Analisis
Dompet Dakwah Media

Perang di Afghanistan, Sebuah “Perang Sumber Daya Alam”

Perang di Afghanistan,  Sebuah “Perang Sumber Daya Alam”
The Nation
Tentara Amerika Serikat di Afghanistan.

Sambungan artikel PERTAMA | DUA | TIGA

Afghanistan disebut-sebut sebagai sebuah negara transit bagi minyak dan gas. Namun, hanya sedikit orang mengetahui bahwa para spesialis Soviet menemukan cadangan gas yang besar di sana pada tahun 1960an dan membangun jalur pipa gas pertama di negara itu untuk menyuplai gas ke Uzbekistan. Pada masa itu, Uni Soviet biasa menerima 2,5 miliar kubik gas Afghanistan setiap tahunnya. Pada periode yang sama, cadangan besar emas, flourit, barit dan marmer onyx yang memiliki sebuah pola yang sangat langka ditemukan.

Namun, medan pegmatit yang ditemukan di Kabul timur merupakan kegemparan yang sebenarnya. Batu delima, beryllium, zamrud dan batu kunzite dan hiddenite tidak dapat ditemukan dimanapun. Endapan batu mulia ini terbentang hingga ratusan kilometer. Juga, bebatuan yang mengandung logam langka beryllium, thorium, lithium dan tantalum tidak kalah penting (digunakan untuk konstruksi pesawat udara dan luar angkasa).

The war is worth waging. … (Olga Borisova, “Afghanistan – the Emerald Country”, Karavan, Almaty, original Russian, translated by BBC News Services, Apr 26, 2002. p. 10, emphasis added.)

Sementara opini publik dipenuhi oleh gambar-gambar negara berkembang tanpa sumber daya yang dilanda perang, kenyataannya malah sebaliknya: Afghanistan merupakan sebuah negara kaya seperti yang dipastikan oleh survei-survei geologi di era Soviet.

Tentara AS di ladang opium Afghan | Markas militer AS di Afghanistan juga diniatkan untuk melindungi perdagangan narkotik bernilai milyaran [Globar Research]

Isu mengenai “cadangan sumber daya yang sebelumnya tidak diketahui” menopang kebohongan itu.

Kebohongan tersebut tidak menyertakan kekayaan mineral luas Afghanistan sebagai penyebab perang yang dapat dibenarkan. Dikatakan Pentagon hanya baru-baru ini mengetahui bahwa Afghanistan merupakan salah satu diantara dari ekonomi-ekonomi mineral paling kaya Dunia, sebanding dengan Republik Demokratik Kongo atau bekas Zaire pada era Mobutu.

Laporan-laporan geopolitik Soviet  telah diketahui. Selama Perang Dingin, semua informasi ini telah diketahui secara detil:

. . . Eksplorasi Soviet yang luas menghasilkan peta geologi dan laporan luar biasa yang mencatat lebih dari 1,400 singkapan mineral, serta 70 lapisan endapan yang layak diperdagangkan … Uni Soviet setelah itu melakukan eksplorasi dan pengembangan sumber daya di Afghanistan senilai lebih dari $650 juta, dengan mengusulkan proyek-proyek termasuk sebuah kilang minyak yang dapat memproduk setengah juta tons per tahun, serta sebuah kompleks peleburan untuk cadangan sumber daya Ainak yang kala itu telah menghasilkan 1,5 juta ton tembaga per tahun. Setelah mundurnya Soviet sebuah analisis Bank Dunia memproyeksikan bahwa produksi tembaga Ainak sendiri terhitung 2 persen dari pasar dunia tahunan. Negara itu juga dikaruniai dengan cadangan batu bara yang besar, salah satunya, lapisan besi Hajigak, di daerah pegunungan Hindu Kush sebelah barat Kabul, dinilai sebagai salah satu endapan bermutu tinggi terbesar di dunia. (John C. K. Daly,  Analysis: Afghanistan’s untapped energy, UPI Energy, 25 Oktober 2008)

Gas Alam Afghanistan

Afghanistan merupakan sebuah jembatan darat. Invasi dan pendudukan 2001 yang dipimpin AS terhadap Afghanistan telah dianalisis oleh kritik-kritik kebijakan luar negeri AS sebagai sebuah sarana untuk mendapatkan kontrol atas koridor transportasi trans-Afghan yang menghubungkan laut Kaspia dengan laut Arab.

Beberapa proyek jalur pipa gas dan minyak trans-Afghan telah dipikirkan termasuk perencanaan proyek pipa TAPI (Turkmenistan, Afghanistan, Pakistan, India) senilai $8 miliar dan memiliki panjang 1900 km., yang akan mengirimkan gas alam Turkmenistan melalui Afghanistan dalam apa yang disebut sebagai sebuah “koridor transit krusial”. (Lihat Gary Olson, Afghanistan has never been the ‘good and necessary’ war; it’s about control of oil, The Morning Call, 1 Oktober 2009).

Baca: Amerika Mengincar Kandungan Alam Berharga di Afghanistan

Ekskalasi militer di bawah perang Af-Pak memiliki hubungan dengan TAPI. Turkmenistan memiliki cadangan gas alam terbesar ketiga setelah Rusia dan Iran. Kontrol strategis atas rute transportasi dari Turkmenistan telah menjadi bagian dari agenda Washington sejak runtuhnya uni Soviet di tahun 1991.

