Ragam
Dompet Dakwah Media

10 Negara Islam yang Dijajah Inggris

10 Negara Islam yang Dijajah Inggris
https://www.shenaliwaduge.com/

Hidayatullah.com | TENTU di dunia ini hampir tak ada seorang pun yang tidak mengenal Inggris. Negara yang dipimpin oleh Ratu Elizabeth ini adalah salah satu negara dengan pengaruh yang luas. Hingga sekarang pun, di zaman modern, Inggris memimpin total 53 negara, 30% populasi manusia di dunia, di bawah persemakmurannya. Di antaranya adalah, Kanada, Australia, Selandia Baru, hingga Malaysia dan Brunei. Inggris juga dikenal sebagai ibunegara bagi Brittania Raya atau United Kingdom, monarki konstitusional yang beranggotakan empat negara di bawah pimpinan Ratu Elizabeth. Tiga negara lainnya adalah Skotlandia, Irlandia Utara dan Wales.

Bagi banyak orang, Inggris adalah ‘dream land’, negara impian sebagai tujuan studi, wisata, maupun tempat penghidupan. Yang tak banyak orang menyadari maupun acuhkan, Inggris merupakan sebuah bangsa dan negara yang membangun kejayaannya di atas kolonialisasi berabad-abad lamanya. Inggris bersaing dengan berbagai negara Eropa lainnya, pernah menjajah dan mengkploitasi hampir 90% teritori di muka bumi. Di antara negara-negara tersebut adalah negara-negara Islam. Berikut 10 negara yang pernah dijajah oleh Inggris:

  1. Moghul (‘India’-Pakistan-Bangladesh)

Awal mula penjajahan Inggris dimulai dari perniagaan yang mereka jalankan di Moghul, kerajaan Islam yang meliputi India-Pakistan-Bangladesh pada abad 18. Pedagang Inggris pada saat itu menjalin hubungan niaga dengan orang-orang Bengal, yang terdiri dari Muslim dan Hindu. Walau begitu, fase ini dikenal oleh para aktivis sebagai fase “pemerasan rakyat Bengal”, karena kedatangan Inggris telah secara permanen merusak perekonomian Bengal yang dulunya bertumpu pada agrikultur menjadi produsen material mentah demi kepentingan industrial Inggris, yang saat itu telah menemukan mesin uap.

Kemudian revolusi industri dan modernisasi besar-besaran dimulai, dan Inggris yang merasa superior pun mulai bersikap agresif. Fase berikutnya adalah penjajahan kolonial dan eksploitasi besar-besaran melalui kongsi dagang East India Company. Perusahaan ini kemudian membuka jalan bagi ekspansi penjajahan Brittania Raya di Asia hingga tahun 1857. Kongsi dagang tersebut kemudian diambil alih oleh Kerajaan Inggris, dan India pun kemudian diatur oleh pemerintahan Inggris sepenuhnya, dengan Ratu Victoria yang memimpin wilayah ini.

Penduduk terjajah ini kemudian menderita kelaparan yang menyabar luas pada permulaan abad 19. Hal itu kemudian berujung pada Gerakan Kemerdekaan India dengan puncaknya berupa kemerdekaan bagi Pakistan dan India pada 14 dan 15 Agustus 1947. Bangladesh kemudian memisahkan diri dari Pakistan dan menjadi negara merdeka pada tahun 1972.

  1. Syam (Palestina-Yordania-Libanon-Suriah)

Selama Perang Dunia Pertama (1914-1818), pemberontakan Saudi dan Pasukan Ekspedisi Mesir Kerajaan Inggris di bawah Jenderal Edmund Allenby mengusir orang-orang Turki keluar dari Levant selama Kampanye Sinai dan Palestina. Inggris sebelumnya telah bersepakat dalam Koresponden McMahon-Hussein bahwa ia akan menghormati kemerdekaan bangsa Arab jika mereka bersedia melakuakan pemberontakan melawan Utsmani, tetapi Inggris kemudian mengkhianati kesepakatan tersebut. Dan pada akhirnya, Inggris dan Prancis membagi wilayah di bawah Sykes – Picot Agreement -, sebuah tindakan pengkhianatan yang biadab. Kemudian, sejarah mencatat dibelahnya Syam menjadi empat negara, Palestina, Suriah, Yordania, dan Libanon.

