Ragam

Kesaksian Pembantaian Deir Yassin yang Disensor

Kesaksian Pembantaian Deir Yassin yang Disensor
shms

Hidayatullah.com— Dina Elmuti, seorang pekerja sosial yang meneliti dampak trauma pada anak-anak di Palestina menceritakan tentang peristiwa pembantaian Deir Yassin yang dialami neneknya. Neneknya adalah salah seorang yang selamat dari pembantaian Deir Yassin pada tahun 1948.

Kamis, 8 April 1948 berlalu seperti layaknya sebuah desa kecil yang sunyi. Nenek saya dan adik perempuannya telah pulang sekolah dan sedang menyelesaikan pekerjaan rumah berjudul Asri’ (segera: dalam bahasa Arab). Seperti anak-anak yang seusia dengannya, ia bersemangat menyelesaikan tugasnya agar bisa menikmati libur pada keesokan harinya. Namun semangat ini tidak bertahan lama.

Akan tetapi, segalanya berubah ketika pada hari Jum’at, 9 April 1948, organisasi teroris Zionis bernama Kelompok Irgun dan Stern menyerbu desa dan membantai begitu banyak orang. Warga lanjut usia, wanita hamil, dan anak-anak pun ikut dibantai oleh organisasi teroris tersebut.

Seluruh keluarga dengan terburu-buru berusaha melarikan diri dari gelombang teror. Mereka meninggalkan rumah untuk menyelamatkan diri. Pada Jum’at subuh, hidup mereka berubah. Deir Yassin pun tidak akan pernah seperti dulu lagi.

Jum’at, 9 April 1948 adalah tanggal yang selamanya berasosiasi dengan kesedihan. Peristiwa Deir Yassin adalah titik balik dalam sejarah Palestina, sebuah simbol perampasan dan pembantaian yang amat kejam terhadap kemanusiaan.

Para ayah, kakek, saudara dan anak laki-laki berdiri di sepanjang tembok dan dihujani tembakan. Guru-guru kami tersayang dimutilasi dengan brutal memakai pisau. Para ibu dan saudara perempuan disandera, sementara mereka yang selamat dan kembali ke rumah mendapati jalan-jalan desa berubah menjadi kolam darah. Dalam waktu semalam, masa kecil mereka direnggut. Dinding-dinding rumah yang dulu menjadi saksi sebuah kehangatan, gelak tawa dan kegembiraan kini dipenuhi darah dan menyisakan trauma. Nenek saya kehilangan 37 anggota keluarganya pada hari itu, ujar Dina Elmuti sebagaimana diceritakan kepada Electronic Intifada.

Baca: Peringatan 65 Tahun Pembantaian Deir Yasin

Para pemuda diikat ke pohon dan dibakar. Sedang wanita dan orang tua ditembak dari belakang. Anak perempuan dibariskan menghadap tembok dan ditembak dengan senapan mesin. Desa yang terkenal dengan suasananya yang damai dan industri penggalian batu, menjadi cacatan bersejarah kekejaman organisasi Yahudi.

Mengungkap Fakta

Sebuah kesaksian pernah dikumpulkan oleh filmmaker Neta Soshani tentang pembantaian di sebuah desa berpenghuni 750 orang di dekat kota Al-Quds Terjajah dan pemukiman Yahudi Givat Shaul ini pernah diproses  bahkan 70 tahun setelah fakta terungkap.

Sudah beberapa tahun sebuah dokumen yang berat untuk dibaca telah tergeletak di arsip asosiasi untuk memperingati warisan dari Lehi (Stern Gang) – Petempur yang terlibat pembantaian tersebut.

Dokumen itu ditulis oleh seorang anggota dari milisi underground itu 70 tahun lalu. Membacanya dapat membuka luka berdarah dari hari-hari Perang Arab-Israel 1948 yang sampai saat ini menimbulkan banyak menghancurkan banyak sendi kehidupan masyarakat Palestina.

“Bersama dengan Etzel – akronim dari Organisasi Militer Nasional, juga dikenal dengan Irgun, milisi underground, pimpinan Menachem Begim – gerakan kami melancarkan sebuah operasi besar-besaran untuk menduduki desa Arab di jalur Jerusalem-Tel Aviv – Deir Yassin. Saya berpartisipasi dalam operasi ini dalam cara yang paling aktif,” tulis Yehuda Feder, yang julukannya di Lehi (juga dikenal sebagai Stern Gang) ialah Giora sebagaimana pernah dikutip koran Israel, Haaretz.