Apa yang jarang dipikirkan dalam geopolitik jalur pipa, ialah bahwa Afghanistan tidak hanya berdekatan dengan negara-negara yang kaya minyak dan gas alam (contohnya Turkmenistan), Afghanistan juga memiliki di dalam wilayahnya cadangan besar gas alam, batu bara dan minyak yang belum dimanfaatkan. Perkiraan Soviet pada 1970an menempatkan “Cadangan gas Afghanistan ‘yang dieksplorasi’ (terbukti dan mungkin) sekitar 5 triliun kaki kubik. Cadangan awal Hodja-Gugerdag ditempatkan lebih sedikit dari 2 triliun kaki kubik.” ( The Soviet Union to retain influence in Afghanistan, Oil & Gas Journal, Mei 2, 1988).

Administrasi Informasi Energy (EIA) AS mengakui pada 2008 bahwa cadangan gas alam Afghanistan “substansial”:

 “Karena Afghanistan utara ialah sebuah ‘perpanjangan selatan dari Asia Tengah yang sangat produktif, gas alam Sungai Amu, ‘Afghanistan ‘telah terbukti, sangat mungkin dan kemungkinan besar cadangan gas alam berkisar diantara 5 triliun kaki kubik. (UPI, John C.K. Daly, Analysis: Afghanistan’s untapped energy, 24 Oktober  2008)

Dari awal perang Afghanistan-Soviet pada tahun 1979, tujuan Washington ialah untuk mempertahankan pijakan geopolitik di Asia Tengah.

Bulan Sabit Emas Perdagangan Obat-obatan

Perang rahasia Amerika, yaitu dukungan mereka pada mujahidiin “Pejuang kebebasan”  juga diarahkan pada pengembangan perdagangan Golden Crescent di apiun, yang digunakan oleh intelijen AS untuk mendanai pemberontakan yang diarahkan pada Soviet.

(Catatan, perdagangan Bulan Sabit Emas di opium, saat ini, merupakan pusat dari ekonomi ekspor Afghanistan. Perdagangan heroin, yang dibangun pada awal perang Soviet-Afghanistan pada 1979 dan dilindungi oleh CIA, menghasilkan pemasukan tunai di pasar-pasar Barat lebih dari $200 miliar dollar setiap tahun

Sejak invasi AS 2001, produksi narkotika di Afghanistan telah meningkat lebih dari 35 kali lipat. Pada 2009, produksi opium mencapai 6900 ton, dibandingkan pada 2001 yang hanya kurang dari 200 on. Dalam kasus ini, pendapatan multimiliar dollar yang dihasilkan dari produksi opium Afghanistan sebagian besar terjadi di luar Afghanistan. Menurut data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), perdagangan obat-obatan yang sampai ke ekonomi lokal hanya sekitar 2 miliar pertahunnya.

Kontras dengan perdagangan heroin Dunia mencapai lebih dari $200 miliar  yang dihasilkan dari pembelian opium Afghanistan. (lihat: Michel Chossudovsky, America’s War on Terrorism”, Global Research, Montreal, 2005)

Didirikan pada awal perang Afghanistan-Soviet dan dilindungi oleh CIA, perdagangan narkoba dikembangkan selama bertahun-tahun hingga menjadi usaha bernilai miliaran dollar yang sangat menguntungkan. Hal tersebut menjadi landasan perang tersembunyi Amerika pada tahun 1980an. Hari ini,di bawah pendudukan AS-NATO, perdagangan obat-obatan menghasilkan pendapatan tunai di pasar Barat lebih dari $200 miliar dollar setiap tahun. (Michel Chossudovsky, America’s War on Terrorism, Global Research, Montreal, 2005. Juga Michel Chossudovsky, Heroin is “Good for Your Health”: Occupation Forces support Afghan Narcotics Trade, Global Research, 29 April  2007)

Melalui Perampasan Ekonomi

Media AS, dengan serentak, menguatkan “penemuan baru-baru ini” dari kekayaan mineral Afghanistan serta “sebuah solusi” untuk mengembangkan ekonomi negara yang pecah karena perang itu serta untuk menghapuskan kemiskinan. Invasi dan penjajahan 2001 AS-NATO telah menciptakan panggung untuk kedermawanan para konglomerat pertambangan dan energi Barat.

Perang di Afghanistan merupakan sebuah keuntungan yang mendorong “perang sumberdaya”

Di bawah penjajahan AS dan sekutunya, kekayaan mineral ini direncanakan akan dijarah (setelah negara itu ditaklukkan) oleh tangan-tangan konglomerat pertambangan multinasional.

Menurut Olga Borisova, yang menulis beberapa bulan setelah invasi Oktober 2001, “perang [pimpinan AS] terhadap terorisme [akan bertransformasi] menjadi sebuah kebijakan kolonial yang mempengaruhi sebuah negara yang kaya raya.” (Borisova, op cit).

Bagian dari agenda AS-NATO ialah juga pada akhirnya untuk mengambil alih kepemilikan cadangan gas alam Afghanistan, serta mencegah pengembangan kepentingan energi Rusia, Iran dan China yang berkompetisi di Afghanistan.*

Artikel asli berjudul “The War is Worth Waging”: Afghanistan’s Vast Reserves of Minerals and Natural Gas ini diterbitkan ulang globalresearch.ca

 

Rep: Nashirul Haq AR

Editor: Cholis Akbar

Dukung Kami, Agar kami dapat terus mengabarkan kebaikan Lebih lanjut, Klik Dompet Dakwah Media Sekarang!

Update aplikasi Hidcom untuk Android Sekarang juga !

Sebarkan :

Baca Juga

Rumah Wakaf

Rumah Wakaf