Kejahatan Inggris kemudian bertambah dengan janji public mereka untuk “rumah nasional bagi Yahudi di Palestina”. Apa yang kemudian dikenal sebagai Deklarasi Balfour, merujuk pada surat dari sekretaris luar negeri Inggris saat itu, Arthur Balfour, yang ditujukan kepada Lionel Walter Rothschild, seorang pemimpin boneka komunitas Yahudi Inggris. Surat itu dibuat saat Perang Dunia I (1914-1918) dan termasuk dalam syarat-syarat Mandat Inggris untuk Palestina setelah runtuhnya Kesultanan Utsmaniyyah. Dan sejak peristiwa Nakba pada tahun 1948 hingga kini, Palestina masih menderita di bawah penjajahan Zionis ‘Israel’. Yang terbaru, ‘Israel berencana memulai pencaplokan atas wilayah Tepi Barat Palestina pada 1 Juli mendatang.

  1. Afghanistan

Afghanistan adalah negara Islam kecil yang dihuni oleh berbagai suku di perbatasan pemerintahan India Britania waktu itu. Afghanistan telah melalui tiga periode perang melawan Inggris, pada tahun 1839, 1878, hingga 1919. Meskipun begitu ia tidak pernah benar-benar takluk dan menjadi jajahan Kerajaan Inggris yang sepenuhnya terintegrasi, Afghanistan akhirnya memperoleh kemerdekaan dari Inggris pada tahun 1919. Pada 1979, Afghanistan kembali diinvasi, kali ini oleh Uni Soviet, tapi semua orang tahu bagaimana hal itu berakhir.

  1. Malaysia

Inggris telah berusaha menjajah pulau Borneo pada awal 1771 tetapi tidak mendapatkan pijakan di Malaysia sampai 1786 ketika British East India Company membeli pulau Penang. Inggris mendapatkan kendali atas apa yang sekarang menjadi Malaysia ketika mereka mengusir Belanda pada 1795, dan seiring waktu melalui penaklukan dan kesepakatan yang dibuat dengan sultan. Inggris secara resmi menjadikan Malaysia koloni pada tahun 1867.

Menggunakan taktik memecah belah dan memerintah, Inggris mendorong persaingan antara berbagai kelompok etnis Malaysia dan antara para sultan. Pada awal kehadiran Inggris para sultan masih memegang banyak kekuasaan. Seiring berjalannya waktu kekuatan ini berkurang dan Inggris mengambil kendali penuh atas daratan.

Deklarasi Kemerdekaan Malaysia secara resmi diproklamasikan pada 31 Agustus 1957, oleh Tunku Abdul Rahman, Perdana Menteri pertama Federasi Malaysia.

  1. Brunei

Inggris telah melakukan intervensi dalam urusan Brunei pada beberapa kesempatan. Inggris menyerang Brunei pada Juli 1846 karena konflik internal tentang siapa yang menjadi Sultan yang sah. Kepedudukan rakyat Inggris diperkenalkan di Brunei berdasarkan Perjanjian Protokol Tambahan pada tahun 1906. Pada mulanya, orang-orang Inggris berada di bawah administrasi yang dipimpin oleh Sultan. Seiring waktu, Inggris pun mengambil alih kendali eksekutif lebih dari Sultan. Sistem kependudukan berakhir pada tahun 1959. Brunei memperoleh kemerdekaannya dari Inggris pada tanggal 1 Januari 1984.

  1. Mesir

Dari 1882-1914, Inggris menjajah Mesir dan menjadikannya sebagai daerah proktetorat terselubung, yang berarti bahwa Inggris menguasai sebagian besar Mesir tanpa otoritas hukum yang nyata. Dari 1914-1922, itu adalah protektorat formal, sampai Inggris menyatakan negara itu merdeka. Tetap saja, Inggris mempertahankan kehadiran yang kuat sampai Krisis Suez 1956.