Milisi pendukung ‘Negara palsu’ Israel saat menduduki desa Deir Yassin, April 1948. [Arsip IDF / dari film ‘Lahir di Deir Yassin’]

Lebih jauh dalam tulisan tersebut, dia menjelaskan secara detail perannya dalam pembantaian yang terjadi di sana.

“Ini merupakan pertama kalinya dalam hidup saya bahwa di hadapan saya dan di tangan saya orang-orang Arab mati. Di desa itu saya membunuh seorang pria Arab bersenjata dan dua gadis Arab berumur 16 atau 17 yang membantu pria Arab yang menembak. Saya menempatkan mereka menghadap tembok dan memberondong mereka dengan dua putaran Tommy Gun,” tulisnya, menggambarkan bagaimana dia melakukan eksekusi anak perempuan dengan senapan mesin ringan.

Selain itu, dia menceritakan tentang penjarahan di desa dengan rekan-rekannya setelah desa itu diduduki.

“Kami menyita banyak sekali uang dan perhiasan perak dan emas jatuh ke tangan kami, tulisnya. Dia menutup tulisan itu dengan kata-kata: Ini adalah operasi yang benar-benar luar biasa dan ini dengan alasan bahwa pihak kiri memfitnah kita lagi.”

Tulisan ini merupakan salah satu dari dokumen bersejarah yang diungkap dalam film dokumentasi berjudul Born in Deir Yassin oleh Neta Shoshani, yang mengabdikan beberapa tahun terakhir hidupnya untuk penelitian bersejarah menyeluruh atas pembantaian Deir Yassin, salah satu insiden konstitutif Perang Arab-Israel 1948, yang tetap menjadi noda di ‘Israel’ hingga hari ini.

Sebelum pemutaran perdana film itu di Festival Film Jerusalem, Shoshani memperlihatkan Haaretz kesaksian-kesaksian yang telah dia kumpulkan mengenai insiden itu, hasil dari penggalian luas di arsip-arsip serta wawancara mendalam dengan partisipan insiden itu yang masih hidup. Beberapa dari mereka yang telah diam selama berdekade akhirnya berbicara padanya, seringkali untuk yang pertama kalinya di depan kamera.

Baca: Palestina dalam Nubuwat Akhir Zaman

Serangan pada desa Deir Yassin dimulai pada pagi 9 April, 2948, sebagai bagian dari Operation Nachshon untuk menjebol jalan yang diblokade ke Jerusalem (Baitul Maqdis), dengan partisipasi sekitar 130 gerombolan petempur Lehi dan Irgun yang menerima bantuan dari Haganah – paramiliter Zionis Yahudi pra-Israel.

Mereka mengalami perlawan keras dan tembakan penembak jitu dan maju perlahan melalui jalanan desa sembari melemparkan granat dan menghancurkan rumah-rumah.

Empat partisipan terbunuh dan lusinan luka-luka. Jumlah penduduk Arab yang terbunuh di sana dan keadaan kematian mereka diperdebatkan selama bertahun-tahun, tetapi sebagian besar peneliti menyatakan bahwa 110 penduduk desa, diantara mereka wanita, anak-anak dan orang tua, terbunuh di sana.

Mereka lari seperti kucing, komandan operasi itu, Yehoshua Zettler, komandan Lehi Jerusalem, menggambarkan warga Arab Palestina yang meninggalkan rumah mereka. Shoshani mewawancarainya pada tahun 2009, beberapa minggu sebelum kematiannya.

Zettler menyangkal orang-orangnya melakukan pembantaian di desa itu namun dia tidak mengatakan apapun untuk menjelaskan cara penduduk terbunuh.

“Saya tidak akan memberitahu Anda bahwa kami berada di sana dengan hati-hati. Rumah demi rumah … kami meletakkan peledak dan mereka berlarian. Terjadi ledakan dan maju, terjadi ledakan dan maju dan dalam beberapa jam, setengah desa itu tidak ada lagi,” katanya.* >>> (Bersambung)

Rep: Admin Hidcom

Editor:

Update aplikasi Hidcom untuk Android Sekarang juga !

Sebarkan :

Baca Juga

Umroh Akbar Arifin Ilham

Gedung PPH