Analisis
Dompet Dakwah Media

Perang di Afghanistan, Sebuah “Perang Sumber Daya Alam”

Perang di Afghanistan,  Sebuah “Perang Sumber Daya Alam”
The Nation
Tentara Amerika Serikat di Afghanistan.

Sambungan artikel PERTAMA | DUA | TIGA

“Ada potensi yang menakjubkan di sana,” Jenderal David H. Petraeus, komandan di Komando Pusat Amerika Serikat, mengatakan… “Terdapat banyak dari itu, pastinya, tetapi saya pikir secara potensial mineral sangat penting,” katanya lagi.

Nilai dari cadangan mineral yang baru-baru ini ditemukan menkerdilkan ukuran ekonomi berantakan serta perang Afghanistan, yang sebagian besar bertumpu pada produksi opium dan perdagangan narkotika serta bantuan dari Amerika Serikat dan negara-negara industri lainnya. Keuntungan kotor produk domestik Afghanistan hanya sekitar $12 miliar.

“Ini akan menjadi tulang punggung ekonomi Afghanistan,” kata Jalil Jumriany, seorang penasihat menteri pertambangan Afghanistan. (New York Times, op. cit.)

Afghanistan, menurut The New York Times, bisa menjadi  “Arab Saudinya lithium”. “Lithium merupakan sebuah sumber daya yang semakin penting, digunakan dalam baterai untuk semua hal dari telefon genggam hingga laptop dan kunci masa depan untuk mobil listrik.”

Saat ini Chile, Australia, China dan Argentina merupakan penyuplai utama lithium ke pasar dunia. Bolivia dan Chile merupakan negara yang diketahui memiliki cadangan lithium terbesar.

“Pentagon telah melakukan Survei lapangan di Afghanistan barat. “Pejabat Pentagon mengatakan analisis awal mereka di satu lokasi di provinsi Ghazni menunjukkan potensi simpanan lithium sebesar yang ada di Bolivia” (U.S. Identifies Vast Mineral Riches in Afghanistan – NYTimes.com, 14 Juni, 2010, lihat juga Lithium – Wikipedia, the free encyclopedia)

Mineral di Afghanistan: “Simpanan yang Sebelumnya Tidak Diketahui”

“Perkiraan” Pentagon yang mendekati satu triliun dollar dari “simpanan yang tidak diketahui” sebelumnya merupakan sebuah tirai yang berguna. Perhitungan satu triliun dollar Pentagon lebih merupakan sebuah angka palsu daripada sebuah perkiraan: “Kami melihat apa yang kami ketahui ada di sana, dan bertanya berapa nilainya hari ini dalam bentuk dollar. Jumlah satu triliun dollar tampak layak diberitakan.” (The Sunday Times, London, 15 Juni 2010).

Selain itu, jumlah dari sebuah studi Survei Geologi AS (yang dikutip di memo Pentagon) mengenai kekayaan mineral Afghanistan telah dibeberkan tiga tahun sebelumnya, pada sebuah Konferensi 2007 yang diorganisir oleh Dewan Dagang Afghanistan-Amerika.

Namun, persoalan kekayaan mineral Afghanistan tidak dianggap topik yang menarik saat itu.

Pengakuan Administrasi AS yang mengatakan baru pertama kali mengetahui kekayaan mineral yang besar Afghanistan setelah dirilisnya laporan USGS 2007 merupakan jelas-jelas sebuah pengalih perhatian. Kekayaan mineral dan sumber daya energi Afghanistan (termasuk gas alam) sudah diketahui baik oleh elit bisnis Amerika dan pemerintah Amerika sebelum perang Soviet-Afghanistan (1979-1988).

Survei geologi yang dilakukan oleh Uni Soviet pada 1970-an dan awal 1980an memastikan adanya cadangan besar tembaga (diantara yang terbesar di Eurasia), besi, biji kromium berkualitas tinggi, uranium, beryl, barit, timbal, seng, fluorspar, bauksit, lithium, tantalum, intan, emas dan perak. (Afghanistan, Mining Annual Review, The Mining Journal, June, 1984).

Baca: Pasca 2014 Ribuan Tentara Amerika Tetap Bercokol di Afghanistan

Survei-survei ini menunjukkan bahwa nilai aktual dari cadangan ini memang bisa lebih besar dari “perkiraan” satu triliun dollar yang dinyatakan oleh studi Pentagon-USGC-USAID.

Seorang pria memeriksa batu biru langka di sebuah toko di Kabul | Pegunungan Afghanistan menyimpan sebanyak $ 1 triliun -$ 3 triliun sumber daya mineral, termasuk lapis lazuli yang terkenal di dunia [AP]

Baru-baru ini, dalam sebuah laporan tahun 2002, Kremlin memastikan apa yang sudah diketahui; “Bukan lagi sebuah rahasia kalau Afghanistan memiliki cadangan sumber daya yang kaya, khususnya tembaga di Aynak, biji besi di Khojagek, uranium, biji polymetalic, minyak dan gas,” (RIA Novosti, 6 Januari, 2002):

“Afghanistan tidak pernah menjadi koloni siapapun – tidak ada orang asing yang pernah “menggali” di sini sebelum tahun 1950-an. Pegunungan Hindu Kush, terbentang, bersama dengan kaki-kaki gunung mereka, di atas daerah yang luas di Afghanistan, merupakan di mana mineral-mineral itu tersimpan. Lebih dari 40 tahun lalu, beberapa lusin penyimpanan mineral telah ditemukan di Afghanistan, dan sebagian besar dari penemuan ini sensasional. Mereka tetap dirahasiakan, tetapi meski begitu beberapa fakta tertentu baru-baru ini diketahui.

Ternyata Afghanistan memiliki cadangan logam ferro dan nonferro serta batu mulia, dan, jika dieksploitasi, mereka akan mungkin menutupi pemasukan bahkan dari industri narkoba. Simpanan tembaga di Aynak di Provinsi Helmand timur Afghanistan dikatakan menjadi yang terbesar di benua Eurasia, dan lokasinya (40 km dari Kabul) membuatnya murah untuk dikembangkan. Simpanan bijih besi di Hajigak di Provinsi Bamian tengah menghasilkan bijih dengan kualitas yang luar biasa tinggi, yang diperkirakan memuat 500m ton. Sebuah simpanan batu bara juga telah ditemukan tidak jauh dari sana.* >>> Bersambung artikel >> DUA | TIGA

Rep: Nashirul Haq AR

Editor: Cholis Akbar

Dukung Kami, Agar kami dapat terus mengabarkan kebaikan Lebih lanjut, Klik Dompet Dakwah Media Sekarang!

Update aplikasi Hidcom untuk Android Sekarang juga !

Sebarkan :

Baca Juga

Rumah Wakaf

Rumah Wakaf