  1. Kuwait

The Sheikhdom of Kuwait adalah Pemerintahan Syekh yang mendapat kebebasan dari Imarah Al-Hasa Al-Hasa Khalidi di bawah Sabah I bin Jaber pada tahun 1752. Pemerintahan Syekh menjadi protektorat Inggris antara 1899 dan 1961 setelah perjanjian Anglo-Kuwaiti tahun 1899 ditandatangani antara Sheikh Mubarak Al-Sabah dan pemerintah Inggris di India.

Penemuan minyak di Kuwait, pada 1938, merevolusi ekonomi Pemerintahan Syekh dan Inggris menjadikannya sebagai aset berharga. Pada tahun 1941, pada hari yang sama dengan invasi Jerman ke Uni Soviet (22 Juni) Inggris mengambil kendali penuh atas Irak dan Kuwait. Walaupun telah merdeka, Kuwait terus berada di bawah kungkungan Inggris sebagai daerah protektorat hingga berakhir pada 1961.

  1. Irak

Inggris membentuk rezim kolonial di Irak setelah merebutnya dari Turki Utsmani pada kampanye militer yang panjang selama Perang Dunia I. Inggris diberikan mandat oleh Liga Bangsa-Bangsa untuk memerintah negara itu pada tahun 1920. Sebuah monarki Hashemite diorganisasi di bawah kekuasaan Inggris pada tahun 1921.

Sebagai tanggapan terhadap perlawanan Irak, termasuk perlawanan di seluruh negeri pada tahun 1920. Pasukan Inggris bersikeras selama lebih dari satu dekade untuk menghancurkan perlawanan negara itu, menggunakan pesawat terbang, mobil lapis baja , bom api dan gas mustard. Pada 3 Oktober 1932, Irak akhirnya memperoleh kemerdekaan.

  1. Sudan

Pada tahun 1890-an, pasukan Inggris menyerbu Sudan yang berada di bawah pimpinan Mahdi. Membawanya di bawah kendali mereka, memaksakan kebijakan mereka, dan mengisi jabatan administratif tertinggi dengan pejabat-pejabat Inggris.

Setelah Perang Dunia I, gerakan perlawanan kemerdekaan di Sudan mulai berkobar. Sadar bahwa Inggris tidak bisa menekan keinginan Sudan untuk merdeka, penjajah Inggris menandatangani perjanjian pada tahun 1953 yang membuahkan pemerintahan sendiri bagi negara Sudan.

  1. Tanzania

Negara Danau Besar Afrika, Tanzania, berdiri pada tahun 1964 secara resmi. Terbentuk dari persatuan wilayah daratan yang jauh lebih besar di Tanganyika dan kepulauan pesisir Zanzibar. Awalnya ia adalah koloni dan bagian dari Afrika Timur Jerman dari tahun 1880 hingga 1919 ketika, di bawah Liga Bangsa-Bangsa, ia menjadi mandat Inggris. Negara ini difungsikan sebagai pos militer Inggris selama Perang Dunia II, menyediakan bantuan keuangan, amunisi, dan tentara.

Pada tahun 1947, Tanganyika menjadi wilayah yang diakui Perserikatan Bangsa-Bangsa di bawah kungkungan Inggris, status yang dijaga sampai kemerdekaannya pada tahun 1961. Pulau Zanzibar berkembang sebagai pusat perdagangan, berturut-turut dikendalikan oleh Portugis, Kesultanan Oman, dan kemudian oleh Inggris sebagai daerah protektorat pada akhir abad kesembilan belas.*

Rep: Fida A.

Editor: Rofi' Munawwar

Dukung Kami, Agar kami dapat terus mengabarkan kebaikan Lebih lanjut, Klik Dompet Dakwah Media Sekarang!

Update aplikasi Hidcom untuk Android Sekarang juga !

Sebarkan :

Baca Juga

Rumah Wakaf

Rumah Wakaf