari kata pesantren ini diadakan dari hari Jum’at-Senin (10-14/08/2012).

“Tujuan acara ini sih sederhana, kami hanya mau merekrut sebanyak-banyaknya anak punk dan anak-anak jalanan untuk rehat sebentar dari kehidupan jalanan dan menikmati bekal agama sebelum mereka melanjutkan hidup setelah idul fitri nanti,” jelas Ahmad Zaki, salah satu pembina Punk Muslim kepada hidayatullah.com (16/08/2012).

Perekrutan anak-anak Punk dan jalanan inipun terbilang cerdas. Biasanya, Punk Muslim memberikan bantuan advokasi kepada teman-temannya yang terkena razia Polisi Pamong Praja (Pol PP). Setelah membebaskan mereka dari penjara Pol PP. Punk Muslim lantas menyuruh anak-anak ini tinggal dan menetap di markas mereka. Markas Punk Muslim sendiri ada di dekat terminal Pulo Gadung Jakarta Timur.

Dari strategi ini, alhamdulillah angkatan ketiga Punk Muslim telah bertambah. Sebanyak 40 anak-anak jalanan dan street Punk telah bergabung menjadi anggota baru. Walau tidak mudah untuk membina mereka menjadi seorang Muslim yang baik. Punk Muslim sendiri melihat ada perubahan secara pelan-pelan.

“Ya Alhamdulillah, pelan-pelan ada yang berhenti pakai obat-obatan. Berhenti mabuk-mabukan. Kalau ngamen sih agak susah. Karena itu memang mata pencaharian kita,” jelas Luthfi,  anggota senior Punk Muslim menjelaskan mengenai adik-adiknya yang baru bergabung tersebut.

Acara Punksantren ini sendiri semakin semarak dengan kehadiran Ustad Ahmad Rosyidin. Ahmad Rosyidin selain dikenal sebagai guru spiritual penyanyi pop religi Opick. Ia juga termasuk yang peduli dengan dakwah jalanan ini.

Hal berkesan dalam acara Punksantren ini adalah ketika melihat para peserta ini melakukan tahajud. Pertarungan antara rasa malas, ngantuk dan keinginan untuk berubah begitu terasa. Banyak peserta yang tidak bisa diam saat mengikuti lantunan ayat Qur’an saat sholat tahajud berjamaah.

“Ya gitu deh, namanya juga baru pertama kali, ada yang garuk-garuk leher, lirak lirik kanan kiri, gemes karena Imam nggak rukuh rukuh..hahhahaha.. tapi seru karena mereka ikut sampai tahajud selesai,” jelas Zaki sambil tertawa menemani haru menceritakan bagaimana perlawanan diri anak-anak Punk Muslim.

Yang tidak kalah serunya, setelah tahajud ada sesi muhasabah. Biasanya kalau sesi Muhasabah ini ustad akan mengajak peserta merenung tentang kematian dan tujuan hidup. Bukannya pada khusyu’, tidak ada angin dan tidak ada hujan para peserta banyak yang kesurupan.

“Padahal panitia nggak nyiapin sesi ruqyah jin, pada bingung waktu itu semua panitia,” jelas Luthfi menambahkan bagaimana kejadian di acara yang diadakan di Sanggar Creatif Anak Bangsa, Kelurahan Pisangan Ciputat Tangerang Selatan tersebut.

Alhamdulillah, salah satu pembicara Ustad Junaedi ternyata seorang ahli ruqyah jin. Setelah dibacakan ayat-ayat Al Qur’an alhamdulillah anak-anak yang kesurupan pun bisa sembuh kembali.

“Jin jalanannya pada nggak suka kali ya..,” celetuk Zaki lagi.

Tidak Bolong

Selain kajian keislaman, kegiatan curhat dan motivasi, acara ini juga mengagendakan sahur bersama. Bukan hanya di antara para peserta. Sahur bersama ini diadakan selain di daerah Ciputat juga di terminal Pulo Gadung. Termasuk kegiatan sebar makanan untuk buka bersama. Hebatnya lagi, sebagian besar biaya kegiatan ini didapatkan dari hasil mengamen para anggota.

“Ya semua biaya ada yang dari donatur, sebagian besar dari kolekan (patungan) anak-anak dari hasil mengamen. Kita juga bisa dong membuktikan semangat tangan di atas. Anak jalanan bukan berarti nggak bisa hidup mandiri kan?” ujar Lutfhi kepada hidayatullah.com.

Tidak sedikit dari sentuhan dakwah Punk Muslim ini. Anak-anak jalanan dan Punk berubah. Di antara perubahan mendasar dalam diri mereka adalah berhenti mabuk-mabukan. Mulai dari menghirup lem aibon hingga kecanduan alkohol dan ganja.

Seluruh anggota Punk Muslim generasi ketiga ini saat ini dipastikan sudah meninggalkan budaya buruk tersebut. Mereka justru rajin melakukan shalat lima waktu, di antara panas terik matahari mengamen mencari nafkah. Puasa Ramadhan kali ini, mereka pun tidak ada yang bolong.*

Rep: Thufail Al Ghifari

Editor: Cholis Akbar

Update aplikasi Hidcom untuk Android Sekarang juga !

Sebarkan :

Baca Juga

Umroh Akbar Arifin Ilham

Gedung PPH